topbella

Senin, 29 Juni 2015

Huruf yang Hilang

Mencari huruf tersusun rapih
Yakin dia ada diantaranya
hanya mungkin belum sempat menyusunnya.
Ada, mungkin sedang sibuk menyusun kalimat
agar bermanfaat nantinya
Namun kemana huruf itu pergi?
Mengapa tak terlihat?
Jujur disini ada yang menunggu,
Menunggu huruf menjadi kalimat indah.
Yang disebut aksara itu selalu dirindukan,
sebagai penyejuk hati dan penggugah jiwa

Minggu, 21 Juni 2015

Keranda Kematian

Langkah kaki berlalu lalang
Pandangan bermanja - manja memandang yang bukan hak
Pendengaran mulai mengelana
hati mengeras, sementara fikir berkeliaran
Lengan berpangku tangan
uacapan.....
Ah sudahlah....
Aku takut banyak bercerita.
sebab semua apa yang kukatan,
harus dipertanggungjawabkan

Belakangan ini  malam selalu menegurku
di bengkel hati!!!
di sana ada banyak asesoris
selalu mengingatkan ku terhadap-Nya
Mulai dari alas tempat bersujud
Kumpulan firmanNya
hiasan jendela surga
sampai.....
Keranda kematian

Tuhan.....
kuselipkan rindu
meski ada takut yang medidih
air mata yang tertahan
sesak yang sakit teramat sakit
susunan kata tak beraturan
fikir yang kalut
debaran yang kian mengguncang perasaan

Ialah keranda kematian
Alaram jiwa ketika hidup akan usai
mengalahkan  kecintaan pada dunia
bertengger santai di depan mata
sementara tak tahu kapan....
tau tahu,
kapan aku kan ada disana
menunggu giliran
menjadi pemumpangnya









Malu pada Rasul, hewan dan tumbuhan

Seperti kemarin, ini adalah kali ke empat kaki melangkah ke Mesjid untuk melaksanakan shalat tarawih. Setelah melaksakan shalat isya berjama'ah tiba saatnya mendengarkan tausiah yang kebetulan bertema " Meningkatkan Kualitas Diri Dengan Berpuasa". Hal baru yang aku ketahui adalah, ternyata puasa tidak hanya dilakukan oleh manusia. Akan tetapi juga di lakukan oleh hewan dan tumbuhan. Sebagai contohnya ular, ayam, kupu-kupu dan pohon. 

Ular, berpuasa saat mengganti kulitnya, tidak meninggalkan tempatnya selama satu sampai dua pekan. Setelah tidak makan dalam kurun waktu lama, ular akan mendapatkan kulit yang lebih baik, lebih segar dan kembali bergerak lincah, itu menendakan bahwa puasa juga menjadikan tubuh lebih sehat setelah menjalaninya.

Ayam berpuasa ketika mengerami telur, tidak makan dan juga minum. Saat puasa suhu tubuh ayam panas, sehingga telur yang dierami lekas menetas dan melahirkan anak.

Begitupula dengan kupu-kupu. Sebelum bermetamorfosis, awlanya kupu-kupu adalah seekor ulat yang sangat menjijikan. Tak ada seorangpun yang menyukainya. Bahkan ulat selalu dianggap sebagai parasit bagi tumbuhan. Namun ada masa ketika ulat tersebut berpuasa dalam kantungnya yang kita kenal sebagai kepompong. Ulat berpuasa selama 20 hari, menahan lapar dan haus. Sebelum akhirnya keluar sebagai makhluk indah nan rupawan bernama kupu-kupu. Sebutan parasit tak lagi menyandang. Malah kupu-kupu dianggap sebagai pembantu penyerbukan antara bunga satu dengan bunga lainnya, sehingga timbullah sebutan simbiosis mutualisme. Tidak hanya itu, kupu-kupu pun menjadi hewan yang sangat disukai karena keindahannya.

Adapun pohon angsana, berpuasa ketika daun-daunannya meranggas atau berguguran di tanah. Setelah itu, kembali kuncup dengan daun yang lebih hijau.

Jika semua hal tersebut dapat dilakukan oleh hewan atau tumbuhan, bagaimana dengan kita yang disebut makhluk Allah paling sempurna dibanding dengan makhluk lain???? Bagaimana jika tak berpuasa? Padahal hukum dari puasa Ramadhan itu sendiri sudah jelas. WAJIB!!! Namun masih ada saja yang tidak berpuasa.

Sementara di masa yang silam, pada zaman Rasulullah di ceritakan bahwa suatu ketika Rasulullah duduk terdian dan hanyut dalam lamunnya di bawah sebuah pohon. Allah swt, mengirim Malaikat Jibril untuk menemui Rasulullah. Kemudian Malaikat Jibril berkata " Wahai Kekasih Allah, apa sebenarnya yang mengganggu dan membuatmu gelisah? Apa Engkau menginginkan pangkat? Jika iya, katakan ya Rasul! Akan kusampaikan kepada Allah swt, agar Engkau menjadi penguasa di jagat raya ini."

Rasulullah hanya menjawab "TIDAK."

