Temui aku di surga, karena dunia tak lagi menjadi tempatku mendapatkan kasihmu.
Rani terlihat
cantik dengan gaun kebaya putih dan hijab syar'inya. Sembari memoles sedikit
make up pada wajahnya. Ia duduk di depan cermin sembari tersenyum. Baginya
menikah adalah keputusan terbaik. Sebab ia
mengerti bahwa selangkah ia keluar dari rumah maka banyak setan yang
mengikutinya dari belakang. Ia hanya ingin menjaga diri dari fitnah dan menjadi hamba
Allah yang baik. Sedang di sekitar Mesjid Al Hidayah, telah ramai handai taulan
dan sanak saudara dari pihak calon suaminya yang sedari tadi sibuk berlalu
lalang menyiapkan segala sesuatu untuk persiapan akad nikah. Disana tampak
wajah sumringah dari teman-teman mereka yang sudah tak sabar ingin menyaksikan
langsung acara sakral tersebut ditambah ingin melihat wajah cantik Rani.
***
Rani telah selesai dirias dan siap keluar dari salah satu ruangan jika ijab kabul selesai diikrarkan. Langit biru pagi itu seketika menjadi mendung seolah ia mengerti perasaan Rani. Cericitan burung terdengar dari jendela, seolah mereka sedang bercerita tentang kelabu, dan tuan putri yang siap menikah. Dedaunan yang berayun-ayun juga berbicang-bincang tentang kabar bahagia itu. Rani bahagia, tetapi ia tak sepenuhnya bahagia. Ada ruang di hatinya yang kosong. Tak terasa air matanya berderai. Bibirnya kelu.
Rani telah selesai dirias dan siap keluar dari salah satu ruangan jika ijab kabul selesai diikrarkan. Langit biru pagi itu seketika menjadi mendung seolah ia mengerti perasaan Rani. Cericitan burung terdengar dari jendela, seolah mereka sedang bercerita tentang kelabu, dan tuan putri yang siap menikah. Dedaunan yang berayun-ayun juga berbicang-bincang tentang kabar bahagia itu. Rani bahagia, tetapi ia tak sepenuhnya bahagia. Ada ruang di hatinya yang kosong. Tak terasa air matanya berderai. Bibirnya kelu.
"Ibu, sebentar
lagi Rani menikah. Pasti ibu sudah bahagia di sana”, gumamnya dalam hati sambil
menatap jauh ke arah jendela.
Pikirnya terus melayang,
teringat pesan ibunya, “Nak, pergilah. Pulang jika sudah kau dapatkan apa yang kau cita-citakan. Maafkan ibu nak, tidak bisa menyekolahkanmu sampai tinggi", ujar wanita renta itu. Dia duduk di kursi tua yang berada di
teras rumah. Sambil mengipas-ngipaskan kemonceng di sekitar kakinya. Begitu setiap
hari dihabiskan waktunya. Sebab kakinya tak lagi kuat. Rambut lebat dan ikalnya
sudah memutih. Giginya habis, kulit segarnya berubah menjadi keriput. Belum
lagi ingatannya yang mulai memikun. Tapi tidak dengan sholatnya. Entah apa yang
ada dibenaknya. Setiap saat ia ingat akan sholatnya. Hingga menua ia enggan
melupakan tugas wajibnya. Setelah berbincang panjang lebar Rani menatap wajah
ibunya lama, seolah ingin menghabiskan waktu lebih bersamanya. Rani memeluk
ibunya sangat erat-erat.
"Ibu,
do'ain Rani, semoga bisa menjaga diri dan kembali sudah menjadi seorang sarjana", katanya sambil menahan buliran air
mata.
***
Sesaat saja ia
menapakkan kakinya diterik kota Jakarta. Burung besi telah membawanya terbang
melintasi pulau Sumatera. Kota dimana tak lagi tercium wangi embun pagi. Belum
lagi setiap paginya tampak banyak orang hinggar binggar dan berdesakan. Tak ada
yang tak bedesakan, di busway, kereta, hingga jalanan macet adalah makanan
sehari-hari bagi semua orang yang tinggal di Jakarta. Ada yang aneh dari
Jakarta, mengapa orang-orang sibuk mengejar lembaran demi lembaran rupiah di
kota ini. Enam tahun Rani menimba ilmu di salah satu Universitas swasta di
Jakarta. Pagi ia bekerja sebagai pelayan di salah satu rumah makan dan malamnya
kuliah. Gajinya cukup untuk membayar kos, makan dan membayar uang kuliahnya.
Sisanya sebagian ia kirim ke ibu dan sebagian lagi ia tabung untuk kebutuhanya.
***
Di hari spesial
itu harusnya ia bahagia. Tapi tidak dengan Rani. Ia
menahan rindu kepada ibunya. Ibu yang telah berpulang saat ia sedang menyelesaikan
tugas skripsinya dan bejuang mewujudkan mimpi ibunya menjadi seorang sarjana.
Tapi, keadaan tak mengizinkan untuk melihat wajah terakhir ibunya. Ibu yang merawatnya
sejak kecil. Dulu, ibunya adalah seorang pedagang sayur keliling yang menemukannya
saat melintasi tempat pembuangan sampah dalam sebuah kardus. Suaminya telah
berpulang lebih dulu. Hingga tak sedikitpun Rani tahu bagaimana wajah dan sosok
ayahnya. Rasa rindu yang terus menggerogoti pikirnya, begitupun jasadnya. Ia
menangis, dan terus berandai-andai. Andai saja pernikahan ini di kampung halamanku. Andai saja aku punya ibu di sini. Andai saja
ibu yang mengantarku ke pintu pernikahan. Andai saja ibu yang membantuku memilihkan
gaun pengantin dan menyiapkan semuanya. Ia menangis tersedu-sedu. Tiba- tiba dadanya sesak, tampak ia menahan perih di dadanya. Pandangannya mengabur. Semua berubah menjadi gelap. Kerongkongannya terjepit. Tubuhnya mengigil seketika, hingga tak bernafas lagi. Rani pergi dan tak pernah kembali.
"Ibu, perjalananku berhenti sejenak. Ini jalan terpilih, bukan atas inginku, tapi ini skenario-Nya. Aku kembali berjalan mencari halte selanjutnya dan mencari cinta-Nya. Dan engkau adalah kado
teristimewa dalam hidupku. Aku menyayangimu. Ini adalah rasa, dimana aku pernah menjadi bagian
hidupmu. Terima kasih sudah menjadikanku dewasa dan merawatku, temui aku
di perjalanan selanjutnya, karena dunia tak lagi menjadi tempatku mendapatkan kasihmu”.

