Usia yang mendekati angka dua puluh empat. Kota medan nun jauh disana,
tepatnya di Jl. Geminastiti no. K- 319 ASR Kel. Tanjung rejo. Kec. Medan
Sunggal yang sudah hampir eman tahun aku tinggalkan. Entah kapan hendak
kembali. Sedang desa kecil tempat aku bermain sudah entah berapa tahun
tak melihatnya. Desa kecil yang mulai berkembang dengan gerbang
Bandara Kualanamunya. Batang Kuis namanya. Ada seorang lelaki separuh
baya yang kupanggil ayah masih bertempat tinggal dengan istana megahnya
disana.
Terlihat gemuk dengan kulit sawo matangnya saat terakhir aku
tinggalkan. Entah siapa saja yang ada dalam istana itu saat ini, sampai
aku ingin datang dan melihat bentuk dan rupa keindahan istana itu.
Mungkin dulu ada aku, ibu, ayah, dan kakakku yang menempatinya. Tapi
sekarang aku tak tau. Dulu adalah masa kecilku berada disana sampai usia
remaja yang tak terlupan. Dengannya aku tumbuh tanpa kemanjaan. Menjadi
pribadi tangguh seperti layaknya para prajurit dalam film merah putih
dia ajarkan padaku. Mungkin karna perannya sebagai alat negara, sampai
akupun harus menjadi anak yang disiplin untuknya. Dia begitu lembut
dengan kerasnya prinsip dalam hidupnya. Dia jarang memarahiku, dia lebih
sering menasehatiku. Ada satu sejarah yang tak dia inginkan saat itu
terjadi. Entah apa masalahnya ibu dan ayah memilih untuk berpisah. Aku
fikir karna lama tak dikaruniai seorang anak . Ibu pergi meninggalkanku
bersama ayah dan seorang kakak. Kehidupan yang begitu berantakan. Seakan
tak terima dengan keadaan.
Jika dilukis mungkin itulah lukisan terburuk
yang pernah aku lihat. Tak terungkapkan, sudah cukup menjadi wakil
perasaanku saat itu. Jungkir balik masa renaja yang pahit, sampai
membuat ayah murka padaku. Aku tak pernah di rumah yang kusebut istana
tadinya. Aku lebih sering bermain dengan teman sebayaku. Untuk makanpun
aku jarang di rumah. Keadaan membuat istanaku berubah menjadi neraka.
Aku tak betah berada disana. Begitu setiap harinya. Neraka itu aku
perlukan hanya untuk tidur dan mandi. Aku tak mau terlena dengan
keadaan. Aku harus bangkit. Suatu ketika aku harus mengambil satu
keputusan yang harusnya tak membuatnya merasa tak berdaya dengan
keadaannya, kehilangan ibu sudah cukup membuatnya sakit. Apalagi harus
kehilangan aku putrinya. Meski tak ada darahnya yang mengalir dalam
tubuhku, ia merasa tersudut dengan keadaan. Dia sadar tugas beratnya
sebagai imam dan nahkoda kapal layar yang kami tumpangi. Entah apa
jadinya hidup ini baginya. Kerab menagis dan mengadu padaNya.
Menyalahkan dirinya sendiri. Aku pernah melihatnya dari celah pintu
kamarnya yang tak tertutup rapat. Akhirnya airmatakupun ikut terjatuh.
Tak tega rasanya melihat ayah menangis. Aku hanya dapat bekata dalam
hatiku " bahwa ayah tak pernah gagal mendidikku" aku harus buktikan pada
ayah bahwa ayah telah berhasil. Aku ingin ayah menggati air matanya
dengan senyuman. Sampai akhirnya aku mengambil satu keputusan yang
berharap tidak menjadi durhaka kepadanya. Tapi ternyata aku salah. Dia
lebih marah dengan kemarahannya. Dan mengabulakan permintaan atas
keputusanku. Aku memilih pergi dari istana dan kemewahannya. Dia yang
saat itu pedih hatinya hanya dapat berkata "pergilah nak, jika kau
senang akupun turut senang. Jika kau susah maka hadapilah". Pesan itu
tak akan pernah hilang dari otakku. Kata - kata itu aku jadikan goresan
luka dalam hatiku agar tak lekang oleh apapun. Pahit memang, tapi aku
yakin akan manis pada akhir ceritanya. Meski tak secepat kilat, tapi
saat proses membawa dan mendidikku dengan pahit getirnya kehidupan aku
tumbuh menjadi anak yang terarah hidupnya. Menghargai setiap perjuangan.