Kemudian, Malaikat Jibril bertanya lagi. " Kalau begitu apa ya Rasull yang membuatmu gelisah? Apa Engkau menginginkan harta yang banyak? Kalau Engkau  menginginkannya akan aku sampaikan kepada Allah swt. Maka, dengan sekejab saja Allah swt akan memberikannya."

Rasullulah menjawab dengan jawaban yang sama. "TIDAK."

"Lalu apa ya Rasullulah?" Apa Engkau menginginkan banyak wanita untuk bersamamu? JIka Engkau Mau, pun akan kusampaikan kepada Allah swt, agar memberimu wanita cantik atau bahkan bidadari untuk bersamamu."

Dan lagi -lagi Rasul menjawab "TIDAK."

" Baiklah Wahai kekasih Allah, kalau begitu katakan padaku apa yang membuatmu gelisah?"

Rasulullah menjawab "Ummatku. Bagaimana dengan ummat ku ketika aku telah tiada? Sementara ummatku memiliki usia yang pendek. Berbeda dengan ummat Nabi Adam As yang usianya bisa mencapai dua ribu tahun. Lalu, bagaimana dengan ummatku? Dengan usia yang pendek bagaimana bisa ummatku berbuat banyak kebaikan?

Jibril berusaha menenangkan hati Rasullulah dan menjawab "Untuk itulah hadir bulan penuh keberkahan. Bulan dimana segala amal ibadah dilipatgandakan. Bulan pengampunan, bulan dimana di turnkan Al Qur'an dan bulan yang terdapat malam Laitaul Qadar. Bulan Ramadhan namaya." Rasullulah bersedih kala itu, hanya memikirkan ummatnya. Membandingkan dengan ummat Nabi Adam as, Nabi Musa as, dan Nabi Ibrahim as. Begitu besarnya cinta Rasullulah kepada kita selaku ummatnya. Sampai Ia berdo'a kepada Allah swt agar kita mendapatkan kesempatan berbuat banyak kebaikan, keberkahan, pengampunan ketika usia kita tak sepanjang ummat Nabi yang lain. Sementara hewan dan tumbuhan turut berpuasa. Begitu patuhnya hewan serta tumbuhan kepada Allah swt yang Maha Mencintai Makhluknya.

Pertanyaannya adalah......
Bagaimana ingin meningkatkan kualitas diri jika tak berpuasa? Melakukannyapun selalu beralasan. Alasan apa lagi yang membuat kita untuk tidak berpuasa? Apalagi hal yang membuatmu enggan berpuasa?

Jwabnya : "Tidak Ada."





Prolog tak berbalas

Wahai jiwa yang tenang...
Mengapa nurana tak lagi berlogika?
Pada prahara yang terjadi.
Berjalan tanpa tujuan,
menentang matahari
tanpa alas kaki,
Sampai darah menjadi biasa,
nanahpun tak lagi terasa


Saat ini adalah aku
Biarkan aku menikmati setiap nafas yang masih berhembus
Acuh!!!
Apa pedulinya aku?
Tak lagi harta menjadi beban,
Apalagi jabatan,
Belum lagi wanita!!
Ah sudahlah........


Biarkan aku begini
Menikmati setiap prolog
Sampai aku benar-benar lelah
Dan terkulai lemas tak berdaya
Hilang sudah pernyataan tentang "MALU"
Siapa yang peduli itu??
Jiwaku meronta,
Semua mengabaikanku,
Malah, banyak orang mentertawakanku!!
Pandangan sinis, sudah biasa.
Cemoohan orang, hal biasa!!
Apa peduliku tentang semua itu?
Aku begini!!!
Jangan lagi hiraukan tentangku!!
Aku bahagia seperti ini
menikmati sisa hidup bersama prolog tanpa balas



Bogor, 13 Maret 2016

Kamis, 18 Juni 2015

Jeritan Rindu

Malam merindu,
dengan cinta yang teduh
sementara hati di dera kisruh
ada klise yang masih baik kiranya
tentang......
perasaan rindu!!!
Perasaan rindu di cerita pertama
yang memaksa harus jujur
kantung mata yang mulai membesar
hitam manis yang mulai legam
terik yang tak berpihak
sepatu jendral yang masih lusuh
hitam yang mulai memutih
itu yang pertama

Kedua.....
semua yang tak mampu ku urai masih banyak
meski dengan ucap yang tak berujar
Lalu, ingin kuterangkan jeritan rindu yang bergelombang
berdo'a mengejar isyarat hati.
Menjelaskan bahwa cinta itu benar adanya
Hingga daku tak ingin berlari jauh
apalagi sampai benar - benar jauh
Jikalau itu terjadi,
maka suatu saat nanti daku kan kembali
meski harus terseok - seok

 Sekali lagi aku terangkan pada malam,
pada teriknya surya,
dan senja.....
bahwa aku mencintainya dengan tulus
Tak wajar rasanya mencinta tak dibalas cinta
sebab manusia hanya dapat mencinta dalam diam












