topbella

Selasa, 18 Agustus 2015

Coretan Mimpi

Entah pada siapa waktu itu akan mengadu. Kemana dan dimana. Berawal mencoba
dari selembar hingga berupa buku usang yang telah lalu.

Gadis kecil dengan sejuta angan dan cita itu bercerita pada sahabatnya si
coretan mimpi. Disana tersusun rapih semuanya. Kadang tangis menemaninya dalam
duka saat harus mengabadikannya. Berharap, tangis dengan sedikit senyum
membantunya untuk meringankan hati agar dapat melupakan kesedihannya.

Jika bahagia datang menyapanya senyum simpulpun terpancar dari wajahnya. Ia
merangakai kata - kata indah yang jujur apa adanya.

Sekarang gadis kecil itu sudah tumbuh dewasa. Ia sudah menemukan pada siapa
ia harus mengadu, dimana, dan kapan. Mungkin ia lupa dengan coretannya kala
itu.

Di satu kesempatan ia mencoba untuk membuka lembaran demi lembaran coretan itu.

Ternyata hal yang ia sempat lupa membuatnya untuk dapat menjadikannya
sebagai tujuan hidup. Entah apa yang membuatnya sampai harus ada dalam bait
coretan itu. Sulit untuk difahami. Tapi itulah yang membuatnya mengerti bahwa
dunia tak pernah bosan mengajak untuk terus mencintainya. Padahal ada dunia
abadi yang harusnya lebih dicintai.

Cerita indah dan sedih datang bergantian. Tak lupa diakhir cerita, do'a dan
motivasi membalutnya sebagai kekuatan.

Dialah coretan itu yang membuatku bangkit saat terjatuh.

Dialah coretan itu yang mengingatkanku kala aku lupa

Dialah coretan itu yang mengingatkanku bahwa hidup hanya sesaat.

Dialah coretan yang mengajakku untuk terus berjalan dan membuat proposal surga.

Terima kasih pada tangan dan jari yang membuat coretan itu bersama pena
terindah

Terima kasih pada hati yang menuntun bersama kekuatan do'anya. Semoga coretan
itu adalah awal dari mimpi sampai membuatnya menjadi nyata.

Ayah Aku Bisa

Usia yang mendekati angka dua puluh empat. Kota medan nun jauh disana, tepatnya di Jl. Geminastiti no. K- 319 ASR Kel. Tanjung rejo. Kec. Medan Sunggal yang sudah hampir eman tahun aku tinggalkan. Entah kapan hendak kembali. Sedang desa kecil tempat aku bermain sudah entah berapa tahun tak melihatnya. Desa kecil yang mulai berkembang dengan gerbang Bandara Kualanamunya. Batang Kuis namanya. Ada seorang lelaki separuh baya yang kupanggil ayah masih bertempat tinggal dengan istana megahnya disana. 

Terlihat gemuk dengan kulit sawo matangnya saat terakhir aku tinggalkan. Entah siapa saja yang ada dalam istana itu saat ini, sampai aku ingin datang dan melihat bentuk dan rupa keindahan istana itu. Mungkin dulu ada aku, ibu, ayah, dan kakakku yang menempatinya. Tapi sekarang aku tak tau. Dulu adalah masa kecilku berada disana sampai usia remaja yang tak terlupan. Dengannya aku tumbuh tanpa kemanjaan. Menjadi pribadi tangguh seperti layaknya para prajurit dalam film merah putih dia ajarkan padaku. Mungkin karna perannya sebagai alat negara, sampai akupun harus menjadi anak yang disiplin untuknya. Dia begitu lembut dengan kerasnya prinsip dalam hidupnya. Dia jarang memarahiku, dia lebih sering menasehatiku. Ada satu sejarah yang tak dia inginkan saat itu terjadi. Entah apa masalahnya ibu dan ayah memilih untuk berpisah. Aku fikir karna lama tak dikaruniai seorang anak . Ibu pergi meninggalkanku bersama ayah dan seorang kakak. Kehidupan yang begitu berantakan. Seakan tak terima dengan keadaan. 

