topbella

Rabu, 30 September 2015

MENGADU

Setiap kali mengadu
tersedu
malu
menangis pilu
berseru 
menyeru
tentang hidup yang lalu
Aku akan tetap menghadapMu
di setiap sujudku
malamku
meski harus terjatuh 
dan kembali bersimpuh



27.09.2015

***PELAUT***

Saat menantang badai 
kuharapa diriku tak terkulai
kalah pada kekalahan yang di ratapi
Takut,
Sebenarnya tersemat sedikit rasa kalut
ku jejaki hidup sebagai seorang pelaut
membawa kapal berlayar jauh
melawan angin yang berbisik riuh
aku ingin melukis sejarah dengan tinta emas
kutitip pesan pada raga
agar tegar di medan laga
pada ruh 
agar kuat ditengah gemuruh
menjadi juara di sudut pelabuh

 27.09.2015

SINGGAH

Badai teriak menghantam jiwa
Mengisyaratakan durja
 
Merayu do'a dalam samarah
Saat itu tersusun sumringah
Bahwa aku akan singgah
Nanti....
Setelah kutuai tabung amanah dalam hati
Saat itu,
Saat Dia benar-benar memanggilku,
Jiwaku, 
Berwukuf di rumahMu.


23.09.2015

***KEMARIN***

Peristiwa penting dalam hidup
terulang untuk kesekian kali
dan kemarin adalah yang terakhir
Sikapmu menjelaskan apa yang sebenarnya
Gulungan amarah tak akan pernah sirna sebelum darah membeku
Entah dimana akan kutemukan mantra cinta untuk meluluhkannya
Kemarin 
mengubah hari ini
dan esok
Kemarin
Saat semua buta
aku berusaha melihat jeli
Kemarin
Saat semua sirna 
aku masih harap
penuh
Kemarin
adalah akhir untuk sebuah perjalanan 
dan kemarin....
yang aku tak ingin kembali



22.09.2015

HANYA DIA

Ku cari di semak belukarnya dunia tak jua ku temui
berjalan di rimbunnya hutan
terus berjalan mencari ujung jalan setapak,
menelusuri aspal hitam tak berujung
pun tak membuahkan hasil
hanya air mata yang setia menemani
bersama tawa
Hai jiwa yang kecil
Tersenyumlah!!!
Sebab Dia begitu mencintaimu
tenanglah,
kasihnya lebih dari semua isi bumi ini
jangan risau
sebab kau hidup hanya bertugas untuk menabung, mempersiapkan bekal untuk perjalanan selanjutnya
sebelum akhirnya sampai ke tujuan.
Tegarlah!!
Tanyakan pada hati, kasih sayang siapa yang paling berharga buatmu selain Dia.
Iya, kasih sayang-Nya.
Hanya Dia.



21.09.2015

***MENIKAHLAH DENGANKU***

Mencintamu dalam hati,
cukuplah saja aku yang tahu dan Dia 
ajarkan aku sabar dalam menanti
setia!
Menghujanlah dalam degup jantung ini
Deraskanlah rindu antara kita
Balutlah dingin malam bersama do'a dari hati
Kirimkan kabarmu bersama angin cinta
Ku tunggu dirimu di suatu negeri 
negeri dongeng yang kan kita bina
jangan ragu dengan cintaku yang suci
sebab aku masih menanti bersama asa
datanglah....
dan....
menikahlah denganku

17.09.2015

***SAJAK RINDU***

Rindu adalah aku
yang setia menunggu
dalam barisan yang mungkin tak melulu aku
Cinta, bukan betarti milikku
meski sebenarnya besar harapku
sajak rindu untuk yang kurindu
setiap malam diriku merindu
menengadah tangan untuk merayu
sudikah engkau menjeputku 
mengajak kakiku 
diriku
jiwaku
menemu rindu.
Wahai yang kurindu
tidak butuh puisi untuk semua itu
hanya do'a yang kuramu untukmu
datanglah dengn hal yang sama yaitu
rindu.
Aku yakin rinduku sama seperti rindumu.
Hanya waktu,
kerap ku hitung hari untuk menemani diriku yang sedang rindu
Tuhan, sudikah Engkau memberi restu untukku?
Besarkan cintaku untuMu
agar kutemu dia yang mencintaMu itu.