Masih Mencintaimu,,

Dimana keadaan sudah tak seperti dulu
Dimana cinta sudah tak mudah untuk dibaca karna jarak 
Melanglang buana.
Berkelana.
Berjarak jauh.
Berjenjang waktu yang tak singkat
Tak tentu kapan waktu akan itu..
Sabarlah jika ada yang ternanti entah tidak di hati
Di seberang pulau aku sedang terjatuh dan terbangun untuk mengembalikan kepercayaanmu sebagai bukti baktiku padamu.
Rindu aku pasti.
Namun ucapan bukanlah bukti
Aku masih mencintaimu
sama seperti dulu aku tinggalkan
Harapku ada dalam do'amu jika kiranya ada sudi di hati
Tunggu dia yang dinanti entah tidak
Akan datang dengan cintanya untukmu.
Rindukan aku seperti aku merindukanmu
Meski tak ada ikatan bathin selayaknya.
Tapi aku mau, aku masih.
Masih sama seperti yang dulu 

Sajak Itu......

Perjalanan singkat tak bermuara
Sampai tak tau kapan berakhir
Dan kemana akan bermuara
Sedu sedan aku menahan
Tak ingin berlebihan
Namun terjadi begitu saja
Sajak yang sempat kurangkai
Berhamburan di terpa masa
Ingin berbalik mengutipnya
Tapi Sia sia tampaknya
Ketika kuraih satu demi satu
Ku mulai menyusunnya
Dengan harap rangkain sajak itu dapat mengetuk hati yang hilang
Saduran rasa dan kata menjadi jiwa akannya
Datanglah walau sejenak
Kita susun sajak itu menjadi indah
Menjadi tulisan yang penuh makna
Hingga akhirnya orang lainpun turut
Bersama kita dalam satu cerita

Nanti

Suatu saat nanti
Jika waktu itu tiba,
Baru aku akan melepasnya
Membiarkannya tenggelam sampai ke palung terdalam
Hingga tak ada satu pun yang dapat menemukannya

Begitupula aku,
Yang masih tampak gelisah
Karna kenyataan
Aku hampir saja menyelesaikan cerita itu
Hanya saja belum yakin bagaimana akhirnya

Rabb....
Bantu aku menyelesaikannya
Agar aku dapat menulis cerita baru
Bantu pula aku menulisnya dengan ikhlas dan sabar
Karna aku ingin berhenti di titik
Dan memulainya di lembar putih baru yang Engkau siapkan
Bukankah, Engkau meyeruku agar tak pernah putus asa?
Maka, aku pinta itu.
agar aku tak lelah dan selalu bersabar
Bukankah, Engkau meyeruku datang pada-Mu tersebab air mata yang Engkau rindu?
Maka, aku ingin rasa rindu itu tetap ada.
Sebab nanti adalah pasti untukku, dan itu atas kehendak-MU



Bogor, 11 Maret 2016

Pelangi Indah

Sorot tajam yang menikam hati,
sedikitpun tak memberi ruang untuk buliran air mata
Namun mendungnya hati tetap memberi isyarat
bahwa pelik tak jua membebaskan hati dari belenggu ini
mendung,
hitam,
kelam...
menandakan hujan akan turun
sehitamnya awan tak pernah berjanji
seberapa banyak rintik yang kan turun
tak satupun yang mampu menghitung setiap tetesnya
yang pasti adalah...
pelangi indah akan datang ketika semua usai.
Begitu.


Medan, 2015

Tentang Ibu

Banyak kata yang berkecamuk menemani diam
Namun hanya sebatas itu
kabar yang datang susul menyusul
seakan menegur dengan amat sangat keras
Sementara, dilain sisi ibu terlalu serius dengan kabar tersebut
sampai mempersiapkan segala sesuatunya dengan rapih
dan tak ada yang mengetahuinya
ialah pesan kematian yang begitu sakit
ketika hati di seru untuk kuat
Sesak!!!!
Ingin menangis sejadi-jadinya,
sekuat - kuatnya,
Tapi itu bukan inginnya.
Ingin sekali bercerita banyak
Pergi kesana kemari
memberi bahagia untuknya
tidak hanya di dunia tapi sampai waktu terindah itu
dimana jika Allah berkehendak mempertemukan kami
itu hanya sepotong obrolan dalam diam
karna tak sanggup untuk di ucapkan
karna terlalu sesak
sekali lagi sesak
Terkenang semua amanahnya
untuk menjadi wanita yang kuat
sabar dalam menghadapi hidup
menjadi wanita dewasa yang bijaksana
selalu belajar dari kesalahan
selalu sabar meski dihujat
berbuat baik pada semua orang
taat, patuh sopan santun terhadap semua orang
siapa tak bangga memilikinya
siapa tak bahagia
siapa???
Semua orang bangga mengenalnya
memilikinya, apalagi bersamanya
begitu juga aku!!!!
Tak perhah habis diamku mengaguminya
menjadikannya panutan muslimah dalam hidupku
sebab dialah......
semua tentangnya.

