topbella

Sabtu, 08 Oktober 2016

PERNIKAHAN BERSURAI MAUT

Temui aku di surga, karena dunia tak lagi menjadi tempatku mendapatkan kasihmu.

Rani terlihat cantik dengan gaun kebaya putih dan hijab syar'inya. Sembari memoles sedikit make up pada wajahnya. Ia duduk di depan cermin sembari tersenyum. Baginya menikah adalah keputusan terbaik. Sebab ia mengerti bahwa selangkah ia keluar dari rumah maka banyak setan yang mengikutinya dari belakang. Ia hanya ingin menjaga diri dari fitnah dan menjadi hamba Allah yang baik. Sedang di sekitar Mesjid Al Hidayah, telah ramai handai taulan dan sanak saudara dari pihak calon suaminya yang sedari tadi sibuk berlalu lalang menyiapkan segala sesuatu untuk persiapan akad nikah. Disana tampak wajah sumringah dari teman-teman mereka yang sudah tak sabar ingin menyaksikan langsung acara sakral tersebut ditambah ingin melihat wajah cantik Rani.

***
Rani telah selesai dirias dan siap keluar dari salah satu ruangan jika ijab kabul selesai diikrarkan. Langit biru pagi itu seketika menjadi mendung seolah ia mengerti perasaan Rani. Cericitan burung terdengar dari jendela, seolah mereka sedang bercerita tentang kelabu, dan tuan putri yang siap menikah. Dedaunan yang berayun-ayun juga berbicang-bincang tentang kabar bahagia itu. Rani bahagia, tetapi ia tak sepenuhnya bahagia. Ada ruang di hatinya yang kosong. Tak terasa air matanya berderai. Bibirnya kelu.

"Ibu, sebentar lagi Rani menikah. Pasti ibu sudah bahagia di sana”, gumamnya dalam hati sambil menatap jauh ke arah jendela.

Pikirnya terus melayang, teringat pesan ibunya, “Nak, pergilah. Pulang jika sudah kau dapatkan apa yang kau cita-citakan. Maafkan ibu nak, tidak bisa menyekolahkanmu sampai tinggi", ujar wanita renta itu. Dia duduk di kursi tua yang berada di teras rumah. Sambil mengipas-ngipaskan kemonceng di sekitar kakinya. Begitu setiap hari dihabiskan waktunya. Sebab kakinya tak lagi kuat. Rambut lebat dan ikalnya sudah memutih. Giginya habis, kulit segarnya berubah menjadi keriput. Belum lagi ingatannya yang mulai memikun. Tapi tidak dengan sholatnya. Entah apa yang ada dibenaknya. Setiap saat ia ingat akan sholatnya. Hingga menua ia enggan melupakan tugas wajibnya. Setelah berbincang panjang lebar Rani menatap wajah ibunya lama, seolah ingin menghabiskan waktu lebih bersamanya. Rani memeluk ibunya sangat erat-erat.

"Ibu, do'ain Rani, semoga bisa menjaga diri dan kembali sudah menjadi seorang sarjana", katanya sambil menahan buliran air mata.

***
Sesaat saja ia menapakkan kakinya diterik kota Jakarta. Burung besi telah membawanya terbang melintasi pulau Sumatera. Kota dimana tak lagi tercium wangi embun pagi. Belum lagi setiap paginya tampak banyak orang hinggar binggar dan berdesakan. Tak ada yang tak bedesakan, di busway, kereta, hingga jalanan macet adalah makanan sehari-hari bagi semua orang yang tinggal di Jakarta. Ada yang aneh dari Jakarta, mengapa orang-orang sibuk mengejar lembaran demi lembaran rupiah di kota ini. Enam tahun Rani menimba ilmu di salah satu Universitas swasta di Jakarta. Pagi ia bekerja sebagai pelayan di salah satu rumah makan dan malamnya kuliah. Gajinya cukup untuk membayar kos, makan dan membayar uang kuliahnya. Sisanya sebagian ia kirim ke ibu dan sebagian lagi ia tabung untuk kebutuhanya.

***
Di hari spesial itu harusnya ia bahagia. Tapi tidak dengan Rani. Ia menahan rindu kepada ibunya. Ibu yang telah berpulang saat ia sedang menyelesaikan tugas skripsinya dan bejuang mewujudkan mimpi ibunya menjadi seorang sarjana. Tapi, keadaan tak mengizinkan untuk melihat wajah terakhir ibunya. Ibu yang merawatnya sejak kecil. Dulu, ibunya adalah seorang pedagang sayur keliling yang menemukannya saat melintasi tempat pembuangan sampah dalam sebuah kardus. Suaminya telah berpulang lebih dulu. Hingga tak sedikitpun Rani tahu bagaimana wajah dan sosok ayahnya. Rasa rindu yang terus menggerogoti pikirnya, begitupun jasadnya. Ia menangis, dan terus berandai-andai. Andai saja pernikahan ini di kampung halamanku. Andai saja aku punya ibu di sini. Andai saja ibu yang mengantarku ke pintu pernikahan. Andai saja ibu yang membantuku memilihkan gaun pengantin dan menyiapkan semuanya. Ia menangis tersedu-sedu. Tiba- tiba dadanya sesak, tampak ia menahan perih di dadanya. Pandangannya mengabur. Semua berubah menjadi gelap. Kerongkongannya terjepit. Tubuhnya mengigil seketika, hingga tak bernafas lagi. Rani pergi dan tak pernah kembali. 

"Ibu, perjalananku berhenti sejenak. Ini jalan terpilih, bukan atas inginku, tapi ini skenario-Nya. Aku kembali berjalan mencari halte selanjutnya dan mencari cinta-Nya. Dan engkau adalah kado teristimewa dalam hidupku. Aku menyayangimu. Ini adalah rasa, dimana aku pernah menjadi bagian hidupmu. Terima kasih sudah menjadikanku dewasa dan merawatku, temui aku di perjalanan selanjutnya, karena dunia tak lagi menjadi tempatku mendapatkan kasihmu”.

0 komentar:

Posting Komentar