15.09.2015


***PUPUS***

Aku hanya seonggok bisu yang mengarat
tak mampu menata kata tuk berbahasa
puisi-puisi indahku hancur lebur
garis penaku tak lagi menyata
hanya mampu membayang 
bisik cerita itu tak lagi terurai
pupus!!
segala daya tak lagi mengejar pengharapannya.
Katanya, entah milik siapa hidup ini selain Dia. 
Carut marut pikir berkecamuk dalam dada
adakah hujan mampu menyiram setiap kegersangan
taman hati tidak lagi bersemi
Pupus!!


Enten Miwayani
14.09.2015

BERTEMANKAN SEPI

Kau, 
Kau, tahu?
Siapa yang selama ini setia menemaninya?
Dia adalah aku.
Sepi.
Meski dunia menari dengan riang
Dia tetap memilih aku
bermandikan lara
memupuk durja
Dia tetap memilih aku
Sepi!


14.09.2015

Rindu

Aksara menoreh cinta
menyentuh kasih
menebar ranum
menyeka kesedihan
berselendangkan hangatnya
rindu!!
aku rindu,
merindumu dalam do'a
seperti saat itu dan kini
meski tak lagi bersama




13 September 2015

***AKU MENCINTAIMU***


Aku  mencintamu,
bagai helaan nafas yang tak kan henti,
sebelum akhirnya benar-benar berhanti