Kembali

Aku cemburu,
pada gelombang yang selau merindukan tepi.
Walau bermain di samudra luas, 
tetap tak akan lupa menepi
terhempas keras,
terombang ambing,
tetap akan berkejaran menuju tepi
selayaknya diri....
sejauh kaki melangkah,
tetap akan kembali kepada-Nya

Jakarta, 22 April 2015

Shalat Berjama'ah

" Yuk kita shalat dik. Tapi kita ambil air wudhu dulu ya" ucapaku sambil mengajaknya menuju kamar mandi.
"Setelah itu, kita shalat. Adik ikutin kakak ya".

Kemudian kita berdua shalat, dan aku menjadi imamnya. Sewaktu membaca surah Al Fatiha kubaca dengan suara agak sedikit keras. Tanpa kusadari, diapun mengikutiku. Lupa kiranya kuingatkan adik untuk mengikuti setiap surah dalam hati. Sambil mengikuti bacaan tersebut dia bercermin dengan mukena kuningnya 
smile emotikon

Lucu rasanya. Tapi tak mengapa. Yang penting dia sudah mau ikut shalat. Meskipun belum hafal apa yang harus dibaca.
Uniknya cara mengajar anak-anak yang butuh kesabaran. Asyik. Butuh tantangan. Tapi juga menguras emosi. Semoga bisa belajar menjadi kakak yang baik dan belajar menjadi ibu seperti mama. Yang selalu sabar mendidik anak-anaknya. Tak pernah lelah menasehati, membimbing dan mengarahkan kami kala berbuat salah. Love you, and miss you always mom.

Menunggu

Sampai saat ini masih menunggu
menunggu malam berakhir
nenanti pagi datang 
kemudian senja 
Dan...
masih seperti kemarin,
membiarkan hati tetap bicara pada sunyi 
berdialog dengan diam
memberi isyarat bahwa saat ini masih sama seperti kemarin
masih menunggu
meski harus bergelut melawan waktu

Medan, 2015

Minggu, 14 Juni 2015

Jum'at Berkah

"Assalamualaikum."
Terdengar suara dari luar. Aku pun langsung turun dari atas untuk segera membukakan pintu. Ternyata adik laki-lakiku baru saja pulang dari sekolah. Sambil membuka pakaian dia langsung merebahkan diri di sofa.
"Mas, ayo siap-siap buat shalat Jum'at," ujarku.
"Iya, Mbak ... bentar lagi,".
"Mas, kalau datang shalat Jum'at lebih awal
akan mendapat pahala yang berlipat ganda," sahutku kembali.
Dia masih saja tak menghiraukan. Dia lebih memilih untuk tetap tiduran di sofa sambil menonton televisi. Hatiku hanya ingin adikku menjadi lelaki yang ta'at. Sehingga tak lelah rasanya jika sedikit memaksanya untuk segera menunaikan salat Ju'mat. Lagipula datang ke mesjid lebih awal kan, lebih baik. Datang ke mesjid lebih awal juga merupakan perbuatan yang utama bagi laki-laki yang akan menunaikan shalat jamaah Jumat. Sebagaimana sebuah hadist yang menyebutkan, dari Abu Hurairah berkata, Rasulullah SAW
bersabda:
Pada hari Jumat di setiap pintu masjid ada beberapa malaikat yang mencatat satu persatu orang yang hadir sholat jumat sesuai dengan kualitas kedudukannya. Apabila imam datang atau telah naik mimbar, maka para malaikat itu menutup lembaran catatan tersebutlalu mereka bersiap-siap mendengarkan khotbah sholat Jumat. Orang yang datang lebih awal diumpamakan seperti orang yang berqurban seekor unta gemuk, orang yang datang berikutnya seperti yang berqurban sapi dan orang yang datang berikutnya seperti orang yang berqurban kambing. Yang datang selanjutnya seperti orang yang bersedekah seekor ayam dan berikutnya yang terakhir seperti orang yang bersedekah dengan sebutir telur. (HR. Bukhori).

Tak lama kemudian, aku mulai memanggilnya. "Mas, ayo cepetan. Mau shalat jum'at enggak?"
"Iya Mbak, Mas berangkatnya nanti saja. Kalau sudah adzan," jawabnya.
"Loh kok begitu? Emang kenapa"? tanyaku bertubi-tubi.

Akhirnya dia pun merasa risih dengan teguranku dan menjawabnya dengan nada yang agak sedikit
keras. "Mas suka menangis kalau dengerin ceramahnya Mbak. Makanya Mas Uta maunya
langsung shalat aja."
"Mas Uta tahu gak, kenapa Mas Uta menangis?" tanyaku pelan sambil tersenyum.
"Gak tahu Mbak."

"Itu karena hati Mas terlalu lembut. Makanya tersentuh hatinya kalau denger ceramah."

Dia hanya diam setelah mendengar ucapanku. Tak lama kemudian dia pun bergegas ke mesjid
dan berpamitan. Do'aku untuknya agar selalu menjadi anak yang sholeh untuk mama dan papa. Menjadi imam jika papa sedang tak berada di rumah.

