topbella

Jumat, 29 Januari 2016

"CINCIN"

 Untuk masa lalu yang indah dikenang
ingatlah aku dalam keheningan
Bicaralah pada bulan
Katakan bahwa kita menatap satu bintang yang sama
agar terasa begitu dekatnya kita meski sebenarnya tidak
Mencari di ribuan kilo jauhnya
di dalamnya dasar lautan tak terjangkau
di luasnya langit tak terjamah
Bagaimana mungkin akan menemukanmu.
Usaha kusudahi, karna tau itu tak kan mungkin terjadi.
Bisa jadi hanya sebagian kecil kemungkinan itu.
Besar bagiNya jika Dia menghenggaki.
Paling tidak aku sudah mencobanya walau tau itu mustahil

“ Selamat sore, mas dan mbaknya mau pesen apa ya?” sapaku saat memecah perbincangan  sore itu.
Berawal dari pertemuan di sebuah restoran tempat aku bekerja. Awalnya aku hanya kagum pada satu sosok diantara mereka. Entah siapa namanya. Setelah semua makanan dihidangkan tak lama kemudian adzan maghribpun berkumandang, sebagai tanda berbuka puasa. Tetapi aku sendiri masih sibuk melayani para tamu yang hadir. Maklumlah, sudah menjadi kewajiban seorang pelayan restoran untuk melayani pembeli. Walau demikian tak lupa kutuniakan kewajiban untuk berbuka, dengan seteguk air putih. Di mushollah itu kami bertemu kembali. Sosok itu sudah terlebih dahulu menunaikan shalat. Sementara aku menyusul di belakang namun tak menjadi makmumnya, sebab tak ada niat untuk menajadi imam ataupun makmum. Hanya ada pengaduan sorang diri pada-Nya tanpa komando seorang imam layaknya di Mesjid. Namun aku tetap tak perduli. Aku hanya asik dengan kesibukannku mempersiapkan diri untuk bertemu dengan Sang Maha Esa. Usai shalat aku kembali ke aktifitas semula.
“ Mbak kita minta billnya dong!” suara dari arah meja itu memanggil dan melambai ke arahku. Sesegera mungkin ku hitung jumlah bilangan pada bill lalu kuantarkan.
“Semuanya berjumlah Rp. 235.000,- mbak. Mbak ada yang mau kenalan,” ujar salah satu dari merka sambil menunjuk ke sosok pria yang kutemui di mushollah tadi. Pernyataan yang mengangetkan. Sesekali aku mencuri pandang dengannya. Aku malu.
 “Nama mbak siapa? Udah punya pacar belum?” sambut temannya yang lain. Aku hanya tersenyum simpul. “Cie…cie……,” sorak teman – teman yang lain bersamaan. Wajahku memerah menahan malu. “Kalau mbak malu, simpan saja nomor telponnya mbak. Biar nanti teman saya yang langsung hubungi mbak. Atau mbak catat saja nomor telpon teman saya!” ujarnya sambil memberikan potongan tissue yang bernomor telpon. Dihadapan mereka aku seolah acuh dan tidak begitu memperdulikan gurauannya. Setelah mereka berlalu aku mulai memperhatikan nomor telpon itu. Mana mungkin seorang terpelajar itu mau berkenalan denganku, apalagi sekedar berteman. Tetapi dugaaku salah. Dua bulan setelah pertemuan tersebut dia menghubungi.
Kring..kring….
Dering  handphon berbunyi  sebegitu nyaringnya. Segera kuraih dan kulihat, ternyata ada nomor baru yang masuk. Panggilan pertama tak begitu kuhiraukan. Tapi ternyata nomor itu berulang kali menghubungiku. Akhirnya kuangkat panggilan masuk itu.
“ Halo, Assalamualaikum.”
“Wa’alaikumsalam”.
“Maaf ini siapa?”
Aku Akbar, yang kemarin buka puasa di restoran tempat kamu bekerja. Masih ingat enggak?”
“Hmmmmm… iya, aku masih ingat. Oh iya, ada perlu apa?”
“Enggak, pengen ngobrol aja. Oh iya, ngomong –ngomong kita belum kenalan. Nama kamu siapa?”