Ini adalah kisah tentangku, tentang cinta yang entah dimana akan berlabuh. Aku seorang wanita berusia dua puluh lima tahun, berparas biasa yang tak begitu istimewa. Hanya ada dua lekungan di pipiku. Mungkin dulu pernah ada meteor yang jatuh di sana hingga membentuk kawah kecil. Hahaha, anggap saja begitu. Aku adalah puteri musafir dari negeri antah barantah.
Mengarungi terjalnya aspal hitam tak berhujung. Melewati gelapnya hutan dan menyelami derasnya ombak kemudian terombang-ambing yang kadang kala menghempas keras di karang lautan kehidupan. Terluka, hal yang biasa dalam perjalanan. Namun alam selalu menyediakan penawar agar luka secepat mungkin mengering. Jika tiba saat terlelah, ku coba untuk beristirahat. Bertemu dengan ribuan pasang mata, ketika akhirnya perjalanan memperkenalkanku dengan cinta.
Cinta. Awal yang aku tak mengenalnya. Makhluk seperti apa itu, atau bagaimana wujudnya. Tak dapat terlihat dengan sepasang mata indahku. Gelap. Buta. Namun akhirnya aku faham. Bahwa cinta adalah tak terlihat. Menyapa tanpa disapa. Menyinggahi setiap hati sekehendaknya. Mengolah asa bersama rasa. Mencari tujuan kemana akan berjalan, tak banyak yang ku ketahui perihal cinta. Sebab aku bukanlah penyair handal yang mampu menciptakan devisi baru tentangnya. Sekali lagi, aku adalah  musafir cinta. Namaku Maharani. Musafir yang sedang menyelesaikan studi di Universitas Negeri Medan.
Bangku kuliah mempertemukanku dengan lelaki bernama Zaki. Pria tampan lagi cerdas. Dia adalah lelaki sederhana yang baik. Kegiatan OSPEK adalah awal pertama kali kami bertemu. Sampai akhirnya kami menjadi dekat. Setiap hari bertemu, berdiskusi tentang mata kuliah yang tak kami mengerti saat kuliah. Tak jarang kami menghabiskan waktu di perpustkaan. Mengerjakan tugas dan kerap bercanda bersama. Kami, iya kami. Dia dan aku begitu akrab. Aku bahagia berada di dekatnya. Namun ada getaran dalam hati saat kami beradu tatap. Dunia seakan berhenti. Lidahku kelu. Jantungku berdegup kencang. Perasaan apa ini? Namun aku hanya membisu. Mengacuhkan perasaan ini. Mungkin ini hanya perasaan kagum. Aku tak ingin mengganggu kuliahku dengan perasaan-perasaan itu. Namun keakraban kami perlahan memudar. Saat Zaki memberi kabar bahwa dia akan menikah.
“Ran, datanglah ke hari pernikahanku. Aku akan sangat bahagia jika kamu berkenan hadir.”
“Oh ya, kapan kamu akan menikah?
“Insya Allah bulan depan.”
“Selamat ya, aku bahagia mendengarnya.”
“Insya Allah, aku akan datang.”
“Iyalah, tega amat kamu kalau sampai tak datang.” 
Percakapan seperti apa itu? Siang yang berlalu dengan derasan hujan menghujam jantung. Semua kubiarkan berlalu. Malam ingin kutenggelamkan saja diriku pada gelap yang terpaling gelap. Cinta memang begitu menarik. Tetapi cinta yang salah akan membayar mahal atas segalanya. Hati, bisakah aku berdamai dengan kenyataan? Dia, lelaki yang ku cinta dalam diam memintaku untuk hadir di pernikahannya. Oh malam, sekuat itukah aku? Merelakan orang yang kucinta menikah dengan orang lain. Tak dapat ku hentikan setiap deraian air mata yang bebas menganak sungai. Sepertinya esok aku enggan terbangun.
Jika saja kuberanikan diri untuk berkata jujur, mungkin tak begini jadinya. Kupejamkan mata. Sementara malam bercengkrama mesra bersama sang ratu. Dalam tidur aku bermimpi tentangnya. Dia begitu dekat, membelai rambut dan mengecup keningku sembari berkata cinta. Astagfirullah, dia menangis. Ada apa dengannya. Mengapa ia menangis? Ku tanya sebabnya, ia hanya diam. Tiba–tiba aku terjaga, tersadar bahwa ini hanya mimpi. Kusegerakan kaki melangkah ke kamar mandi untuk berwudhu. Kubaca ayat-ayat dengan syahdu. Hening malam membuat hati begitu mudahnya tersentuh.  Bendungan air mataku kembali pecah.kuceritakan semua pada-Nya.
“ Duhai pemilik hati, aku mencintainya. Tapi aku malu, apa aku pantas memintanya? Padahal dalam waktu dekat ini ia akan menikah. Perasaan apa ini? Biarkan aku menyimpan perasaan ini ya Rabbb.  
Keadaan membuatku tak berdaya. Cinta yang katanya indah namun tak indah menurutku. Aku mengurung diriku dalam kamar. Tetapi sepertinya ibu mengetahui gelagat kesedihanku.
“Nak, apa yang sedang kamu rasakan? Sepertinya akhir-akhir ini ibu perhatikan kamu lebih banyak mengurung diri di kamar. Apa kamu ada masalah sayang?”
Kuceritakan perihal yang mengganggu hatiku kepada ibu. Ibu adalah malaikat yang dikirim Tuhan untuk menjagaku, ia sangat peka jika ada hal yang terjadi padaku. Kupeluk ibu dengan erat, lalu kutumpahkan semuanya melalui air mata. Iya, air mata ini adalah kepedihan. Berkisah tentang cinta yang kusimpam dalam diam. Tentang cinta yang kurajut dalam balutan do`a untuknya.
“Ibu, maafkan Rani,” jawabku sambil terisak.
“ Iya, kenapa nak? Ceritakan pada ibu.”
“Rani jatuh cinta.”
“Bukankah jatuh cinta itu manusiawi nak? Lalu kenapa kamu harus menangis? Ibu, tidak melarang kamu jatuh cinta. Asal kamu bisa menempatkan diri. Pada siapa kamu harus jatuh cinta. Yang terpenting adalah, cintalah kamu kepada Dia Sang Pemilik Cinta. Maka kamu akan berlimpahkan cinta dari orang-orang yang mencintaiNya,” jelas ibu sambil mencium keningku.
“Tapi bu.”
“Tapi kenapa?”
“Rani jatuh cinta pada sahabat sendiri, Zaki. Dan dia akan menikah bulan depan.”
“Bukankah ibu sudah pernah mengingatkanmu, agar kamu dapat mejaga hati. Cinta yang awalnya tiada, akan hadir ditengah seringnya pertemuan kalian nak. Kalau begitu, tepis rasa itu. Lupakan dia. Perbanyak membaca al-qur`an dan lebih mendekatlah padaNya. Sebab hanya dia yang mampu membolak balikan hati manusia. Sudah ah, jangan menangis lagi. Percaya bahwa sakit itu akan menghilang perlahan jika kamu ikhlas. Mencintai sesungguhnya adalah ikhlas dan merelakan yang dicinta bersama cintaya.”
“Ibu…..”
“Sabar ya nak.”
Mendengar penjelasan ibu aku semakin menangis, perasaan ini sangat menyesakkan dada. Aku berhenti di sini. Di akhir perjuangan yang katanya sia-sia. Sebab jika ku teruskan hanya akan menyakiti banyak hati. Besar cintaku tak sebesar nyaliku melawan kehendak orang tuaku. Menyesal. Iya, aku menyesal tak menghiraukan nasehat ibu. Mungkin Tuhan membiarkanku salah sebelum akhirnya aku tahu mana yang baik dan mana yang buruk.
Aku masih mencintanya dalam lembar tersembunyi direlung tak terjamah. Menyimpannya dalam diam berbalut do`a. Merelakannya dalam bait kebahagian yang ia rajut. Dan aku tak lagi berharap untuk sebuah kemungkinan. Meski cinta itu masih membekas. Jika waktu memperbolehkan aku untuk jujur padanya akan ku katakan padanya “Aku mencintaimu, dan akan tetap mencintamu.”


