topbella

Selasa, 18 Agustus 2015

Ayah Aku Bisa

Usia yang mendekati angka dua puluh empat. Kota medan nun jauh disana, tepatnya di Jl. Geminastiti no. K- 319 ASR Kel. Tanjung rejo. Kec. Medan Sunggal yang sudah hampir eman tahun aku tinggalkan. Entah kapan hendak kembali. Sedang desa kecil tempat aku bermain sudah entah berapa tahun tak melihatnya. Desa kecil yang mulai berkembang dengan gerbang Bandara Kualanamunya. Batang Kuis namanya. Ada seorang lelaki separuh baya yang kupanggil ayah masih bertempat tinggal dengan istana megahnya disana. 

Terlihat gemuk dengan kulit sawo matangnya saat terakhir aku tinggalkan. Entah siapa saja yang ada dalam istana itu saat ini, sampai aku ingin datang dan melihat bentuk dan rupa keindahan istana itu. Mungkin dulu ada aku, ibu, ayah, dan kakakku yang menempatinya. Tapi sekarang aku tak tau. Dulu adalah masa kecilku berada disana sampai usia remaja yang tak terlupan. Dengannya aku tumbuh tanpa kemanjaan. Menjadi pribadi tangguh seperti layaknya para prajurit dalam film merah putih dia ajarkan padaku. Mungkin karna perannya sebagai alat negara, sampai akupun harus menjadi anak yang disiplin untuknya. Dia begitu lembut dengan kerasnya prinsip dalam hidupnya. Dia jarang memarahiku, dia lebih sering menasehatiku. Ada satu sejarah yang tak dia inginkan saat itu terjadi. Entah apa masalahnya ibu dan ayah memilih untuk berpisah. Aku fikir karna lama tak dikaruniai seorang anak . Ibu pergi meninggalkanku bersama ayah dan seorang kakak. Kehidupan yang begitu berantakan. Seakan tak terima dengan keadaan. 