“Aku Naila.”
“Senang bisa berkenalan dengan kamu” sapanya.
“Iya, sama. Aku juga. Akbar yang kemarin pakai kaus warnah merah kotak-kotak ya?”
“Iya, kita kan juga ketemu waktu shalat maghrib di musolah.”
Iya, aku hanya ingin memastikan saja. Aku takut salah orang. Udah dulu ya. Soalnya aku masih banyak kerjaan.”
“Oh iya, maaf ya mengganggu. Semoga dari perkenalan ini kita bisa saling berbagi ilmu, amal dan kebahagiaan. Aamiin.”
Sejak perkenalan itu dia sering menghubungi. Awalnya aku tak begitu menghiraukannya. Tetapi keramahanya akupun merasa nyaman.  Selain itu, dia juga sosok lelaki yang sholeh. Dua bulan setelah perkenalan itu, kami begitu akrab. Entah apa namanya. Perhatian demi perhatian dia berikan. Persaan ini mencair, bak coklat terkena air panas. Luluh. Itu judulnya. Entahlah, tapi itu nyata. Semakin aku menghindar semakin kucari dia setiap celah diamku. Sudahlah. Itu cinta. Cinta tak mengenal siapa tuannya, datang tak bersalam dan pergipun begitu.
Januari 2009 silam kami berpisah, aku melanjutkan kuliah di Jakarta. Malam itu, kami bertemu. Maklumlah, selama kenal dengannya kami jarang bertemu. Lebih sering berkomunikasi lewat telepon. Kabar kepergianku itu mengejutkannya. Hingga aku harus menjelaskan semuanya. Malam itu di taman sudut kota Medan, kami bertemu. Taman Gajah Mada namanya. Tempat itu adalah taman kota yang dibangun oleh pemerintah kota Medan. Selain untuk nongkronya anak muda mudi, taman itu juga sering dibuat untuk berantai bersama keluarga dan tempat untuk olahraga.
“Kenapa kamu mau pergi? Apa di sini tidak kamu tidak nyaman? Atau ada alasan lain?”
“Aku yaman di sini, tapi aku mau menegejar cita – cita. Aku ingin membuktikan pada ayah kalau aku bisa. Aku enggak mau dipandang sebelah mata. Hidupku pahit. Aku tak mau hidup jika tidak berguna nantinya. Kamu tidak akan pernah mengerti bagaimana hidupku. Yang jelas hidupku pahit.”
“Apa aku tidak boleh tahu, apa hal itu terlalu pribadi sampai aku tak boleh mengetahuinya?”
“ Iya, maafkan aku.” Jawabku sambil menahan air mata agar tak jatuh.
Kulihat diapun begitu, menahan tangis. Terlihat dari matanya yang berkaca-kaca. Hatiku bergejolak. Di sisi lain aku mulai menyayanginya namun harus kurelakan demi masa depan. Hidup adalah pilihan. Dan aku memilih untuk meninggalkannya. Hidup harus tetap berjalan meski akhirnya harus rela tak bertemu dengan orang yang disayang. Hijrah. Iya, aku harus hijrah. Tekadku sudah bulat. Malam itu usai berpamitan dia mengantarku pulang. Hanya lambaian tangan dan tatapannya yang kuingat. Terakhir bertemu, begitu menyesakkan dada.
Sampai akhirnya tepat tanggal 28 Januari 2009 aku berangkat ke tanah Jawa, Jakarta. Di sana tugasku hanya belajar. Beradaptasi dengan berbagai suku, ras dan agama. Aku senang dengan ini semua. Hal baru yang belum pernah aku temui. Kesibukan demi kesibukan membuatku lupa akannya. Nomor handphone yang biasa menghubungiku sudah tidak pernah lagi menghubungi. Bahkan kucoba menghubungi namun selalu nona veronica yang selalu menjawab. Perlahan–lahan aku mulai lupa. Hanya cincin pemberiannya yang menemaniku setiap hari. Di cincin itu namaya diukir. Iya. Cincin itu. Dulu, yang pernah ia berikan padaku. Ia, cincin itu. Jika merindukannya aku hanya memandang dan memanggilnya dalam hati. Berharap diapun merasakan hal yang sama.
Tak terasa, enam tahun berlalu. Malam itu aku begitu merindu. Tapi kemana akan kucari. Kembali kubuka buku harianku yang kusam. Kuteliti nomor telephone yang tercatat di situ. Kembali kucoba semua nomor telpon yang berhubungan dengannya. Namun usahaku gagal. Dan akhirnya aku berhasil menemukan satu nomor telepon temannya yang saat itu menggangguku saat pertama kali bertemu.  Hery namanya. Hatiku berdebar – debar, berharap ada titik terang dari pencariannku.
“Assalamualaikum.”
“Wa’alaikumsalam, maaf ini siapa?”
“Ini aku Naila kak.”
“Naila mana?”
“Aku Naila, pelayan restoran yang waktu itu. Masih ingat enggak? Waktu itu kita pernah bertemu di restoran, bareng sama Akbar.” Seruku berharap ia masih ingat.
“ Oh iya, kenapa?”
“Kak, aku mau minta nomor telepon Akbar. Boleh enggak kak? Aku mau menyambung silaturrahmi sama dia. Udah lama juga kan kita nggak berkomunikasi.”
“Ada, tapi nanti aku coba tanya dia dulu ya, soalnya dia pesen kalau mau kasih nomor telponnya izin dulu. Makanya saya nggak berani kasih nomornya ke kamu.” Jelasnya.
“Dia sudah menikah kak?” tanyaku meyelidik.
“Oh belum, tapi dalam waktu dekat ini dia akan menikah. Mei rencanaya, insya Allah.”
“ Titip salam buat dia ya kak.”
“ Iya, nanti saku sampaikan.”
Kabar yang membuatku entah senang entah sedih. Kenapa tidak menungguku pulang. Aku sedih, tak terima. Lalu apa alasanku untuk bersedih. Enam tahun dilalui tanpa dia. Apa aku pernah berfikir tentangnya. Jika ia, itu hanya sesaat menahan rindu. Tapi sudahlah. Cinta itu telah pergi. Jauh sebelum eman tahun terlewati begitu saja. Cinta telah memilih. Tak ada hakku untuk kembali. Jika ada itu hanya kemungkinan kecil. Cinta, begitu naïf rasanya jika aku memaksa. Egois rasanya. Waktu, biarkan aku berlalu di terpa helaan angin. Ikhlaskan hatiku untuk melupakannya. Tak mengapa semua terjadi dengan pilihan terbaik. Meski terselip senyum pedih dalam hati. Ini jawaban atas sesak itu. Do'a terbaik selalu terpanjat sebagai penawar
agar tak terasa sakitnya. Tunggu cinta itu. Ketika semua terabadikan. Saat itu engkau akan tahu betapa getir waktu itu terlewati tanpamu.
Aku yakin Allah sudah siapkan lelaki terbaik untukku. Terbaik untuk dunia dan akhiratku. Aamiin, gumanku dalam hati. Perlahan kukeluarkan cincin yang melingkar manis di jariku. Kuajak hati untuk ikhlas atas semua yang telah terjadi. Hanya dengan ikhlas semua dapat terlewati. 