Namun takdir berkata lain. Sejak Zaki mengatakan akan menikah, aku perlahan menghindar darinya. Suasana bersama tak lagi ada. Aku lebih sering menghabiskan waktu sendiri, membeli dan membaca buku di toko buku. Sesekali aku pergi ke taman kota, menikmati alam ditengah kota, air mancur indah penyejuk hati, menenangkan hati di mushollah, lalu duduk di pinggir sungai kecil. Jika bosan, aku pergi ke alun-alun di kota Medan namanya Lapangan Merdeka. Sesudahnya aku pulang. Begitu setiap harinya. Suatu ketika usai perkuliahan Zaki mencariku. Aku berlari agar dia tak menemukannku. Namun aku gagal menghindar. Dia berhasil menemukankku.
“Ran, kamu kemana saja? Aku mencarimu kemana-mana. Alhamdulillah akhirnya aku menemukanmu juga. Aku sedang dalam masalah besar. Entahlah, siapa yang bisa membantuku.”
“Ada apa Zak?”
“Aku sedih Ran, calon istriku.”
“Kenapa? Ada masalah?”
“Iya, calon istriku sedang koma. Sekarang sedang dirawat di rumah sakit Pringadi. Kemarin pagi dia terjatuh di kamar mandi. Kata dokter ada penyumbatan pembuluh darah di kepalanya.” Zaki tak tahan menahan air matanya. Ya Rabb, cobaan apa ini? Kenapa harus aku yang merasaknnya,” isak Zaki.
“Sabar Zak, semua pasti ada hikmanya. Allah sedang menyiapkan rencana indah setelah ini. Betapapun sakitnya hidup tetap Allah memberi penawar untuk segala pesakitan.”
“ Thank`s ya Ran, kamu sahabat paling setia yang aku miliki.”
“Iya, sama-sama. Jangan lebay ah. Biasa aja. Bukankah ini hal biasa yang kita lakukan kala bersama,”sambutku sambil tersenyum.
“Oh iya, setelah ini kamu mau kemana?”
“Mau langsung pulang saja.”
“ Mau ikut gak ke rumah sakit? Soalnya aku mau kerumah sakit nih.”
“Mau, kalau kamu berkenan.”
“Pastilah, gimana sich, kan yang ajak aku. Masak ndak berkenan.”
“Iya…iya....bercanda kali.”
Kami menuju parkiran dan langsung menuju ke rumah sakit. Dalam perjalanan aku tidak banyak bicara. Aku lebih banyak diam sembari membaca buku. Dan Zaki mendengarkan lagu dari radio. Entah apa yang yang kurasakan saat ini. Senang, masa iya aku tega. Bahagia di atas penderitaan orang yang kucinta. Sedih, iya. Aku sedih. Karena tak kuasa melihat Zaki menagis untuk cintanya yang sedang sakit. Jika saja wanita itu adalah aku, entah bahagia seperti apa yang kurasakan. Dalam hatiku tersimpan cemburu, namun aku tak mau menjadi manusia egois. Aku akan tetap bersikap biasa saja. Aku tak mau menunjukkan perihal rasa yang terpaut dalam hati. Cukup hanya Dia yang tau, Sang pemilik Hati. Kukatakan sekali lagi dalam hati, aku mencintaimu meski hanya dalam diam.