Sudah cukup rasanya berkelana menjadi buruh pabrik dengan gaji pertama
Rp.7.500 sampai menjadi pelayan di kafe pinggir jalan ring road tepat di
belakang perumahan elit Setia Budi Indah namanya. Mendapat upah
Rp.10.000, 15.000 sampai Rp. 30.000 yang memiliki jam kerja dari pukul
14.00 Wib hingga pukul 01.00 Wib dini hari sudah hal biasa aku lakukan.
Terakhir bekerja menjadi pelayan di Mie Ayam Jamur terkenal tepat berada
di depan stasiun radio Star fm. Sebenarnya apa tujuan hidup ini? Untuk
apa? Apa harus begini terus? TIDAK! AKU HARUS BISA, AKU HARUS BERHASIL.
TAK MAU TERPURUK DENGAN KEADAAN. Aku ingin menjadi orang berilmu. Dengan
ilmu hidup akan menjadi terarah. Dengan ilmu diangkat derajatnya bahkan
dimuliakan olehNya. Kenapa tidak, bukankah seruan menuntut ilmu dari
buaian sampai liang lahat. Bukankah ada pepatah lain yang berseru bahwa
tuntulah ilmu sampai ke negeri Cina. Yah, tekadku bulat untuk beangkat
ke ibu kota Jakarta yang katanya adalah tempat berjuang. Meski saat itu
ada tawaran untuk kembali bekerja di sebuah Toko besar ternama. Aku tak
menghiraukannya, bukan tanpa alasan tapi istikharahku yang menguatkan
pilihan pada saat itu. Sampai akhirnya tepat tanggal 28 Januari 2009 aku
hijrah ke pulau Jawa. Dengan do'a menjadi anak yang sholeha untuk ayah
yang diangangkat derajatnya dengan ilmu. Aamiin....Disini tugasku adalah
belajar. Beradaptasi dengan berbagai suku, ras dan agama. Aku senang
dengan ini semua. Hal baru yang belum pernah aku temui. Berjuang bersama
sampai titik dimana aku mendapat gelar pertamaku. Hanya tinggal
beberapa bulan lagi aku menyandang gelar keduaku. Semua sudah aku
lakukan untuk ayah. Hanya aku tak pernah tau isi hatinya. Apa kemarahan
itu masih melekat di hatinya. Apa tak pernah berubah prinsipnya setelah
entah berapa tahun aku tak bertemu dengannya. Apa kasih sayang itu
benar-benar hilang untukku. Aku rindu dengan senyummu. Aku rindu
nasehatmu. Apa sudah habis nasehat itu untukku. Ribuan pertanyaan yang
menghujam.
Tapi apalah itu semua. Aku bisa seperti saat sekarang ini,
karna dia. Karna kemarahan dengan kadar kasih sayang yang lebih banyak.
Aku yakin itu. Aku akan bercerita pada dunia bahwa ayah tak pernah gagal
mendidikku. Aku ingin kau tersenyum ketika melihatku pulang. Rindu
sekali aku padamu ayah. Tak pernah berani aku mengucapkan kata itu
padamu karna takut akan kemarahnmu. Aku berharap ketika bayangmu hadir,
sejenak aku akan terjaga pula. Melihat air matamu mengalir dalam
senyumanmu. Aku yakin air mata itu adalah air mata kerinduan untukku.
Karna akupun begitu. Dalam do'a kusebut namamu dan selalu kupinta
padaNya Sang Maha Penyayang agar kebahagiaan selalu ada bersamamu. Dan
aku anakmu mencintaimu karena Allah ayah. Ini adalah kisah yang menjadi
sejarah untukku. Tak dapat terhapus oleh apapun. Meski ombak datang
dengan kerasnya kisah ini akan tetap ada. Meski tertulis dan tehapus
dalam sebuah buku usang yang rusak juga akan tetap ada. Kisah ini akan
hilang jika aku yang bernyawa ini telah tiada. Tapi setidaknya kisah ini
adalah bermanfaat bagi yang membaca. Jika perjalanan hidup adalah
proses maka, ambillah ilmu dari setiap prosesnya.
Salam Ukhwah, dan assalamualaikum warahmatullahi wabaraktuh
Salam Ukhwah, dan assalamualaikum warahmatullahi wabaraktuh

0 komentar:
Posting Komentar