Jumat, 12 Juni 2015

Tak Ada Yang Tak Berakhir

Agaknya matahari pagi ini malu bercerita tentang malam yang berlalu kelam. Sehingga pagi ini sendu, diawali dengan rintik hujan. Memecah keheningan. Memaksa mata terbuka dan senyum menyambut pagi datang. Kumulai beranjak.

Hari ini, ku ulangi perjalanan itu untuk yang ke sekian kalinya. Menikmati setiap langkah dengan kuat. Sebenarnya ingin berlari kencang namun ternyata aku sudah lelah. Sampai akhirnya harus berjalan menyusurinya dengan tertatih – tatih. Tak mengapa. Karena seharusnya memang begitu. Aku mengerti, untuk sebuah keberhasilan maka ada proses sulit yang harus dijalani. Dan ini adalah proses itu. Ku sudahi berbicara pada diam.

Langkah pertama membuka pintu gerbang sekolah tempatku menimba ilmu kala itu. Ku lihat sudah banyak yang berubah. Ku perhatikan pintu sekolahku yang sudah baru. Begitupun dinding – dindingnya yang tak lagi terbuat dari papan. Bangga rasanya bisa menginjakkan kaki lagi di tempat ini. Kuberanikan diri memasuki ruang guru.

“Assalamualaikum.”
“Wa’alaikumsalam…”
“Eh ada tamu, sini nak. Silahkan duduk.”
“Terima kasih, Bu.”
“Apa kabarnya nak?”
“Ahamdulillah kabarnya baik, Bu.”
“Gimana kuliahnya? Sudah selesai belum nak?”
“Alhamdulillah sudah, Bu”, ujarku.

Tak menyangka, ternyata guru-guru masih mengenaliku. Senang rasanya bisa bertemu dengan para pahlawan itu. Pahlawan tanpa tanda jasa. Setelah bicara panjang lebar, dan aku berpamitan pulang. Memang tak begitu ada yang spesial dari pertemuanku hari ini. Tapi ada satu pesan yang disampaikan salah seorang guru kepadaku hari ini.

“Di dunia ini tak ada yang tak akan berakhir nak, semua akan berakhir. Jika hidup sejatinya berakhir dengan kematian, begitupula dengan hal yang lain. Kesenangan, kesedihan, kejayaan, kemiskinan semua akan berakhir. Maka jangan pernah takut menghadapi kehidupan. Jadikan perihal sabar tetap tinggal di hatimu. Jangan pernah tanam bibit kebencian pada siapapun, jadilah pribadi yang pemaaf. ” ujarnya sambil mengantarku ke depan pintu dan kemudian memelukku.
“ Iya bu, pesan ibu akan saya ingat”. 

NAMAKU LUSIANA

Entah bagaimana keadaannya saat itu, aku tak bisa membayangkannya. Ingin menerka keadaan, tapi tak ingin menjadikannya hanya bayang. Sebab daya tak mungkin mampu untuk membaca keadaan tanpa sosok lain yang pada saat itu ada.

Layaknya aku, dengan yang lain adalah membuat perjanjian denganNya Sang Pencipta tentang jalan hidup ketika akan berjuang di dunia. Tak mampu nalarku berbicara tentang ini. Karna tak kan pernah terjawab dengan akal pikir yang manusiawi. Sebelum akhirnya aku harus terlahir ke dunia.


Bait pertama tentang awal cerita hidup yang harus kumulai. Terlahir sebagai putri cantik dari pasangan siapa dan dimana. Dari ayah siapa dan ibu siapa. Memiliki keluarga yang cukup saat itu mungkin benar. Limpahan kasih sayang yang tak henti apa benar adanya kuterima. Aku hanya hanya seorang bayi kecil yang tak berdaya. Yang tak mampu membaca keadaan. Yang aku tahu menangis jika lapar, menangis jika haus, menagis jika ingin mandi, managis jika panas karna hanya itu kebisaanku. Menangis, menagis, menangis, dan menangis. Bahkan tangisan itu juga mengawalku untuk pertama kalinya melihat dunia.

Bayi cantik itu bernama Lusiana. "Apa artinya? Mengapa harus Lusiana? Kenapa?"
Akan percuma saja jika semua itu aku pertanyakan. Mungkin tak ada satupun yang mampu menjawabnya. Kecuali ayah dan ibu itu yang menghadiakan nama tersebut.

Banyak pertanyaan muncul ketika aku harus membuka kembali lembaran masa lalu itu.
"Diamana mereka sekarang?" Apa masih ingat jika pernah menghadiahkan nama itu untukku.
"Sedang apa mereka, bagaimana rupa wajahnya saat ini yang tak mampu ingatanku untuk mengenangnya."

Ya Rabb........
Aku tahu, terlahir di dunia adalah kehendakMu. Semua rencanaMu. Aku hanya menjalani atas KehendakMu. Jika dulu aku suci dan lahir dari rahim yang tak Islam maka itu skenariomu. Dan jika sampai saat ini aku memeluk agama kesempurnaaMu, itu juga atas kehendakMu. Semua karnaMu. Aku tak menyalahkan waktu apalagi takdir. Aku hanya ingin berjuang untuk matiku kelak.
"Apa masih bisa kuuraikan angan yang mengenang kejadian waktu itu. Meski hanya sedikit?bAku bisa, maka akan kuurai bait demi bait tentang cerita itu. Agar nantinya abadi."