Jika dilukis mungkin itulah lukisan terburuk yang pernah aku lihat. Tak terungkapkan, sudah cukup menjadi wakil perasaanku saat itu. Jungkir balik masa renaja yang pahit, sampai membuat ayah murka padaku. Aku tak pernah di rumah yang kusebut istana tadinya. Aku lebih sering bermain dengan teman sebayaku. Untuk makanpun aku jarang di rumah. Keadaan membuat istanaku berubah menjadi neraka. Aku tak betah berada disana. Begitu setiap harinya. Neraka itu aku perlukan hanya untuk tidur dan mandi. Aku tak mau terlena dengan keadaan. Aku harus bangkit. Suatu ketika aku harus mengambil satu keputusan yang harusnya tak membuatnya merasa tak berdaya dengan keadaannya, kehilangan ibu sudah cukup membuatnya sakit. Apalagi harus kehilangan aku putrinya. Meski tak ada darahnya yang mengalir dalam tubuhku, ia merasa tersudut dengan keadaan. Dia sadar tugas beratnya sebagai imam dan nahkoda kapal layar yang kami tumpangi. Entah apa jadinya hidup ini baginya. Kerab menagis dan mengadu padaNya. Menyalahkan dirinya sendiri. Aku pernah melihatnya dari celah pintu kamarnya yang tak tertutup rapat. Akhirnya airmatakupun ikut terjatuh. Tak tega rasanya melihat ayah menangis. Aku hanya dapat bekata dalam hatiku " bahwa ayah tak pernah gagal mendidikku" aku harus buktikan pada ayah bahwa ayah telah berhasil. Aku ingin ayah menggati air matanya dengan senyuman. Sampai akhirnya aku mengambil satu keputusan yang berharap tidak menjadi durhaka kepadanya. Tapi ternyata aku salah. Dia lebih marah dengan kemarahannya. Dan mengabulakan permintaan atas keputusanku. Aku memilih pergi dari istana dan kemewahannya. Dia yang saat itu pedih hatinya hanya dapat berkata "pergilah nak, jika kau senang akupun turut senang. Jika kau susah maka hadapilah". Pesan itu tak akan pernah hilang dari otakku. Kata - kata itu aku jadikan goresan luka dalam hatiku agar tak lekang oleh apapun. Pahit memang, tapi aku yakin akan manis pada akhir ceritanya. Meski tak secepat kilat, tapi saat proses membawa dan mendidikku dengan pahit getirnya kehidupan aku tumbuh menjadi anak yang terarah hidupnya. Menghargai setiap perjuangan. Sudah cukup rasanya berkelana menjadi buruh pabrik dengan gaji pertama Rp.7.500 sampai menjadi pelayan di kafe pinggir jalan ring road tepat di belakang perumahan elit Setia Budi Indah namanya. Mendapat upah Rp.10.000, 15.000 sampai Rp. 30.000 yang memiliki jam kerja dari pukul 14.00 Wib hingga pukul 01.00 Wib dini hari sudah hal biasa aku lakukan. Terakhir bekerja menjadi pelayan di Mie Ayam Jamur terkenal tepat berada di depan stasiun radio Star fm. Sebenarnya apa tujuan hidup ini? Untuk apa? Apa harus begini terus? TIDAK! AKU HARUS BISA, AKU HARUS BERHASIL. TAK MAU TERPURUK DENGAN KEADAAN. Aku ingin menjadi orang berilmu. Dengan ilmu hidup akan menjadi terarah. Dengan ilmu diangkat derajatnya bahkan dimuliakan olehNya. Kenapa tidak, bukankah seruan menuntut ilmu dari buaian sampai liang lahat. Bukankah ada pepatah lain yang berseru bahwa tuntulah ilmu sampai ke negeri Cina. Yah, tekadku bulat untuk beangkat ke ibu kota Jakarta yang katanya adalah tempat berjuang. Meski saat itu ada tawaran untuk kembali bekerja di sebuah Toko besar ternama. Aku tak menghiraukannya, bukan tanpa alasan tapi istikharahku yang menguatkan pilihan pada saat itu. Sampai akhirnya tepat tanggal 28 Januari 2009 aku hijrah ke pulau Jawa. Dengan do'a menjadi anak yang sholeha untuk ayah yang diangangkat derajatnya dengan ilmu. Aamiin....Disini tugasku adalah belajar. Beradaptasi dengan berbagai suku, ras dan agama. Aku senang dengan ini semua. Hal baru yang belum pernah aku temui. Berjuang bersama sampai titik dimana aku mendapat gelar pertamaku. Hanya tinggal beberapa bulan lagi aku menyandang gelar keduaku. Semua sudah aku lakukan untuk ayah. Hanya aku tak pernah tau isi hatinya. Apa kemarahan itu masih melekat di hatinya. Apa tak pernah berubah prinsipnya setelah entah berapa tahun aku tak bertemu dengannya. Apa kasih sayang itu benar-benar hilang untukku. Aku rindu dengan senyummu. Aku rindu nasehatmu. Apa sudah habis nasehat itu untukku. Ribuan pertanyaan yang menghujam. 
Tapi apalah itu semua. Aku bisa seperti saat sekarang ini, karna dia. Karna kemarahan dengan kadar kasih sayang yang lebih banyak. Aku yakin itu. Aku akan bercerita pada dunia bahwa ayah tak pernah gagal mendidikku. Aku ingin kau tersenyum ketika melihatku pulang. Rindu sekali aku padamu ayah. Tak pernah berani aku mengucapkan kata itu padamu karna takut akan kemarahnmu. Aku berharap ketika bayangmu hadir, sejenak aku akan terjaga pula. Melihat air matamu mengalir dalam senyumanmu. Aku yakin air mata itu adalah air mata kerinduan untukku. Karna akupun begitu. Dalam do'a kusebut namamu dan selalu kupinta padaNya Sang Maha Penyayang agar kebahagiaan selalu ada bersamamu. Dan aku anakmu mencintaimu karena Allah ayah. Ini adalah kisah yang menjadi sejarah untukku. Tak dapat terhapus oleh apapun. Meski ombak datang dengan kerasnya kisah ini akan tetap ada. Meski tertulis dan tehapus dalam sebuah buku usang yang rusak juga akan tetap ada. Kisah ini akan hilang jika aku yang bernyawa ini telah tiada. Tapi setidaknya kisah ini adalah bermanfaat bagi yang membaca. Jika perjalanan hidup adalah proses maka, ambillah ilmu dari setiap prosesnya.
Salam Ukhwah, dan assalamualaikum warahmatullahi wabaraktuh

Proposalku

Malu aku pada rasa yang tak bertepi,
jika semakin aku berlari cepat semakin jauh terasa.
Sulit untuk mengungkapkan rasa diatas rasa.
Segeralah berlalu agar tidak menjadi bias.
Banyak proposal yang kubuat,
tapi Dia tau yang terbaik.
Sudah sepatutnya tekad kuat dan semangat menjadi senjata untuk berperang.
Selebihnya kuserahkan pada-Nya.

MIMPI

Aku tak ingin diam
Apalagi harus menyerah
memilikimu saja aku bahagia
Bersandinglah denganku agar menjadi sesuatu,,
Ya....
Menjadi sesuatu,
memanggil bahagia ada bersamaku
Dengan cinta penembus langit dan bersenandung dalam Qalbu yang dibalut dengan do'a
Bersandinglah denganku
agar menjadi pondasi kuat dalam hidupku.

Temui Aku di Syurga

Engkau titipkan aku padanya dulu
Ini jalan yang ku pilih atas keinginanku, tapi atas skenario-Mu
Aku pergi karna terlalu mencintainya dan kepergianku untuk mencari cinta-Mu
Terima kasih ya Rabb....
Atas kado teristimewa dalam hidupku.
Aku akan tetap menyayanginya, walau harus menangis,
Mungkin aku kalah, tapi ini bukan pertandingan.
Ini adalah rasa, dimana aku pernah menjadi bagian hidupnya.
Aku sadar,
Aku tahu,
Bahwa siapa aku, akan menjadi aku.

Tak bisa menjadi dia atau mereka. 
Terima kasih sudah menjadikanku dewasa dan merawatku,
Temui aku di syurga, jika dunia tak bisa menjadi tempatku mengharap kasihmu.

Rahasia Hidup

Entah kapan,
Sampai kapan,
Dimana,
Bagaimana,
Seperti apa,
Semua adalah rahasia hidup. 

Itulah dia pertemuan, rezeki, maut dan jodoh. 
Semua sudah jelas tertulis di lauh mahfudz.

Cinta Bagi Yang Bersyukur

Cinta tidak juga hadir
Saat waktu ingin kau ada
Aku siap menata kata yang tertata
Agar kau faham
Bahwa aku ingin kau tahu tentang cinta
Dia ada,
Bagai terpaan angin
Terhela diantara siang dan malam
tanpa kau sadar semua itu
Tanyakan pada waktu jika kau lupa,
Bahwa sebenarnya cinta
Adalah rahmat bagi yang bersyukur

Untukmu

Suatu saat aku ingin pasti
Tetapi aku tahu,
Semua tidak dengan mudah
Melainlan melewati jalan begitu terjal
Meski terjatuh aku akan bangkit
Dengan air mata, cinta dan do'a
Itu harus!
Karna aku ingin dunia mengenalku ketika aku harus pulang.

