topbella

Senin, 20 Juli 2015

Cermin

Benar, jika manusia butuh cermin. Agar dapat melihat apa yang sudah dilakukan, atau apa yang orang lain sudah lakukan. Akan tetapi, terkadang diri kita bisa menjadi cermin dari orang lain. Seperti nasehat ibu. Katanya, " Nak, kamu itu adalah cermin dari mama dan papa. Jika kamu baik, berarti kami sebagai orang tua juga baik di mata orang lain. Tetapi jika tidak, berarti kami sudah gagal mendidikmu. Membiarkanmu tidak baik di tengah-tengah orang banyak." Pesan itu adalah harta yang kumiliki, yang kuyakin tidak dimiliki oleh siapun kecuali aku dan ibuku. Izinkan aku menjadi cermin yang baik untukmu ibu. Perasaan ini masih berbincang - bincang di kepalaku dengan mematung. 

Hari ini. Dimalam yang paling sunyi, aku berjibaku dengan buliran air mata yang tak terbendung. Menahan rindu terpaling rindu. Menanti fajar datang bersama terang dengan warna baru. Hidup adalah pilihan, dan aku memilih sesuatu yang teramat sakit untuk sedikit bahagia. Bekerja keras untuk sebuah janji. Apapun hasilnya, aku tak pernah takut. Sebab, Allah tak pernah meninggalkanku. Segalanya kuserahkan kepada-Nya. Sebanyak apapun rencana yang tertulis, Allah adalah pemilik kehendak atas segalanya karenanya aku yakin. 

Terselip pinta di malam dengan semilir angin yang tak tersentuh dan terhirup olehku. Jadikan ke dua kaki ini kuat untuk berdiri menompang diriku sendiri. Jika sukses menyinggahiku, akan kukatakan kepadanya. " Mama, aku bahagia memilikimu. Memiliki harta termahal di dunia. Do'akan aku, agar tetap menjadi cermin yang baik untukmu, untuk papa, opa, oma, keluarga kita."

Terima kasih ya Rabb. Sungguh tak ada dusta atas ayatmu yang tak henti membuatku menagis. "Fa bi ayyi ālā'i Rabbikumā tukażżibān" (Maka nikmat Tuhan yang manakah yang kau dustakan?). Terima kasih ya Rabb. Meski aku terkihat miskin, tetapi aku sebenarnya adalah kaya. Karena Engkau telah mengirimkan banyak kelurga untukku. Ampuni dosaku yang masih asik dengan kelalaian. Jadikan aku wanita yang baik itu untuk ibuku, ayah dan keluragaku. Aamiin.....






Sabtu, 04 Juli 2015

Teriring Salam Untuk Ibu

Teriring salam untuk ibunda
ibu, maafkan mata yang enggan terpejam
gelisah hati kian menari di kelam malam
gundah di antara diam
lelah teramat sangat
peluh bercucuran,
namun bisik tak lagi berisik
terang yang terus benderang
menjaga kesucian hati
agar tak terkotori oleh sumpah serapah
apalagi dendam yang berdendang
jaga aku dalam do'amu
agar lurus jalan yang kan ku tempuh
ikhlaskan langkah dan ragaku
untuk dekat denganmu melalui do'a.
Ibu, cinta ini sungguh besar adanya
namun...
Ada tirai diantara kita
kiranya maaf sudah terlayangkan
hanya reportase masa itu tak dapat diabaikan
kerap kali muncul saat celoteh itu keluar dari ronggamu
ibu, maafkan aku
tak seharusnya aku jujur tentang perasaanku
tapi ketahuilah,
ini masih tentang masa lalu
ibu.....
ajarkan aku memanggil hatimu
karena kenyataan berkata
tak kumiliki hak atas semua itu
jika ada obat yang mampu mengobati luka hatiku, maka akan kutenggak,
tak perduli jika harus operdosis
bantu aku mengobatinya bu
bantu aku melupakan catatan kelam itu
setidaknya aku ingin berdamai dengan masa itu
ibu, aku ingin mengukir tawa bersamamu
walau hanya sejenak
ibu, izinkan aku terlelap dalam pelukmu, merasakan hangatnya...
Ibu,
ibu,
ibu,
banyak keluh yang ingin keterangkan kepadamu
akan tetapi rasanya mustahil
karena hati kita tak pernah bercerita tentang apapun
ajarkan aku ilmu ikhlas yang engkau miliki
kesabaran yang tak terbatas
maaf yang luas
agar lelak.....
ketika ruh tak lagi di raga
aku bahagia melepasmu
bahagia dengan tidur panjangku

Senandung Rindu

Senandung rindu ini juga masih tentangmu
Dalam tunggu yang menahun
mencintai, meski sepi membujur kaku di dalam dada
menjasad abadi dalam Qalbu
Sama halnya seperti apa yang pernah terjadi padamu, hanya saja keyakinan masih enggan berbicara
berdebar hati saat mengaku
pun air mata,
tak kuasa mengalir saat menggiring rasa
Demikian prahara itu!!
Masih kusimpan rasa dalam do'a
Ku ramu cinta dalam tetap diam
Merayu-Nya.
Merayu-Nya untuk senantiasa memantaskanku
Kiranya pernah ada awal yang memaksaku untuk menyerah
Kini kuberanikan diri ini untuk merayu-Nya lagi
Apakah karena 1001 do'a yang terselip???
Atau,
Karena hati yang masih malu-malu??
Air mata menjadi saksi menderasnya rindu di hati!!
Datanglah suatu waktu nanti
Dimana kau akan puas mendiami teduhnya cinta
selama yang kau inginkan
membesarkan cinta dan rindu
Sungguh,
adalah do'a yang mampu mengubah takdir yang tertulis
teruslah merayu-Nya
meyakinkan hati
Jangan biarkan ragu menyinggahi jiwamu
karena masih ada cinta di sayap rindu yang sebenarnya merindu