Jika dilukis mungkin itulah lukisan terburuk yang pernah aku lihat. Tak terungkapkan, sudah cukup menjadi wakil perasaanku saat itu. Jungkir balik masa renaja yang pahit, sampai membuat ayah murka padaku. Aku tak pernah di rumah yang kusebut istana tadinya. Aku lebih sering bermain dengan teman sebayaku. Untuk makanpun aku jarang di rumah. Keadaan membuat istanaku berubah menjadi neraka. Aku tak betah berada disana. Begitu setiap harinya. Neraka itu aku perlukan hanya untuk tidur dan mandi. Aku tak mau terlena dengan keadaan. Aku harus bangkit. Suatu ketika aku harus mengambil satu keputusan yang harusnya tak membuatnya merasa tak berdaya dengan keadaannya, kehilangan ibu sudah cukup membuatnya sakit. Apalagi harus kehilangan aku putrinya. Meski tak ada darahnya yang mengalir dalam tubuhku, ia merasa tersudut dengan keadaan. Dia sadar tugas beratnya sebagai imam dan nahkoda kapal layar yang kami tumpangi. Entah apa jadinya hidup ini baginya. Kerab menagis dan mengadu padaNya. Menyalahkan dirinya sendiri. Aku pernah melihatnya dari celah pintu kamarnya yang tak tertutup rapat. Akhirnya airmatakupun ikut terjatuh. Tak tega rasanya melihat ayah menangis. Aku hanya dapat bekata dalam hatiku " bahwa ayah tak pernah gagal mendidikku" aku harus buktikan pada ayah bahwa ayah telah berhasil. Aku ingin ayah menggati air matanya dengan senyuman. Sampai akhirnya aku mengambil satu keputusan yang berharap tidak menjadi durhaka kepadanya. Tapi ternyata aku salah. Dia lebih marah dengan kemarahannya. Dan mengabulakan permintaan atas keputusanku. Aku memilih pergi dari istana dan kemewahannya. Dia yang saat itu pedih hatinya hanya dapat berkata "pergilah nak, jika kau senang akupun turut senang. Jika kau susah maka hadapilah". Pesan itu tak akan pernah hilang dari otakku. Kata - kata itu aku jadikan goresan luka dalam hatiku agar tak lekang oleh apapun. Pahit memang, tapi aku yakin akan manis pada akhir ceritanya. Meski tak secepat kilat, tapi saat proses membawa dan mendidikku dengan pahit getirnya kehidupan aku tumbuh menjadi anak yang terarah hidupnya. Menghargai setiap perjuangan. Sudah cukup rasanya berkelana menjadi buruh pabrik dengan gaji pertama Rp.7.500 sampai menjadi pelayan di kafe pinggir jalan ring road tepat di belakang perumahan elit Setia Budi Indah namanya. Mendapat upah Rp.10.000, 15.000 sampai Rp. 30.000 yang memiliki jam kerja dari pukul 14.00 Wib hingga pukul 01.00 Wib dini hari sudah hal biasa aku lakukan. Terakhir bekerja menjadi pelayan di Mie Ayam Jamur terkenal tepat berada di depan stasiun radio Star fm. Sebenarnya apa tujuan hidup ini? Untuk apa? Apa harus begini terus? TIDAK! AKU HARUS BISA, AKU HARUS BERHASIL. TAK MAU TERPURUK DENGAN KEADAAN. Aku ingin menjadi orang berilmu. Dengan ilmu hidup akan menjadi terarah. Dengan ilmu diangkat derajatnya bahkan dimuliakan olehNya. Kenapa tidak, bukankah seruan menuntut ilmu dari buaian sampai liang lahat. Bukankah ada pepatah lain yang berseru bahwa tuntulah ilmu sampai ke negeri Cina. Yah, tekadku bulat untuk beangkat ke ibu kota Jakarta yang katanya adalah tempat berjuang. Meski saat itu ada tawaran untuk kembali bekerja di sebuah Toko besar ternama. Aku tak menghiraukannya, bukan tanpa alasan tapi istikharahku yang menguatkan pilihan pada saat itu. Sampai akhirnya tepat tanggal 28 Januari 2009 aku hijrah ke pulau Jawa. Dengan do'a menjadi anak yang sholeha untuk ayah yang diangangkat derajatnya dengan ilmu. Aamiin....Disini tugasku adalah belajar. Beradaptasi dengan berbagai suku, ras dan agama. Aku senang dengan ini semua. Hal baru yang belum pernah aku temui. Berjuang bersama sampai titik dimana aku mendapat gelar pertamaku. Hanya tinggal beberapa bulan lagi aku menyandang gelar keduaku. Semua sudah aku lakukan untuk ayah. Hanya aku tak pernah tau isi hatinya. Apa kemarahan itu masih melekat di hatinya. Apa tak pernah berubah prinsipnya setelah entah berapa tahun aku tak bertemu dengannya. Apa kasih sayang itu benar-benar hilang untukku. Aku rindu dengan senyummu. Aku rindu nasehatmu. Apa sudah habis nasehat itu untukku. Ribuan pertanyaan yang menghujam. 
Tapi apalah itu semua. Aku bisa seperti saat sekarang ini, karna dia. Karna kemarahan dengan kadar kasih sayang yang lebih banyak. Aku yakin itu. Aku akan bercerita pada dunia bahwa ayah tak pernah gagal mendidikku. Aku ingin kau tersenyum ketika melihatku pulang. Rindu sekali aku padamu ayah. Tak pernah berani aku mengucapkan kata itu padamu karna takut akan kemarahnmu. Aku berharap ketika bayangmu hadir, sejenak aku akan terjaga pula. Melihat air matamu mengalir dalam senyumanmu. Aku yakin air mata itu adalah air mata kerinduan untukku. Karna akupun begitu. Dalam do'a kusebut namamu dan selalu kupinta padaNya Sang Maha Penyayang agar kebahagiaan selalu ada bersamamu. Dan aku anakmu mencintaimu karena Allah ayah. Ini adalah kisah yang menjadi sejarah untukku. Tak dapat terhapus oleh apapun. Meski ombak datang dengan kerasnya kisah ini akan tetap ada. Meski tertulis dan tehapus dalam sebuah buku usang yang rusak juga akan tetap ada. Kisah ini akan hilang jika aku yang bernyawa ini telah tiada. Tapi setidaknya kisah ini adalah bermanfaat bagi yang membaca. Jika perjalanan hidup adalah proses maka, ambillah ilmu dari setiap prosesnya.
Salam Ukhwah, dan assalamualaikum warahmatullahi wabaraktuh

0 komentar:

Posting Komentar