Untukmu yang selalu mengajarkanku agar tumbuh menjadi wanita yang cantik hatinya.
Untukmu yang sudah membesarkanku,
Untuk-Mu, ketika aku datang

Kembali Dengan Senyuman

Aku tak mau hanya berharap pasti,
Atau seolah menjadi tuna rungu tak bernurani
Saat waktu mampu mempersulit keadaan
Tak sudi kiranya jika itu terjadi
Sebab itu bukan kebahagiaan
Aku tidak begitu
Tapi aku begini
Menginginkan hidup bukan sekedar hidup
Dan jika kelak waktu itu tiba
Aku ingin terpejam dengan senyuman

Titik

Aku menangis terisak menahan sesak
tak sanggup melawan padahal bukan kata hati sebenarnya
meronta dan berontak dalam khayal
kenapa begitu?
Mengapa tidak begini?
Aku tahu itu
tapi yakin semua akan bermakna
ya, bermakna!
Bermakna ketika hujan badai berhenti dan pelangi itu hadir.
Titik!

Cinta

Cinta, kemana kan kau bawa
Ketika hati mengeras bak batu karang.
Siapa yang kan kau adu
Saat diri membeku tak bernyawa
Apa hendak kau paksa.
Jika hati pergi tak bersenyawa dengan ingin
Tak cukup kata untuk berkata maaf
Sebab kau tak terima
Bukan kecewa di malam yang kelam
Hanya berharap kelapangan hati
Sebab cinta bukan hanya aku
Ada banyak cinta di sana
Tidak terpaksa atau di paksa,

Pulang

Hening,
sejenak terpikir bahwa ini bukan mimpi
Waktu, biarkan aku belajar ikhlas melepas atas apa yang pernah jadi milikku
Yang pergi kak mungkin dapat kembali
Semoga bahagia di sana
Tangis waktu itu tak cukup buatmu semakin sedih
Hanya do'a yang mampu ku kirim untukmu 

agar kau bahagia, karena alam kita yang berbeda

Merindu

Rindu aku kepada yang disana
Dimana keadaan sudah tak seperti dulu
Dimana cinta sudah tak mudah untuk dibaca karna jarak
Melanglang buana.
Berkelana.
Berjarak jauh.
Berjenjang waktu yang tak singkat
Tak tentu kapan waktu akan itu..
Sabarlah jika ada yang ternanti entah tidak di hati
Di seberang pulau aku sedang terjatuh dan terbangun untuk mengembalikan kepercayaanmu sebagai bukti baktiku padamu.
Rindu aku pasti.
Namun ucapan bukanlah bukti
Aku masih mencintaimu
sama seperti dulu aku tinggalkan
Harapku ada dalam do'amu jika kiranya ada sudi di hati
Tunggu dia yang dinanti entah tidak
Akan datang dengan cintanya untukmu.
Rindukan aku seperti aku merindukanmu
Meski tak ada ikatan bathin selayaknya.
Tapi aku mau, aku masih.
Masih sama seperti yang dulu

Untuk Masa Lalu

Untuk masa lalu yang indah dikenang ingatlah aku dalam keheningan
Bicaralah pada bulan
Katakan bahwa kita menatap satu bintang yang sama
agar terasa begitu dekatnya kita meski sebenarnya tidak
Mencari di ribuan kilo jauhnya
di dalamnya dasar lautan tak terjangkau
di luasnya langit tak terjamah
Bagaiman mungkin akan menemukanmu.
Usaha kusudahi, karna tau itu tak kan mungkin terjadi.
Bisa jadi hanya sebagian kecil kemungkinan itu.
Besar bagiNya jika Dia menghendaki.
Paling tidak aku sudah mencobanya walau tau itu mustahil

Perjalanan Tak Bermuara

Perjalanan singkat tak bermuara
Sampai tak tau kapan berakhir
Dan kemana akan bermuara
Sedu sedan aku menahan
Tak ingin berlebihan
Namun terjadi begitu saja
Sajak yang sempat kurangkai
Berhamburan di terpa masa
Ingin berbalik mengutipnya
Tapi Sia sia tampaknya

Ketika kuraih satu demi satu
Ku mulai menyusunnya
Dengan harap rangkain sajak itu dapat mengetuk hati yang hilang
Saduran rasa dan kata menjadi jiwa akannya
Datanglah walau sejenak
Kita susun sajak itu menjadi indah
Menjadi tulisan yang penuh makna
Hingga akhirnya orang lainpun turut
Bersama kita dalam satu cerita

Ikhlas

Membiarkan orangpun turut bahagia dalam cerita itu
Begitu ikhlas aku coba,
Namun pada kenyataannya aku tidak
Bahkan belum bisa melakukan
Berikan sedikit waktu
Untukku merasakan bahagia
Bahagia saat bertemu meski tak bertatap
Sekali lagi kupasrahkan padaMu
Sungguh ku gantungkan harapan itu
Walaupun katanya harapan itu kecil bahkan sudah tak ada

Berhenti di Titik

Suatu saat nanti
Jika waktu itu tiba,
Baru aku akan melepasnya
Membiarkannya tenggelam sampai ke palung terdalam
Hingga tak ada satu pun yang dapat menemukannya
Begitupula aku,
Yang masih tampak gelisah
Karna kenyataan
Aku hampir saja menyelesaikan cerita itu
Hanya saja belum yakin bagaimana akhirnya

Tuhan....
Bantu aku menyelesaikannya
Agar aku dapat menulis cerita baru
Bantu pula aku menulisnya dengan ikhlas dan sabar
Karna aku ingin berhenti di titik
Dan memulainya di lembar putih baru yang Engkau siapkan

Terkenang

Kusapa kau dalam diam
Hening!
hempasan badai teriak memanggil-manggil
saat tak lagi ada di sampingmu
kemana kau bawa jalan cintamu
dimana akan berlabuh
apa kabarmu jua dalam diam
saat sukma merindu
hendak kemana nurana berlari
selisih hati menang atas gundah terasa
meronta bagai jiwa terpenjara
kejam tak tergubris
sesekali bercanda pada kehampaan
ingin tenang setenang yang ku kenang

Merindu Surga

Aku di setiap malam yang belajar menanti dan sabar
Ketika semua orang sibuk bercengkrama dengan mimpi,
aku tak mau sibuk dengan semua itu. Hitungan jam yang yang satu menitnya terasa menyiksa.
Sampai kapan yang kunanti akan datang?
Tuhan.....
Engkau tau pengorbananku
buat aku bertahan untuk semua
jadikan aku kuat
sementara aku hanya ingin setia
aku ingin menjadi yang baik untuknya
karna aku hanya percaya janjiMu.
kupasrahkan semua padaMu
Tapi ku mohon perhitungkan lelah hatiku ketika aku begitu merindukannya.
Merindukan surga

Tak Kan Kembali

Aku sudah membuangnya jauh
Dan berharap tak kembali dalam sua
Sesekali menoleh, dan berbalik melirik
semua sudah berbeda.
Aku salah!
Saat ini bukan yang dulu
melainkan warna baru dengan kisah baru
Sabar.
Esok kan kau temui apa yang kau ingin temukan.
Tetap sabar, maka manis bahagia jua akan kau jumpai.

