topbella

Senin, 08 Juni 2015

Rahasia

15 Mei 1990

        Hari itu adalah hari yang akupun tak tau hari apa. Tertulis menjadi identitasku. Entah siapa yang mendapatkan ide untuk menjadikan itu sebagai identitasku. Apa dasarnya, akupun tak tau. Semua sudah melekat menjadi dan orang lainpun banyak tau hal itu. Enten Miwayani adalah namaku. Aku biasa dipanggil enten atau yani oleh teman – temanku. Enten adalah bahasa jawa halus yang artinya ada. Miwa berarti minggu wage dengan keindahan dan keistimewaannya. Yani sendiri memiliki arti jiwa atau diriku sendiri. Jadi arti dariEnten Miwayani adalah Adanya aku dalam keuarga pada hari minggu wage dengan keindahan atau keistimewaan yang melekat pada jiwa atau diriku. Dan semoga sampai kapanpun aku berharap arti nama tersebut dapat menjadi berkah yang kemudian menjadi istimewa ketika aku berada dimana saja. Aamiin……..
Begitulah harapku dalam sebait do’a. Pemberian sebuah nama selesai sampai di situ, dan perjalanan hidup baru akan dimulai. Pada dasarnya aku sama seperti gadis kecil lainnya yang ingin bermain bersama teman yang lain. Tapi itu tidak terjadi padaku. Aku banyak menghabiskan waktu untuk bermain dan belajar dirumah. Aku tak pernah tau, mengapa aku merasa berbeda dengan anak – anak sebayaku. Untuk bermain saja aku harus diam diam pergi dan bersembunyi. Dan jika kemudian pulang ke rumah, aku sudah ditunggu dengan amarah ibu yang menakutkan. Aku memang agak sedikit nakal. Tapi aku tak pernah tau mengapa ibu bisa menjadi seperti itu. Yang aku tau ibu adalah sosok wanita yang penuh dengan kasih sayang dan kelembutan. Tapi tidak dengan ibuku, menurutku itu adalah hal yang aneh. Dan merutku itu adalah hal yang janggal.Berawal dari pembicaraan yang pada saat itu senja. Aku duduk disamping seorang wanita tua yang berusia ± 72 tahun. Dia adalah ibu dari ibuku. Dia memandangku kosong. Sambil bertanya akan menjadi apa aku kedepannya. “nak, apa kau pernah tau siapa orang tuamu?’’ sambil mengerutkan dahi akupun terdiam. Selama ini aku tak benar – benar  tau kalau ternyata aku bukanlah anak dari anak kandungnya. Mendengar pernyataannnya,, akupun tertunduk dan berfikir. Berbagai pemikirian berkecamuk dalam otakku. Sudah lama aku mendengar hal itu, hanya aku belum yakin akan kebenaran semua itu. Malam datang dengan keindahan rembulannya yang memaksaku untuk bisa melupakan pembicaraan tadi.
Buatku itu adalah ujian besar yang memang harus dihadapi. Menyesal tak ada gunanya. Karna semua sudah diatur sedemikian rupa oleh Sang Kholik. Setelah aku dewasa aku tau bahwa  ujian itu adalah tangga dan kesempatan yang diberikan Sang Pencipta untukku naik kelas. Dan sadar bahwa manusia diciptakan bukan hanya untuk menyembah Allah Swt, tetapi juga sebagai khalifah pemecah atas permasalahan yang ada di muka bumi ini
Begitu pula denganku, aku hanya berfikir bagaimana perjalanan ini bisa jadi lebih bermakna. Sebelum akhirnya aku menutup mata dan kembali pada Tuhannku Sang Maha Cinta. Sampai saat ini aku tak pernah tau siapa sebenarnya ayah dan ibu kandungku. Aku berusaha berfikir positif pada Tuhannku. Yang aku tau, karna Allah swt begitu menyayangiku sampai mengujiku dengan semua ini. Pernah ada satu titik dimana aku merasa aku sendirian di dunia ini, menangis, kesal dan marah. Tapi apakah kemarahan mengerti tentang perasaanku? Bagaimana dengan kekesalanku? Sedangkan menangis hanya mengurangi beban dalam hati tanpa penyelesaian. Aku harus bangkit, aku harus kuat. Ada atau tidak ada mereka, kehidupannku harus tetap berjalan. Itu yang membuat aku berbeda. Sampai saat ini rahasia itu belum terungkap. Entah kapan Sang Penyusun Skenario kehidupannku mengungkapkannya.Tapi yang jelas Aku selalu meminta padaNya untuk memberiku kesempatan melihat mereka orang tuaku, jika dunia bukanlah tempatnya maka akhirat adalah harapanku. Aku tak ingin menjadi lemah dengan keadaan. Aku harus ingat bahwa di luar sana masih banyak kehidupan yang lebih pahit dan  sulit. Karnanya aku harus bersyukur dengan keadaaku saat ini. Allah tak akan membiarkanku sendiri, sampai akhirnya memberikan hadiah padaku. Hadiahnya adalah ayah dan ibu yang baik hati. Dewi Liyana Katili dan Eris Sugionoadalah namanya. Dan memiliki seorang adik laki –laki bernamaWiyono Maulana Putra dan adik perempuan bernama Risdia Aulia Putri. Aku bahagia memiliki mereka. Mereka mengajarkanku untuk mengerti bahwa hidup adalah keras yang harus dihadapi dengan kesabaran yang dibarengi dengan kasih sayang terhadap sesama. Tak lupa ibu selalu mengajarkanku untuk selalu bersyukur atas nikmat yang telah Allah berikan. Disini aku diajarkan cara mencintai yang sesungguhnya. Mencintai apa yang harusnya aku cintai. Mencintai Rabbku, Keluargaku, Sahabatku, dan mencintai sesama. Aku juga diberi modal untuk dapat menghadapi kejamnya hidup dengan bekal dan pesan moril yang tak bosan-bosannya diberikan mengalir bagai air bagi hidupku. Entah apa jadinya hidup ini tanpa air kehidupan itu. Saat ini yang terpenting bukanlah menanti kapan rahasia itu terungkap, tapi bagaimana hidupku bisa bermanfaat untuk orang lain. Bagaimana cara bersyukur yang baik. Karna aku sadar bahwa aku juga tak sempurna. Aku masih jauh dari kebaikan dan kesempurnaan adalah milik Allah swt. Dengan kehidupan yang singkat ini Khusnul Khotimah adalah yang aku rindukan. Mempersiapkan bekal dengan proposal syurga yang akan aku lukis dalam sejarah hidupku sebelum akhirnya aku pulang kepangkuan Rabbku..


Semoga sepenggal cerita ini dapat diambil pelajarannya dan bermanfaat untuk siapapun yang membacanya. Aamiin ya Rabbal Alamin.......

0 komentar:

Posting Komentar