topbella

Minggu, 21 Februari 2016

AMIL ZAKAT, HADIAH MUSHAF & BIRRUL WALIDAIN

Pekerjaanku sebagai pegawai di Lembaga Amil Zakat memberi banyak semangat utuk aku terus belajar. Semakin aku tahu semakin aku malu, bahwa peraturan Allah masih banyak yang belum aku ketahui. Amil Zakat juga salah satu profesi yang disebut dalam Al Qur’an. Tugasku menjemput zakat, menawarkan kota amal, dan kencleng kepada muzzakki (donatur). Bak musafir yang sedang berjihad. Setiap perjalanan memberi pelajaran. Setiap perjalanan adalah semangat. Setiap perjalanan adalah keikhlasan. Setiap perjalanan adalah guru untukku. Sebab berbagai cerita dan nasehat aku dapatkan dari para muzakki.
Aku bahagia mengabdikan diri di tempat aku bekerja. Menjadi bagian dari Amil Zakat memiliki tantangan tersendiri buatku. Menerima penolakan saat menawarkan kotak amal, mendapat penolakan saat menawarkan kencleng atau celengan BERSERI (BERinfaq Sehari seRIbu). Dulu aku pernah menangis saat mendapatkan penolakan. Dalam hatiku sempat menggerutu. Ternyata tidak semua orang dapat menerima ajakan tersebut. Namun hanya keyakinan dari hati yang kumiliki saat itu, bahwa tugasku mengajak siapapun yang ingin melakukan kebaikan.
Suatu ketika, aku mendapat kabar bahwa ibu sedang sakit. Hingga akhirnya aku putuskan untuk pulang melihat kondisi ibu. Kabar yang mengejutan. Setelah berdiskusi dengan ayah dan ibu, akhirnya aku putuskan untuk berhenti bekerja karena keadaan ibu. Birrul Walidain. Sebenarnya ada perasaan sedih saat menganbil keputusan itu.  Tetapi itulah tugas sebagai seorang anak. Mematuhi orang tua, berbakti dan merawat keduanya. Aku percaya Allah sedang menyiapkan pekerjaan baik selanjutnya untukku.
Setibanya di kantor aku di sambut oleh sahabat dan rekan di kantor. Sontak saja aku menagis. Sesak yang kian aku rasakan semakin menjadi. Rasanya berat sekali meninggalkan pekerjaan yang sudah dicintai. Mencari ilmu bersama, beribadah, membantu anak yatim dan mereka yang membutuhkan bersama-sama. Setelahnya aku menemui manager dan menjelaskan perihal sebab pengunduran diriku.
Sebelum benar-benar berhenti, kusempatkan diri untuk berpamitan dengan para muzzakki yang sering ku kunjungi. Seperti biasanya, sebelum berkunjung sehari sebelummya aku menghubungi muzzaki lewat telephone atau SMS.
“Assalamualaikum, Ibu.”
“Wa’alaikumsalam, Mbak.”
Ibu maaf, infaq bulan ini boleh saya ambil besok Bu? Saya sekalian mau pamit Bu.”
“Boleh, mau pamit kemana Mbak?”
“Mau pulang Bu, ke Jakarta. Ibu saya sedang sakit. Jadi saya harus pulang.”
“Ok, ditunggu ya.”
“Insya Allah iya Bu.”
Keesokan harinya aku datang sesuai dengan janji.
“Assalamualikum,” ucapku dari luar pagar. Dan tak menunggu lama khadimatnya datang dan mempersilahkanku masuk.
“Wa’alaikumsalam,” terdengar  jawabandari dalam rumah.
Kedatangannku disambut hangat oleh wanita separu baya dengan menggekan hijab syar’i. Ibu Kusyati namanya. Beliau mempersilahkan masuk dan menyeru agar aku duduk, belian sembari mengambil kencleng yang disimpannya. Aku duduk di ruang tamu yang disampingnya ada sebuah meja dengan sebuah kado dengan warna ungu yang terletak di atasnya. Dalam hatiku berguman, “Ada kado, mungkin ibu hendak pergi menghadiri sebuah undangan dari kolegnya, kalau begitu aku harus bergegas pergi. Takut kalau mengganggu waktunya.”
Tak menunggu lama kemudian ibu Kusyati keluar dan mendatangaiku.
“Apa kabarnya Mbak?” sambutnya sambil mengulurkan tangan dan memelukku.
“Alhamdulillah, kabarnya baik Bu, kusambut uluran tangannnya dan pelukkannya.
“Ibu sehat?”
“Alhamdulillah sehat Mbak.”
Setelah membongkar kencleng, dan beramah tamah. Akhirnya akupun berpamitan, sebab aku takut ibu Kusyati ingin pergi. Setelah aku memasukkan uang dan alat tulis kedalam tas, ibu Kusyatipun mengambil kado tersebut.
“Mbak, ini ada bingkisan untuk Mbak,”sembari memberikan kado itu kepadaku.
“Isinya Al-Qur’an, dibaca ya.”
Aku terkejut, ternyata kado itu disiapkan untukku.
“Alhamdulillah, terima kasih ibu.”
“Insya Allah akan saya baca bu,” ujarku.
“Do’akan saya agar bacaan Al Qur’annya bisa bener ya Bu, dan istiqomah terus.”
“Iya, harus. Kita hidup harus terbiasa berlama-lama dengan Al Qur’an,” serunya.
“Mbak harus semangat ya, dahulukan yang utama dari yang utama. Rezeki sudah ada Allah yang mengatur. Jangan pernah takut dengan hal itu. Ibunya mbak lebih utama. Beliau membutuhkan perawatan Mbak sebagai seorang anak,” ucapnya sambil bersalaman dan kembali memelukku.
“Iya bu, terima kasih ya Bu.”
“Iya, terima kasih kembali. Salam sama ibu dan keluarga di Jakarta,” ucapnya sambil mengantarku ke luar pintu.
“Iya Bu, Insya Allah akan saya sampaikan. Saya juga minta maaf ya Bu. Apabila ada ucapan yang tidak sengaja menyakiti hati ibu.
“Oh iya, sama-sama Mbak,” beliau masih menungguku sampai aku benar-benar pergi.

Setelah menyalakan sepeda motor, kembali kuucapkan salam dan kemudian berlalu pergi. Aku bahagia mendapatkan hadiah Al Qur’an. Aku bahagia menjadi bagian dari Amil  Zakat. Aku juga bahagia menjadi putri dari seorang ibu yang sangat menyayangiku. Aku bahagia berada di sekeliling orang-orag baik. Karena aku belum baik, tetapi aku ingin terus belajar agar menjadi manusia yang baik.