Karena sadar, bahwa mencintai sesungguhnya adalah...
bahagia melihat orang yang di cintai bahagia dengan orang yang dia cintai 

Do'a

Tak mengapa semua terjadi
melepas dengan pilihan terbaik
meski terselip senyum pedih dalam hati
ini jawaban atas sesak itu
do'a terbaik selalu terpanjat sebagai penawar
agar tak terasa sakitnya
tunggu cinta itu ketika semua terabadikan
saat itu engkau akan tahu
betapa getir waktu itu terlewati

Cinta-Nya

Cinta....
Berhembuslah seperti layaknya angin yang memberi nafas bagi kehidupan orang banyak
Mengalirlah bagai air yang menghidupi nyawa tak terhingga
Bersemayam dalam hati baik luluh maupun lantah
Jadilah matahari, menemani jalannya hari
Malam sebagai gantinya
Agar abadi bagi siapa yang memilikinya
Karena hidup adalah cinta....
Cinta-Nya kepada kita untuk selalu bersujud

Kematian

Kabar yang setiap aku mendengar
begitu begetar hebat jantung ini
gelisah....
bahkan takut.
dimana tak ada yang dapat membela
saat dimintai pertanggungjawaban
sunyi, sendiri tanpa sanak saudara
menunggu entah berapa lama menunggu hari itu datang
Kematian.
Iya. Peristiwa yang semua orang pasti akan merasakannya.
Entah kapan waktu itu tiba.
Bersiaplah wahai insan yang terlalu sibuk dengan dunia termasuk aku!!!
begitu kerasnya hati ini ingin menujuMu
Walau harus terjatuh dan terbangun meraihMu
Saat masih ada waktu,
jangan biarkan aku jauh
panggil aku saat hal itu terjadi
karena takut sekali jika nantinya ketika aku mati dalam kekafiran



Jakarta, 3 April 2015

Tentangnya

Banyak kata yang berkecamuk menemani diam
Namun hanya sebatas itu
kabar yang datang susul menyusul
seakan menegur dengan amat sangat keras
Sementara, dilain sisi ibu terlalu serius dengan kabar tersebut
sampai mempersiapkan segala sesuatunya dengan rapih
dan tak ada yang mengetahuinya
ialah pesan kematian yang begitu sakit
ketika hati di seru untuk kuat
Sesak.
Ingin menangis sejadi-jadinya
sekuat - kuatnya

Tapi itu bukan inginnya.
Ingin sekali bercerita banyak
Pergi kesana kemari
memberi bahagia untuknya
tidak hanya di dunia tapi sampai waktu terindah itu
dimana jika Allah berkehendak mempertemukan kami
itu hanya sepotong obrolan dalam diam
karna tak sanggup untuk di ucapkan
karna terlalu sesak
sekali lagi sesak
Terkenang semua amanahnya
untuk menjadi wanita yang kuat
sabar dalam menghadapi hidup
menjadi wanita dewasa yang bijaksana
selalu belajar dari kesalahan
selalu sabar meski dihujat
berbuat baik pada semua orang
taat, patuh sopan santun terhadap semua orang
siapa tak bangga memilikinya
siapa tak bahagia
siapa???
Semua orang bangga mengenalnya
memilikinya apalagi bersamanya begitu juga aku
tak perhah habis diamku mengaguminya
menjadikannya panutan muslimah salam hidupku
sebab dialah ibu
semua tentangnya

Klise

Tak ingin berpaling
walau hanya sejenak
jikalau terjadi itu hanya pengikat
Kusut....
bagai untalan benang
berantakan....
terserak dan porak poranda
iya, itu!!
itu klise 




Jakarta, 19 April 2015

Hanya Satu

Tidakkah engkau pernah berfikir,
selembut hati ingin meraup apa yang tak dimengerti?
Sebab hati tak dapat berbahasa
Biarkan saja!!
Biarkan semua tersususun rapih tak beradu
terombang ambing oleh senyilir syahdu
menjadi nyanyian di sepinya ramai
silahkan berceloteh tentang apa saja
sementara sadar bahwa hanya satu.
Hanya satu yang tahu
Dia yang mengerti apa tersirat
Karena semua terjadi bukan tanpa alasan,
bahkan daun yang jatuhpun sudah tertulis jelas atas takdirnya
Dia Yang Maha Tau

Tulisku

Aku tak harus jatuh cinta
kalau hanya untuk menulismu
tak perlu juga patah hati
sebisa mungkin kutulis
meski harus kosong
apalagi bias
kau tahu apapun yang kutulis
tidak sekedar kisah, tapi kasih
biarkan semua abadi
dalam tulisku

Terima Kasih Pada....

Terima kasih pada kalimat yang salah menilai
menilai tak harusnya dari tampak luar
kerananya hati tak tersentuh oleh hati
meski bibir terus berucap
bak gelombang radio tanpa frequensi
Terima kasih pada kenyataan
tak ada baiknya jika terus menggugah dan memaksa
semua adalah abu-abu masa lalu
biarkan menjadi lukisan kusam bermakna
yang tetap indah walaupun sakit saat dikenang

Dia

Dia begitu menyayanginya
Hanya, dia tak dapat berbuat banyak
Dari sekian banyak,
Mungkin dia yang paling bungkam
dia sayang
Dia hanya tak bisa seromantis yang lain
Dia memeluknya,
Meski dia tak merasa
Dia anugrah terindah yang pernah termiliki.
Dia...
Bukan hanya dewi
Tapi dia juga peri
Yang begitu penyayang.
Maafkan jika dia tak bisa berucap
Walau jauh, dia selalu di hati
Meski dia berbeda
Tetapi mereka sama
Menginginkannya ada untuk bersama
Dan...
Kala kaki ini akan jauh melangkah
Dia akan selalu ada di dalam hatinya
Dia akan selalu merindu
Meski terlihat acuh dan tak perduli
Biarkan do'a yang menjadi penghubungnya
Karena,
Dia berbeda
Dia pemalu
Yang merasa tak pantas
Dia hanya mampu menulisnya dalam lembar tak terlihat
Dia juga sudah tak mampu,
Memilih diksi terbaiknya
Sehingga begitu gamblang jujur pada bait ini
biarkan dia mencinta
tersebab cintanya untukanya dari-Nya

Perihal Pemantaskan Diri

Assalamualaikum dinda...
Jika berharap, maka pantaskan diri.
Jika belum sanggup kubur saja mimpi-mimpi itu.
Fokus pada cintaNya.
Maka dinda akan mendapatkan cinta yang MencintaiNya pula smile emotikon
Bukankah Allah sudah menjamin tentang semua itu?
Jangan bersedih. Karena Allah swt berfirman :
”Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki
yang keji dan laki-laki yang keji adalah untuk
wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-
wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik
dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-
wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh)
itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka
(yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan
rizki yang mulia (surga).”(QS.An-Nuur:26).
Sekarang, tugasmu adalah terus memantaskan diri.