Kamis, 11 Juni 2015

Kasih Sayang Yang Abadi



Hari ini kakiku seakan lelah untuk berjalan. Menapaki jalan setapak yang penuh dengan kenangan masa lalu. Mengamati satu persatu tata letak rumah demi rumah. Mengais rekam jejak kaki di masa itu. Setidaknya menikmati setiap perjalanan dengan ikhlas. Bersiap diri untuk menjawab setiap pertanyaan yang dilayangkan kala bersua. Memulai percakapan dengan tangis. Aku tersenyum. Sebab air mataku telah habis untuk sebuah luka. Lukaku kering, dan sedikit lagi akan sembuh. Hanya luka itu meninggalkan bekas. Terima kasih luka yang mengajarkanku arti perjuangan. Yang sampai saat ini masih harus berjuang. Ku harap luka itu terabaikan dengan segudang kasih sayang yang kudapatkan. Aku kuat. Aku tegar karena kasih sayang itu. Bersyukur atas semua itu. Setidaknya luka dan kasih sayang berjalan berdampingan, menemani seriap perjalanan. Pelukan hangat yang selalu akan di rindukanpun menambah kekuatanku untuk terus berjalan. Kasih sayang itu alasanku untuk tak nggores luka baru. Setidaknya aku ingin menjadi pengobat kala ada yang terluka.

Selasa, 09 Juni 2015

Semua Karena Cinta

Semua Karena Cinta


Di sempitnya ruang hati,
Besarnya egoisme,
Besarnya amarah,
Hanya satu yang dapat mengalahkannya.
Cinta.....

Tak berani keutarakan bagaimana sebenarnya
Tapi itu adalah peristiwa yang menyakitkan
Sampai, tak dapat hilang dari ingatan.
Membekas di diri
Tapi semua itu akan terobati.
Cinta....
Iya!
Cinta yang tulus

Tak perlu amarah!
Kagusaran yang mengutuk!
Apalagi cacian menyayat hayi!
Lakukan dengan cinta!
Karena Dia mencintai dengan cinta-Nya yang begitu besar.

"Sesungguhnya, ada dua hal pada dirimu yang dicintai oleh Allah, yaitu lemah lembut dan tidak mudah marah." (HR. Muslim).

Senin, 08 Juni 2015

Aku Malu

Aku malu pada perasaanku,
mengharapkan sesuatu tanpa berbuat
Aku malu pada cintaku
Mengharapkan cinta tapi belum cukup besar nyatanya cintaku padaNya
Aku malu....
Kemanusiaan yang wajar tapi berdosa
Wahai malaikat penjaga hati...
Bentuk hatiku agar senantiasa kuat mencintaiNya
Kuatkan hatiku agar selalu menjaga harga diri
dan kehormatan layaknya wanita muslimah sholeha
Aku masih jauh dari kesholehan
Aku masih jauh dari baik
Aku kalah oleh hawa nafsuku
Jika penjara hati adalah tepat untukku
Maka, aku ikhlas menempatinya

Ya Rabb.....
Tak pantas aku meminta imam yang sholeh untuk menuntunku
Sementara aku masih jauh dari mencintaiMu
Ajari aku untuk menjadi sholeha
Ajari aku menjadi perhiasan dunia
Ajari aku menetapkan hatiku untukMu
Ajari aku menjadi baik
Agar aku merasa pantas meminta dia yang sholeh untukku
Bukankah janjiMu mempertemukan yang baik dengan yang baik,
Aku ingin menjadi yang baik itu
Kabulkan ya Rabb....
Aamiin.....




*emy*

My Memory In Love

Tak pernah tau apa yang terjadi
Tak pernah tau kenapa terjadi
Mengapa terjadi dan mengapa???
Beribu pertanyaan muncul di benakQ
Cinta itu yang  memaksaQ untuk merasakannya
Padahal ia tau ini tak pantas
Terkadang aku bingung dengan perasaanQ
Hanya bisa meluapkan emosi2Q lewat tulisan ini
Ingin teriak dan mengatakan
 bahwa akulah pelakunya
namun tak bisa……………
Qtelah lelah dengan semua yang ada,
Hingga dadaku terasa sesak menahannya
Biarlah semua tersimpan rapat di balik hatiQ
Aku kan berdo’a untukmu yang menggangu hatiQ
Semoga semua cepat berakhir……
Walaupun harus menguras air mata
Ingin ku ucapkan terima kasih pada cinta yang menyapaQ
Dan ingin kukatakan pada malam
 Bahwa aku bahagia pernah bersamanya,,

Jadikan Aku

Semoga anganmu merindukanQ yang telah lama pergi
Ampuni aku yang telah lupa kepadaMu
Ya Rabb………..
Aku hanya memohon kepadaMu
Agar Engkau berikan hamba seorang sahabat
Seorang sahabat yang dapat bimbing hamba
Seorang sahabat yang dapat membawaQ menuju jalan syurgamu
Luasnya laut tak seberapa dibanding dengan kasih sayangMu
Olehnya Q akan kuat bersama kasih sayangMU
Jadikan hamba seorang yang memiliki kasih terhadap sesamanya
Jadikan hamba seorang yang pemaaf
Jadikan hamba seorang yang kuat dan selalu tersenyum
Jadikan hamba seorang yang mulia hatinya
Amin ya Rabb…………….