Rabu, 27 Januari 2016

PENDONGENG

Suara kebahagiaan begitu setia menanti
Bersegera datang dan  memberi jejak
Meninggalkan tawa
Bercengkrama dengan celoteh polos
Melukis keindahan pada kertas putih
Begitu harapnya

Dan suatu saat akan pasti
Memerankan peran
Menceritakan beribu khayal
Dan akan menjadi nyata
Saat ini adalah proses
Menjadi indah belum saatnya
Tetapi,waktu itu kan tiba
Menebar cinta bersama ceria
Menabur kasih untuk keabadian
Mencetak kahlak bersama cerita
Untuk suatu kemudian yang pasti




Jakarta, 2014

UNTUKNYA YANG HILANG


Di hati ini ada dia
Dia yang pernah bersamaku
Meski kini telah hilang
ketika merindunya
berharap dunia adalah tempatnya.
Jika tidak,
maka kehidupan abadilah yang aku tunggu.

Tuhan katakan padanya yang kurindu
Aku baik.
Saat ini aku ada bersama dia titipan-Mu.
Dia adalah waninta cantik yang berhati mulia.
Kupersembahkan syukurku untuk-Mu
Kau izinkan aku bersamanya
sebagai ganti ia yang telah pergi dan hilang.
Dia wanita cantik berhati malaikat

Tuhan
jaga dia untukku,
jangan biarkan dia menangis,
aku hanya sedang belajar untuk menjadi yang terbaik.
Aku ingin menjadi do'a ketika kelak ia kembali padaMU.



Jakarta, 27 Januari 2016