Bagaimana dengan cinta......
tidak jatuh cinta, tapi menumbuhkan cinta
tentram, bukan dicari namun diciptakan
hidayah, tidak dibiarkan pergi tetapi di cari
untuk cinta dalam penantianku,
biarkan Allah yang mempersatukan kita,
kelak, ketika waktu itu tepat dengan ilmu dan iman

Cinta, Syukur dan Sabar

Cinta adalah anugrah.
Maka, orang bijak tahu kapan harus jatuh cinta
Menikah adalah ibadah.
Maka, menikahlah karna niat untuk ibadah.
Jika jatuh cinta setelah menikah, maka tak ada perceraian
Bertahanlah, sebab tak ada manusia yang sempurna.
Bukankah cinta adalah kekuatan.
Maka pupuklah cinta itu.
Agar menjadi kekuatan yang sempurna 


Mengapa judulnya selalu tentang cinta?
Karena hidup adalah tanda cintaNya kepada kita semua
Sehingga, untuk menjalaninya pun harus dengan cinta.
Mengapa temanya selalu bersyukur? Itu sebab terlalu banyaknya nikmat tak terhingga yang patut untuk selalu disyukuri
Lalu....
Bagaimana dengan sabar?
Adalah sabar yang menuntun kita untuk senantiasa bersyukur.
Dengan bersabar, semua hal tentang kesulitan dapat dilalui.



Semua Karena Cinta

Di sempitnya ruang hati,
Besarnya egoisme,
Besarnya amarah,
Hanya satu yang dapat mengalahkannya.
Cinta.....

Tak berani keutarakan bagaimana sebenarnya
Tapi itu adalah peristiwa yang menyakitkan
Sampai, tak dapat hilang dari ingatan.
Membekas di diri
Tapi semua itu akan terobati.
Cinta....
Iya!
Cinta yang tulus
Tak perlu amarah!
Kagusaran yang mengutuk!
Apalagi cacian menyayat hati!
Lakukan dengan cinta!
Karena Dia mencintai dengan cinta-Nya yang begitu besar dan tak terbatas.
Bukankan sebagai sesama kita juga harus saling mencintai agar mendapat cintaNya?
Maka.....
"Sesungguhnya, ada dua hal pada dirimu yang dicintai oleh Allah, yaitu lemah lembut dan tidak mudah marah." (HR. Muslim).


Medan, 2015

Bicara Pada Sunyi

Sampai saat ini masih menunggu
menunggu malam berakhir
nenanti pagi datang
kemudian senja
Dan...
masih seperti kemarin
membiarkan hati tetap bicara pada sunyi
berdialog dengan diam
memberi isyarat
bahwa saat ini
masih sama seperti kemarin
ya, masih menunggu
meski harus bergelut melawan waktu





Medan, 9 Juni 2015

Ayah

Aku mencintaimu,
saat ini dalam waktu yang lama.
Bahkan sampai mata ini terpejam.
Aku mencintai dengan terus terang
meski banyak jalan terjal yang kuhadapi
aku akan tetap mencintaimu meski musim terus berganti
kisah ini masih tentangmu,
tentangmu yang kupanggil ayah

Semua sudah terjadi
meski meninggalkan luka
tapi setidaknya ikhlas dan sabar
menjadi penawar dan obat
yang harus terus diminum
agar tak terlalu sakit kiranya




Medan. 15 Juni 2015

Janji Pelangi

Sorot tajam yang menikam hati,
sedikitpun tak memberi ruang untuk buliran air mata
Namun mendungnya hati tetap memberi isyarat
bahwa pelik tak jua membebaskan hati dari belenggu ini
mendung,
hitam,
kelam...
menandakan hujan akan turun
sehitamnya awan tak pernah berjanji
seberapa banyak rintik yang kan turun
tak satupun yang mampu menghitung setiap tetesnya
yang pasti adalah...
pelangi indah akan datang ketika semua usai.
Begitu.




Medan, 2015

Mencinta Dengan Tulus

Malam merindu,
dengan cinta yang teduh
sementara hati di dera kisruh
ada klise yang masih baik kiranya
tentang......
perasaan rindu!!!
Perasaan rindu di cerita pertama
yang memaksa harus jujur
kantung mata yang mulai membesar
hitam manis yang mulai legam
terik yang tak berpihak
sepatu jendral yang masih lusuh
hitam yang mulai memutih
itu yang pertama

Kedua.....
semua yang tak mampu ku urai masih banyak
meski dengan ucap yang tak berujar
Lalu, ingin kuterangkan jeritan rindu yang bergelombang
berdo'a mengejar isyarat hati.
Menjelaskan bahwa cinta itu benar adanya
Hingga daku tak ingin berlari jauh
apalagi sampai benar - benar jauh
Jikalau itu terjadi,
maka suatu saat nanti aku kan kembali
meski harus terseok - seok
Sekali lagi aku terangkan pada malam,
pada teriknya surya,
dan senja.....
bahwa aku mencintainya dengan tulus
Tak wajar rasanya mencinta tak dibalas cinta
sebab manusia hanya dapat mencinta dalam diam

Keabadian Yang Pasti

Jika gerbang keabadian itu tiba
Maka,
Tak ada lagi ketakutan
Sesak membuncah
Amarah yang meluluhlantahkan
Buliran air mata,
musnah karena kesombongan
Ribuan mata melihat
Bagitupun cacian terucap
Terasing di keramaian tawa
Saat ini mungkin tidak benar-benar terjadi
Suatu saat akan menjadi nyata




Medan 26 Juni 2015

Tentang "SETIA"

Tak mengapa cinta pergi
Masih ada cinta yang sebenarnya abadi
Cinta-Nya
Itu sudah cukup
Dan sepasang mata terbuka
namun tertutup oleh awan
Awan berubah menjadi hujan garam
Melukai selaputnya
Hingga perih!!!!
Menjadi penyebab air mata darah
Itu kekuatan cinta????
Cinta palsu!!!!!
Cinta yang mencintai kejayaan
Cinta yang mampu mengorbankan cinta yang lain
Meski senyum harus berbalut air mata darah
Menjadikan mata indah tak lagi melihat
Kebenaran yang terkubur oleh waktu
Ucap yang tak mampu terujar
Buta yang tuli
Hati tertikam dalam
Kebencian yang begitu nyata
Itulah sebenarnya pesakitan
Tak ada kedamaian
Apalagi bahagia
Ini pelajaran besar
Pelajaran yang mengajarkan tentang kesetian.
Dimana kesetiaan tak bisa dibeli dengan apapun.