***

***TENTANG AIR MATA INI***

Sederhana saja, ini tentang air mata. Berderai namun tak nyata. Terjatuh bahkan bertumpah ruah di rongga hati. Benar saja ini masih tentang air mata. Begitu ikhlas mengajakku menangis tersedu sedan, berkisah tentang pergulatan hati. Kujelaskan berkali – kali, ini tentang air mata. Air mata ini tentang do’a di sepanjang sujud yang tak ingin jauh dari-Nya. Pun tentang kerinduan yang tersimpan begitu rapi. Air mata ini tentang getaran hati ketika tahu bahwa setan turun kepada para pembohong dan penyair. Berdesir darah ini, mengaku ingin memuliakan hidup melalui tulisan namun kalam-Nya begitu jelas menegurku agar menjadi sebenar benarnya penyair yang mulia. Tak hanya sekedar merajut aksara namun melakukan hal yang di syiarkan. Air mata ini tentang dosa yang kuperbuat setinggi gunung, namun masih tetap lalai. Air mata ini tentang perjalananku mengenal kalam-Nya. Tuhan, izinkan aku menjaganya dalam qalbu. Agar kelak ia menemaniku dalam gelap. Memberi syafaat saat waktu itu tiba. Air mata ini tentang keikhlasan, melukis perasaan dalam diam. Air mata ini tentang rasa yang begitu putih, hingga mampu menembus gelap arogansi dan egoisme. Air mata ini tentang bahagia, ketika diri mampu bangkit dari keterpurukan, bangun saat terjatuh bahkan saat kembali terjatuh dan dapat berdiri lebih tegak. Air mata ini tentang perjalanan hidup yang begitu berliku namun ku katakan pada liku–liku itu bahwa aku memiliki-Nya yang menuntunku agar tetap mencari jalan yang lurus. Air mata ini tentang selembar ijazah yang kuraih dengan berpeluh keringat. Meninggalkan kebahagiaan demi menemu kemuliaan. Air mata ini tentang debaran hati yang begitu tersentuh melihat papan rumah yatim diseberang jalan. Semoga suatu saat dapat berkumpul di sana, berbagi keceriaan, bernyanyi, melupakan kesedihan dan menggatinya dengan kebahagian. Air mata ini tentang kebersyukuran. Memiliki mata untuk melihat, mulut untuk bicara, tangan untuk menulis, kaki untuk berjalan, telinga untuk mendengar. Air mata ini tentang ketakutan akan kematian yang begitu pasti. Dan ini hanya sedikit tentang air mata yang menghujan begitu deras. Air mata ini hanya sekelumit dari percikan rahmat agar aku tak melupakan-Nya. Air mata ini belum kering. Dan aku bahagia dengan setiap tetesnya.

Enten Miwayani
Medan 6 September 2015

Sabtu, 05 September 2015

SEDEKAH YUK


Anak : "Ma, ada 1000 g'? Abang mau infak."
Ibu    : " Mau jajan atau mau infak?"
Anak : "Mau infak ma, biar dapat motor ma."
Ibu    : "Apa? Kalau infak bukan dapat motor sayang, tapi dapat pahala. Biar abang bisa masuk syurga," jawab ibu sambil tersenyum.

Entah apa yang ada dipikiran oleh sang anak. Yang dia tahu infak akan mendapatkan sesuatu. Dan sangat dianjurkan 
smile emotikon
Dari percakapan di atas bisakah kita mulai mencontohnya? Bersedekah hari ini dan seterusnya. Selain itu sedekah akan membuatmu kaya. 
Nabi Muhammad saw pernah juga berpesan: 
~" Belilah semua kesulitanmu dengan sedekah"
~"Obatilah penyakitmu dengan sedekah"
~"Perbanyak sedekah, sebab sedekah mampu memanjangkan umur"
~" Bersegeralah sedekah, sebab bala tidak akan pernah mendahului sedekah".
Nah, banyak tuh pesen baginda kita untuk bersedekah. Ayuk buruan sedekah. Kalau bukan sekarang, kapan lagi. Sementara mati tidak memandang tua atau muda. Sakit atau sehat. Nah kalau begitu, bersedekah yuk 
smile emotikon

smile emotikon

MIMPI

Pagi yang sunyi. Sementara aku masih duduk membicarakan tentang mimpi. Bertanya pada diri, apa aku harus menyerah pada mimpiku? Apa aku salah memiliki mimpi? Apa aku tak berhak atas mimpi - mimpi yang pernah ku bangun? Aku ingin melompat lebih tinnggi, dengan kakiku. Sayapku sedang patah, dan sedang ku jahit. Aku tak ingin menyerah. Siapapun tak berhak melumpuhkan mimpiku. Aku berjanji, akan menjadikannya nyata. Meski harus terjatuh berkali-kali. Rumput-rumput hanya diam. Tak sedikitpun menjawab pertanyaanku. Mereka hanya asik berayun-ayun. Menikmati pagi. Aku???? Hanya mematung. Jika saja kumiliki pisau tajam, ingin ku tikam jarak yang begitu jauh. Agar aku dapat keluar dari belenggu waktu dan jarak. Namaku Maharani. Aku tak kan menagis apalagi menyerah. Mimpiku adalah jalan. Jalan menuju kemuliaan. Bersama penaku, akan kurajut aksara demi aksara. Dan ku katakan, ini mimpiku. Aku yakin bisa. Dan kalian? Apa kalian memiliki mimpi? Lantas, apa kalian hanya bermimpi? Jangan!!! Jadikan mimpi itu nyata.