Mengapa Aku Lupa

Kegelisahaan hati sedang marajai
sedang dipersimpangan ada dua arah berlawanan
jalan mana yang harus aku tempuh untuk menjalani kehidupan,,.....
agarQ tak tersesat ditengah perjalanan
Ya Rabb.......
Qsudah tak tau harus berkata apa,,
Mungkin mengadu pada RabbQ adalah yang harus aku lakukan
Dunia hanya sementara…..
Kenapa aku lupa???
Padahal aku sudah lalai padaNya
Ya Rabb,,
Qhanya berharap
semua kepenatan dan kejenuhan ini dapat segera hilang
Panggil aku kembali dalam hangatnya kasih sayangMu
Pegang tanganQ agar aku tidak terjatuh dalam kesenangan dunia
Tuntunlah aku pada jalan yang benar
Jalan dimana yang akan memebawaku ke suatu tempat 
untukQ temukan kebahagiaan yang tak ternilai adalah bahagia dunia dan akhirat.....

Rahasia

15 Mei 1990

        Hari itu adalah hari yang akupun tak tau hari apa. Tertulis menjadi identitasku. Entah siapa yang mendapatkan ide untuk menjadikan itu sebagai identitasku. Apa dasarnya, akupun tak tau. Semua sudah melekat menjadi dan orang lainpun banyak tau hal itu. Enten Miwayani adalah namaku. Aku biasa dipanggil enten atau yani oleh teman – temanku. Enten adalah bahasa jawa halus yang artinya ada. Miwa berarti minggu wage dengan keindahan dan keistimewaannya. Yani sendiri memiliki arti jiwa atau diriku sendiri. Jadi arti dariEnten Miwayani adalah Adanya aku dalam keuarga pada hari minggu wage dengan keindahan atau keistimewaan yang melekat pada jiwa atau diriku. Dan semoga sampai kapanpun aku berharap arti nama tersebut dapat menjadi berkah yang kemudian menjadi istimewa ketika aku berada dimana saja. Aamiin……..
Begitulah harapku dalam sebait do’a. Pemberian sebuah nama selesai sampai di situ, dan perjalanan hidup baru akan dimulai. Pada dasarnya aku sama seperti gadis kecil lainnya yang ingin bermain bersama teman yang lain. Tapi itu tidak terjadi padaku. Aku banyak menghabiskan waktu untuk bermain dan belajar dirumah. Aku tak pernah tau, mengapa aku merasa berbeda dengan anak – anak sebayaku. Untuk bermain saja aku harus diam diam pergi dan bersembunyi. Dan jika kemudian pulang ke rumah, aku sudah ditunggu dengan amarah ibu yang menakutkan. Aku memang agak sedikit nakal. Tapi aku tak pernah tau mengapa ibu bisa menjadi seperti itu. Yang aku tau ibu adalah sosok wanita yang penuh dengan kasih sayang dan kelembutan. Tapi tidak dengan ibuku, menurutku itu adalah hal yang aneh. Dan merutku itu adalah hal yang janggal.Berawal dari pembicaraan yang pada saat itu senja. Aku duduk disamping seorang wanita tua yang berusia ± 72 tahun. Dia adalah ibu dari ibuku. Dia memandangku kosong. Sambil bertanya akan menjadi apa aku kedepannya. “nak, apa kau pernah tau siapa orang tuamu?’’ sambil mengerutkan dahi akupun terdiam. Selama ini aku tak benar – benar  tau kalau ternyata aku bukanlah anak dari anak kandungnya. Mendengar pernyataannnya,, akupun tertunduk dan berfikir. Berbagai pemikirian berkecamuk dalam otakku. Sudah lama aku mendengar hal itu, hanya aku belum yakin akan kebenaran semua itu. Malam datang dengan keindahan rembulannya yang memaksaku untuk bisa melupakan pembicaraan tadi.
Buatku itu adalah ujian besar yang memang harus dihadapi. Menyesal tak ada gunanya. Karna semua sudah diatur sedemikian rupa oleh Sang Kholik. Setelah aku dewasa aku tau bahwa  ujian itu adalah tangga dan kesempatan yang diberikan Sang Pencipta untukku naik kelas. Dan sadar bahwa manusia diciptakan bukan hanya untuk menyembah Allah Swt, tetapi juga sebagai khalifah pemecah atas permasalahan yang ada di muka bumi ini
Begitu pula denganku, aku hanya berfikir bagaimana perjalanan ini bisa jadi lebih bermakna. Sebelum akhirnya aku menutup mata dan kembali pada Tuhannku Sang Maha Cinta. Sampai saat ini aku tak pernah tau siapa sebenarnya ayah dan ibu kandungku. Aku berusaha berfikir positif pada Tuhannku. Yang aku tau, karna Allah swt begitu menyayangiku sampai mengujiku dengan semua ini. Pernah ada satu titik dimana aku merasa aku sendirian di dunia ini, menangis, kesal dan marah. Tapi apakah kemarahan mengerti tentang perasaanku? Bagaimana dengan kekesalanku? Sedangkan menangis hanya mengurangi beban dalam hati tanpa penyelesaian. Aku harus bangkit, aku harus kuat. Ada atau tidak ada mereka, kehidupannku harus tetap berjalan. Itu yang membuat aku berbeda. Sampai saat ini rahasia itu belum terungkap. Entah kapan Sang Penyusun Skenario kehidupannku mengungkapkannya.Tapi yang jelas Aku selalu meminta padaNya untuk memberiku kesempatan melihat mereka orang tuaku, jika dunia bukanlah tempatnya maka akhirat adalah harapanku. Aku tak ingin menjadi lemah dengan keadaan. Aku harus ingat bahwa di luar sana masih banyak kehidupan yang lebih pahit dan  sulit. Karnanya aku harus bersyukur dengan keadaaku saat ini. Allah tak akan membiarkanku sendiri, sampai akhirnya memberikan hadiah padaku. Hadiahnya adalah ayah dan ibu yang baik hati. Dewi Liyana Katili dan Eris Sugionoadalah namanya. Dan memiliki seorang adik laki –laki bernamaWiyono Maulana Putra dan adik perempuan bernama Risdia Aulia Putri. Aku bahagia memiliki mereka. Mereka mengajarkanku untuk mengerti bahwa hidup adalah keras yang harus dihadapi dengan kesabaran yang dibarengi dengan kasih sayang terhadap sesama. Tak lupa ibu selalu mengajarkanku untuk selalu bersyukur atas nikmat yang telah Allah berikan. Disini aku diajarkan cara mencintai yang sesungguhnya. Mencintai apa yang harusnya aku cintai. Mencintai Rabbku, Keluargaku, Sahabatku, dan mencintai sesama. Aku juga diberi modal untuk dapat menghadapi kejamnya hidup dengan bekal dan pesan moril yang tak bosan-bosannya diberikan mengalir bagai air bagi hidupku. Entah apa jadinya hidup ini tanpa air kehidupan itu. Saat ini yang terpenting bukanlah menanti kapan rahasia itu terungkap, tapi bagaimana hidupku bisa bermanfaat untuk orang lain. Bagaimana cara bersyukur yang baik. Karna aku sadar bahwa aku juga tak sempurna. Aku masih jauh dari kebaikan dan kesempurnaan adalah milik Allah swt. Dengan kehidupan yang singkat ini Khusnul Khotimah adalah yang aku rindukan. Mempersiapkan bekal dengan proposal syurga yang akan aku lukis dalam sejarah hidupku sebelum akhirnya aku pulang kepangkuan Rabbku..