Medan, 2015

Jangan Bercerai Bunda

Cinta adalah ketika amarah terkalahkan oleh maaf. Dan membiarkan keadaan tak membeku. Oleh karena itu, biarkan cinta itu tetap mencair. Agar dapat memberi kehidupan indah, pada jiwa yang mendambanya. Ada yang tersakiti saat keputusan begitu memilukan hati. Jangan bercerai bunda, di sini anakmu mendo'a, agar semua baik -baik saja.

Siang berubah menjadi gelap
kisruh yang sunyi
ingin kuhempaskan tubuh ini
agar membiru sebiru birunya
air mataku telah menjadi lautan darah
menenggelamkan tawa!!!!
tak mengapa!!!
jawab hati menahan tangis
sepertinya kakiku sudah tak sanggup menahan tubuh ini
limbung!!!!
Sekali lagi kukatakan, tak mengapa.
Jika lara membuatku menjadi semakin kuat.
Itu sudah cukup.

Tapi, jangan biarkan kami sendiri

Berperang Melawan Tangis

Senja memberi isyarat bahwa malam tiba dengan memenjarakan siang. Begitulah kiranya. Desir angin memberi tenang pada hati yang mendamba. Membawa pesan tentang arti kedamaian. Ratu malam mengintip dari balik awan Menerobos malam, mengintip kisruh yang padam menoreh luka.
Belum puas jika hanya menikam waktu. Digelap yang sebenarnya adalah hitam, berharap ada celah untuk secercah cahaya. Pun malam berlalu pergi. Sedang di ufuk cahaya itu hadir. Memberi kehidupan kepada banyak jiwa. Gelap berganti terang. Terang menggugah ribuan pasang mata terperjam. Hiruk pikuk membuat ramai pada perputaran poros. Canda tawa turut menghiasinya. Dibelahan lain ada jiwa sendu sedang dirundung sedih.
Begitulah kehidupan terus berputar. Manusia boleh menyusun banyak rencana untuk hidupnya. Akan tetapi tak boleh ada kelupaan bahwa sejatinya pengatur rencana terbaik adalah Dia. Sekuat apapun manusia berusaha namun jika Dia tak berkenan maka sia-sialah semua. 
Semua diatur jelas dalam Al Qur'an. “Diwajibkan atas kamu berperang, Padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh Jadi kamu membenci sesuatu, Padahal ia Amat baik bagimu, dan boleh Jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, Padahal ia Amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah : 216)
Berperanglah melawan tangis, sepi, lalu berbaik sangkalah kepada-Nya. Maka cukuplah Dia sebagai sandaran hati kala suka maupun duka

Syukuri Dan Tersenyum

Ketika berjalan di belantara nan rimbun
Kutemukan kesejukan untuk sebuah jiwa yang tengah meranggas,
Di antara gelapnya aku terjatuh.
Kutemukan beberapa daun terjatuh,
Ingin ku kaitkan pada tangkainya agar indah seperti sedia kala
Namun sia-sia
Tak kutemui pasangan yang tepat untuk setiap dahannya
Kupaksa...
Namun Tak jua membuahkan hasil....
Ku serahkan padaNya yang Maha Bisa
Tak lagi ku coba.
Dari dahan yang daunnya terjatuh, ada celah kecil untuk kehidupan
Iya, muncul tunas kehidupan yang baru.
Begitulah kiranya pun dengan kesalahan.
Selalu ada celah kecil untuk sebuah pengakuan yang melahirkan perubahan untuk sesuatu hal yang lebih baik.
Tak ada yang perlu di sesali atas apa yang sudah terjadi.
Tak ada yang dapat memutar waktu
Ingatlah hari esok,
Bahwa masih ada ribuan alasan untuk tetap buatmu tersenyum.
Syukuri keadaan!
Maka kau akan kuat, sebab senyum indahmu itu dapat meruntuhkan derasnya air mata yang pernah menenggelamkanmu.

Hijau

Hijau,
terhampar luas dengan ribu tak terhitung,
luas tak terhingga
Mewakili bahagia saat mata memandang jauh
Kala itu, mentari masih asyik bersembunyi di antaranya
perlahan-lahan meninggi
memberi isyarat bahwa dunia mulai akan berisik
menyebar terang pada seisi alam dan hamparannya
ialah menunggu pagi.
Menunggu ketika mentari naik sepenggalah
menikmati dingin bersama embun yang perlahan menghilang bersama terang
semilir angin menyelinap,
kemudian menyentuh jiwa - jiwa gersang
dan saat ini masih menikmatinya.
Sampai...
Senja kembali tiba.

Bait Bait Nasehat Untukku

~Kadang, kita harus berterima kasih dengan penjahat. Karena tanpa mereka kehidupan tidak akan berjalan. Karenanya kehidupan berjalan seimbang. Ada kejahatan juga ada kebaikan. Jika ini masih tentang pilihan, anda yang menetukan pilihan itu. Menjadi baik atau menjadi jahat.

~Tak ada manusia yang sempurna. Karena hidup adalah terus belajar. Seperti pepatah tuntulah ilmu sampai ke negeri China bahkan dari buaian hingga ke liang lahat.

~"Kebajikan itu adalah suatu hal yang ringan, yakni menunjukkan muka yang berseri-seri dan mengucapkan kata-kata yang lemah lembut," (Umar bin Khatab).

~Kuatkan dirimu, karena tak ada kekuatan yang mampu membuatmu kuat dan sabar jika bukan dirimu sendiri. Bagaimana caranya?
Cuma ingat firman Allah yang artinya " Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Karena sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar."

