Agaknya matahari pagi
ini malu bercerita tentang malam yang berlalu kelam. Sehingga pagi ini sendu,
diawali dengan rintik hujan. Memecah keheningan. Memaksa mata terbuka dan
senyum menyambut pagi datang. Kumulai beranjak.
Hari ini, ku ulangi
perjalanan itu untuk yang ke sekian kalinya. Menikmati setiap langkah dengan
kuat. Sebenarnya ingin berlari kencang namun ternyata aku sudah lelah. Sampai
akhirnya harus berjalan menyusurinya dengan tertatih – tatih. Tak mengapa.
Karena seharusnya memang begitu. Aku mengerti, untuk sebuah keberhasilan maka
ada proses sulit yang harus dijalani. Dan ini adalah proses itu. Ku sudahi
berbicara pada diam.
Langkah pertama membuka
pintu gerbang sekolah tempatku menimba ilmu kala itu. Ku lihat sudah banyak yang
berubah. Ku perhatikan pintu sekolahku yang sudah baru. Begitupun dinding –
dindingnya yang tak lagi terbuat dari papan. Bangga rasanya bisa menginjakkan
kaki lagi di tempat ini. Kuberanikan diri memasuki ruang guru.
“Assalamualaikum.”
“Wa’alaikumsalam…”
“Eh ada tamu, sini nak.
Silahkan duduk.”
“Terima kasih, Bu.”
“Apa kabarnya nak?”
“Ahamdulillah kabarnya
baik, Bu.”
“Gimana kuliahnya? Sudah
selesai belum nak?”
“Alhamdulillah sudah, Bu”, ujarku.
Tak menyangka, ternyata
guru-guru masih mengenaliku. Senang rasanya bisa bertemu dengan para pahlawan
itu. Pahlawan tanpa tanda jasa. Setelah bicara panjang lebar, dan aku
berpamitan pulang. Memang tak begitu ada yang spesial dari pertemuanku hari
ini. Tapi ada satu pesan yang disampaikan salah seorang guru kepadaku hari ini.
“Di dunia ini tak ada yang tak akan berakhir
nak, semua akan berakhir. Jika hidup sejatinya berakhir dengan kematian,
begitupula dengan hal yang lain. Kesenangan, kesedihan, kejayaan, kemiskinan
semua akan berakhir. Maka jangan pernah takut menghadapi kehidupan. Jadikan
perihal sabar tetap tinggal di hatimu. Jangan pernah tanam bibit kebencian pada
siapapun, jadilah pribadi yang pemaaf. ” ujarnya sambil mengantarku ke depan
pintu dan kemudian memelukku.
“ Iya bu, pesan ibu
akan saya ingat”.

0 komentar:
Posting Komentar