Semoga sepenggal cerita ini dapat diambil pelajarannya dan bermanfaat untuk siapapun yang membacanya. Aamiin ya Rabbal Alamin.......

Hujan

Hujan.....
diantara rintik dan gemericik air
dia menunggu
memberi isyarat,
bahwa hatinya begitu di rundung kerinduan
sebenarnya pilu menjadi wakil isi hatinya
karna bersabar dalam diam
entahlah....
setiap kata yang tertulis begitu menggetarkan hati
seolah olah gadis itu adalah dia
saat kesetiaan diuji, terasa begitu menyiksa
Dia hanya bisa mencintai lewat do'a
berusaha menjaga hati
Dia tahu maksud hatinya
hanya dia tak kuasa
sajak ini ditulis untuknya
untuknya yang tak terlihat
terbentang jarak dan waktu
dia begitu mengaguminya
tulisannya begitu jujur
menandakan kaluasan ilmunya
dia tidak hanya pandai merangkai sajak indah
dia juga mampu meluluhkan hatinya
Sekali lagi dia meminta kepadaNya
semoga waktu akan menjawab diamnya

Catatan Kecil

Sibuk mencari pembenaran atas masing masing diri
Katanya tersakiti,
Dendam,
Benci,
Marah,
semua menjadi kontroversi tersendiri bagi tiap tiap diri sampai..............

tak ada diri yang ingin mengalah
sibuk menelusuri kesalahan yang lain
sampai murka mendarah daging
Lupakan semua,
buka hati ingat firmanNya
"Jika kamu melahirkan sesuatu kebaikan atau menyembunyikan atau memaafkan sesuatu kesalahan
(orang lain), maka sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Kuasa (Q.S An-Nisā' : 149)."

Dunia

Dunia Persinggahan sementara,
Dimana waktu tak pernah berbisik tentang lama yang tak berjarak,
Sementara kematian sering mengintai
 Duhai musafir....
Isi perjalananmu dengan ibadah
Lakukan sebanyak mungkin Mintalah pada-Nya keridhoan
Agar kau temukan damai di akhir perjalananmu.

Medan, 2015