~"Setiap tempat punya perkataan yang tepat, dan setiap perkataan ada tempatnya yang tepat(pepatah Arab, anonim)"
Kritik itu perlu. Sebab ada keuntungan dari setiap kritik yang dilayangkan. Kita lebih tau apa kesalahan yang sudah dilakukan. Bisa belajar menerima apa yang pahit dan kemudian menjadi manis setelahnya. Mengasah kekebalan diri, kemudian menjadi lebih kuat menghadapi kerasnya hidup. Tanpa kata TAPI. Selanjutnya kita belajar untuk dapat menempatkan diri. Kapan harus bicara atau diam.

~Kehidupan terus berjalan. Sementara bagaimana dengan jiwa-jiwa yang sepi itu? Adakah bahagia itu menyinggahi? Kalau begitu, kubagikan bahagia yang katanya menular. Bahagia itu dirimu. Sekarang. Bukan besok atau lusa. Jangan hanya menunggu kebahagian datang. Sebab bahagia bukan pemberian. Bukan pula belas kasihan. Kau pantas bahagia. Bahagia itu pilihan. Maka, kau harus bahagia. Sekarang. Iya. Sekarang!!!

~Jauh sekali rasanya, ketika apa yang hendak dilakukan begitu sulit. Semoga amarah dapat meredam bersama sejuknya jiwa. Semoga maaf selalu terucah bersama kasih sayang. Semoga semangat itu tak pudar, mengingat masih sedikitnya tabunganku sebelum kembali pada-Nya. Bukan antusias yang begitu membabi buta atau ambisius yang tak terarah. Melainkan masih tentang tabungan itu. Tabungan yang kan dibawa ketika kaki tak lagi berpijak di atas tanah.

~Jadikan setiap lisan yang diucapkan penuh dengan kebermanfaatan. Serta jadikan setiap kata yang dituliskan, mengandung banyak kebaikan. Kemudian, Allah telah menghadirkan begitu banyak orang baik di kehidupan yang telah kita jalani. Semua hanya untuk mengajarkan kita menjadi orang baik. Karena tanpa mereka, kita mungkin saja tak cukup baik untum bisa menjadi orang baik.

~"Kata-kata mampu menembus apa yang tak bisa ditembus jarum(pepatah Arab)".
Maka berkata-katalah yang baik, sebab perkataan yang baik adalah sedekah. Sedangkan perkataan buruk sendiri adalah goresan pedang yang tak memiliki obat selain maaf. 

~Buliran air mata yang terjatuh adalah tanda kekuatanmu. Bersabarlah. Karena kesabaran akan mengantarmu dekat denganNya. Pasti. Karena itu janji-Nya. Hanya ada sedikit obat untuk mengobati sedihmu. Sama seperti kata pertama. Bersabarlah, lalu kuatkan imanmu. Maka Allah akan mengganti air matamu dengan permata. Insya Allah. 

***PELANGIKU***


Aku begitu mencintainya
pun merindunya
teringat olehku senyumnya yang begitu memikat hati
semangatnya begitu membara,
bahkan tak pernah padam
ia tak pantang menyerah pada gelombang masalah yang kerap menyinggahi hidupnya.
Lembut hatinya,
aku begitu menghormatinya,
menyayanginya,
dia selalu mengorbankan kebahagiannya demi orang lain,
mengingatkanku soal ketiadaan yang pasti,
mengajarkanku bagaimana menjadi wanita kuat, sekuat karang,
bagaimana ikhlas
tersenyum saat kepahitan menyapa dan mampu berdiri di kaki yang lemah ini.
Menjelaskan bagaimana menjadi wanita bijak meski sampai saat ini aku belum mampu.
Keberadaanku dekat atau jauh akan tetap mencintainya.
Ini adalah sejarah, dimana aku menjadi warna yang lain di hidupnya. Ini adalah bukti kekuatan cinta yang kumiliki karena-Nya
aku dan dia saling mencinta dengan warna yang berbeda
kita hidup berdampingan bersama warna lain.
Adalah pelangi indah untuknya.
Untuknya yang selalu kucinta karena-Nya.

Salahku Bukan Karena Hijab

Jika hari ini ku kenakan hijabku, itu karena aku sedang belajar ta'at pada Tuhanku. Bertahap. Dari model putar sana putar sini, tarik sana tarik sini, sampai akhirnya harus di sini(menutup dada dan tidak tipis). Berangsur-angsur terus sampai aku paham arti kata wajib dan syar'i. Namun, masih banyak kurangnya. Menutup mulut (tidak berkata kasar atau diam), menahan amarah, belajar bersabar, belajar menjadi perangai yang baik. Begitupun masih saja tak terlepas dari kealfaan, kemarahan, ketidak sengajaan, kekurang sabaran dan masih banyak. Lantas, apakah hijabku bersalah? Tidak. Bila saatnya aku berbuat salah bukan karena hijabku, tapi karena sifatku yang tidak sempurna. Hijabku adalah perintahNya, pelindungku, kesederhanaan. Jadi jangan kaji sebesar dan selebar apa hijab yang kukenakan. Namun maafkan jika diri ini tidak sempurna. Karena tak ada manusia yang luput dari kesalahan.

Soal Maaf dan Memaafkan

"Dek, si Madun sholeh ya."
"Iya"
"Si Madun sholeh atau sholeha dek?"
"Sholeha"
"Apa?"
"Si Madun sholeha kakak."

Polosnya.....
"Si Madun itu sholeh sayang. Kalau sholeha itu cewek."
Adikku tersenyum malu.
Kutanya lagi, "Jadi si Madun sholeh atau sholeha dek?
"Sholeh kak," jawabnya sambil garuk garuk kepala.
Serunya main sama anak kecil, lucu, polos, ada marahnya juga. Tetapi ada hal yang paling unik dari anak-anak.
Mereka adalah mahluk yang pemaaf. Setelah bertengkar, mereka kembali bermain bersama. Seakan tak ada kejadian apa-apa. Bisakah kita yang katanya manusia dewasa bersikap seperti itu?
Meminta maaf dan memaafkan. Ini tentang kepolosan dan maaf memaafkan smile emotikon

Minggu, 02 Agustus 2015

Satu Paket Derita dan Bahagia

Hujan basahi permukaan bumi yang haus akan air. Gersang berubah menjadi basah. Semua mahkluk bersyukur atas setiap tetes air yang turun. Pagi. Matahari datang dengan senyum dan memberi sinar bahagianya. Bunga-bunga bermekaran. Pepohonan berbunga, dan berbuah sesuai musimnya. Semua terjadi beriringan. Namun tak semua dari kita menyadari hal tersebut. Begitu juga derita. Allah swt selalu memberi tawa bahagia setelah derita. Karena Dia selalu memberi derita satu paket dengan bahagia. Semua diatur seimbang oleh-Nya . So, yakinlah, percayalah, bersabarlah, bersyukurlah. Because Allah beside you, and now keep your smile

