topbella

Minggu, 14 Juni 2015

Jum'at Berkah

"Assalamualaikum."
Terdengar suara dari luar. Aku pun langsung turun dari atas untuk segera membukakan pintu. Ternyata adik laki-lakiku baru saja pulang dari sekolah. Sambil membuka pakaian dia langsung merebahkan diri di sofa.
"Mas, ayo siap-siap buat shalat Jum'at," ujarku.
"Iya, Mbak ... bentar lagi,".
"Mas, kalau datang shalat Jum'at lebih awal
akan mendapat pahala yang berlipat ganda," sahutku kembali.
Dia masih saja tak menghiraukan. Dia lebih memilih untuk tetap tiduran di sofa sambil menonton televisi. Hatiku hanya ingin adikku menjadi lelaki yang ta'at. Sehingga tak lelah rasanya jika sedikit memaksanya untuk segera menunaikan salat Ju'mat. Lagipula datang ke mesjid lebih awal kan, lebih baik. Datang ke mesjid lebih awal juga merupakan perbuatan yang utama bagi laki-laki yang akan menunaikan shalat jamaah Jumat. Sebagaimana sebuah hadist yang menyebutkan, dari Abu Hurairah berkata, Rasulullah SAW
bersabda:
Pada hari Jumat di setiap pintu masjid ada beberapa malaikat yang mencatat satu persatu orang yang hadir sholat jumat sesuai dengan kualitas kedudukannya. Apabila imam datang atau telah naik mimbar, maka para malaikat itu menutup lembaran catatan tersebutlalu mereka bersiap-siap mendengarkan khotbah sholat Jumat. Orang yang datang lebih awal diumpamakan seperti orang yang berqurban seekor unta gemuk, orang yang datang berikutnya seperti yang berqurban sapi dan orang yang datang berikutnya seperti orang yang berqurban kambing. Yang datang selanjutnya seperti orang yang bersedekah seekor ayam dan berikutnya yang terakhir seperti orang yang bersedekah dengan sebutir telur. (HR. Bukhori).

Tak lama kemudian, aku mulai memanggilnya. "Mas, ayo cepetan. Mau shalat jum'at enggak?"
"Iya Mbak, Mas berangkatnya nanti saja. Kalau sudah adzan," jawabnya.
"Loh kok begitu? Emang kenapa"? tanyaku bertubi-tubi.

Akhirnya dia pun merasa risih dengan teguranku dan menjawabnya dengan nada yang agak sedikit
keras. "Mas suka menangis kalau dengerin ceramahnya Mbak. Makanya Mas Uta maunya
langsung shalat aja."
"Mas Uta tahu gak, kenapa Mas Uta menangis?" tanyaku pelan sambil tersenyum.
"Gak tahu Mbak."

"Itu karena hati Mas terlalu lembut. Makanya tersentuh hatinya kalau denger ceramah."

Dia hanya diam setelah mendengar ucapanku. Tak lama kemudian dia pun bergegas ke mesjid
dan berpamitan. Do'aku untuknya agar selalu menjadi anak yang sholeh untuk mama dan papa. Menjadi imam jika papa sedang tak berada di rumah.

0 komentar:

Posting Komentar