Jika Tenggelam Dalam Kebodohan

Pernah merasa ragu atas keyakinan diri sendiri. Berceloteh tentang sebuah perjuangan yang begitu menginspirasi. Memang tak ada kesuksesan yang instan seperti mie instan. Mie instan harus dimasak terlebih dahulu baru bisa dinikmati kelezatannya. Ada sedikit perjuangan di dalamnya untuk mengobati kelaparan. Begitu juga cita. Tak ada yang bisa menghentikan langkah seseorang ketika ia sadar bahwa untuk menjadi sesuatu yang kuat bagi orang lain, maka ia harus kuat untuk dirinya sendiri. Itu segelintir alasan yang menjadi penyemangat dalam hidupku. Karena ada nasehat singkat yang begitu kuat katanya "manusia paling bodoh adalah yang mengabaikan keyakinannya sendiri dan menuruti pikiran semu orang lain (Ibnu Athaillah)."
Dan siapa orang yang ingin dikatakan sebagai orang bodoh?? Hidup ini perjuangan. Iya benar. Dan sampai saat ini pun masih berjuang. Berjuang agar tidak tenggelam dalam kebodohan.

UNTUKMU CALON IMAMKU

***UNTUKMU CALON IMAMKU***
Rindu ini seolah berbicara. Memaksa dan memberontak pada hati. Tapi tidak. Cinta ini harus benar-benar suci. "Dimana ada cinta suci yang diraih tanpa hati yang suci?"
Ini masih tentangmu, yang masih berada dibelantara jiwa. Terlukis namun tak seterang pena menggores. Namun tetap kusimpan dalam do'a. Kamu yang ku tunggu setiap hari, memberi pengharapan untuk masa depan. Memberi warna dalam putihku. Memberi cahaya dalam gelapku.
"Ampuni aku ya Rabb"
Jangan biarkan cintaku terlalu besar kepadanya. Aku takut, jika cintaku lebih besar untuknya daripada untuk-Mu.
Hujan, memberi isyarat hati. Dan masih bercerita dalam diam. Berdegup tak karuan. Rabb, dalam malam kuceritakan perihal ini kepada-Mu. Sejak semua begitu jelas, ku selalu meminta yang terbaik. Tak perlu tampan yang membuatku tak tenang akhirnya. Bekal kesholehannya cukup untukku. Dunia tak kan habis ku kejar, harta tak kan habis ku cari. Namun jika kelak dipertemukan, cukuplah keinginan untuk saling belajar dan mengajar untuk lebih mendekat kepada-Mu.
Siapapun dirimu, kuharap perasaan kita sama. Dimulai dari kesamaan do'a. Bukan penilaian fisik semata. Sebab menyakini bahwa pesona akhlak lebih utama dalam upaya melanggengkan rumah tangga dibandingkan pesona rupa. Untukmu calon imamku, siapapun dirimu adalah yang mampu mengajakku berkarib ajar dalam kesabaran menghadapi kehidupan. Menuntunku menuju jalan yang lurus. Membimbingku dalam berprilaku yang baik. Siapapun dirimu adalah yang terpilih dari setiap do'a yang terpanjat. Aku yakin. Suatu saat akan dipertemukan di waktu yang tepat. Aamiin...

CEMBURU

*CEMBURU*
Ini perihal tentang perasaan yang begitu tajam menikam. Tak ingin ku pupuk karena takut berbuah dendam. Sebab aku bukan malaikat yang tak dapat merasa. Sepuluh tahun berlalu. Hentakan kaki melangkah mendekat dengan awal yang tercipta begitu menakutkan. Ada petuah dalam setiap langkahnya dimanapun berlalu. Entah bagaimana rasa ini bertarung, melawan rasa. Sedetik yang terasa begitu lama. Sebelum akhirnya sebuah pernyataan begitu menyayat hati. "Aku sudah membuangnya!" Benarkah pernyataan itu? Apa cinta itu benar-benar telah mati? Pilu rasanya mendengar pernyataan tersebut. Padahal dulu sebelum akhirnya satu keputusan diambil, ada beberapa negosiasi yang kulayangkan. Namun semua ditolak hanya karena harga diri. Seolah semua adalah salahku. Benar aku mencintaimu begitu besar. Benar aku merindukanmu. Benar saat ini aku masih menyayangimu. Semua itu benar. Agar kau puas atas kesedihanku mengakuinya.
Harta tak membuatku cemburu. Kekayaan juga. Yang membuatku cemburu adalah cintamu yang terbagi dan berlalu pergi dengannya. Aku sadar, besarnya cintaku kalah dengannya. Darahmu. Sementara dalam tubuh ini tak ada darahmu yang mengalir. Mengakuinya aku malu. Karena aku tak berhak atas dirimu. Namun yang harus kau tahu, meski kau berlalu pergi, hati ini masih mencintaimu sama seperti dulu.
Engkau hidup dalam hatiku. Diamku selalu bedo'a untukmu. Lewat malam kuceritakan rinduku. Bersama angin ku kirimkan rinduku. Ku ajak hatiku berdamai dengan keadaan. Semoga suatu saat nanti kau memanggilku, sama seperti dulu. Seperti waktu kau memanggilku sebagai putrimu.
Saat ini bukan lagi saatnya meratapi masa itu. Tapi soal pembuktian. Bahwa aku akan berjuang untuk hidupku tanpamu. Aku bisa. Kuseka air mata, dan ku kubur semua kesedihan. Tak perlu menunggu lama jika harus bahagia. Cukup dengan tersenyum dan syukur yang terus terpatri dalam hati. Karena dengan bersyukur maka hati kan bahagia.

Setia

Guratan cinta yang tulus tak pernah lelah berkarib ajar dengan setia. Mendo'a agar tak menjadi pendosa atas rasa. Adapun setia itu, masih betah berkawan dengan waktu yang terus bergulir. Sementara putik dan serbuk sari itu bergembira ria mentertawakan kesetiaan. Mengejek. Mereka berbincang perihal kesetiaanku. Namun tak pernah gentar hati ini untuk tetap setia bersama waktu. Menunggu waktu itu tiba, meski tak dapat dipungkiri bahwa kesedihan juga terlibat didalamnya. Begitupun jarak. Lama sudah jarak menjadi sahabat diantara kita. Namun kenyataannya sesekali ketika rindu itu kerap muncul, aku masih bisa menjengukmu. Walau hanya dipusaramu. Kenangan di masa itu tak bisa dibeli dengan apapun. Teriakan teriakan tersebab kelupaan. Omelan berupa nasehat. Semua begitu indah. Besar cinta itu yang menjadi alasanku tetap setia. Ketika beberapa saat lagi, istana itu tak lagi menjadi milik kita.