Rindu ini seolah berbicara. Memaksa dan memberontak pada hati. Tapi tidak. Cinta ini harus benar-benar suci. "Dimana ada cinta suci yang diraih tanpa hati yang suci?"
Ini masih tentangmu, yang masih berada dibelantara jiwa. Terlukis namun tak seterang pena menggores. Namun tetap kusimpan dalam do'a. Kamu yang ku tunggu setiap hari, memberi pengharapan untuk masa depan. Memberi warna dalam putihku. Memberi cahaya dalam gelapku.
"Ampuni aku ya Rabb"
Jangan biarkan cintaku terlalu besar kepadanya. Aku takut, jika cintaku lebih besar untuknya daripada untuk-Mu.
Hujan, memberi isyarat hati. Dan masih bercerita dalam diam. Berdegup tak karuan. Rabb, dalam malam kuceritakan perihal ini kepada-Mu. Sejak semua begitu jelas, ku selalu meminta yang terbaik. Tak perlu tampan yang membuatku tak tenang akhirnya. Bekal kesholehannya cukup untukku. Dunia tak kan habis ku kejar, harta tak kan habis ku cari. Namun jika kelak dipertemukan, cukuplah keinginan untuk saling belajar dan mengajar untuk lebih mendekat kepada-Mu.
Siapapun dirimu, kuharap perasaan kita sama. Dimulai dari kesamaan do'a. Bukan penilaian fisik semata. Sebab menyakini bahwa pesona akhlak lebih utama dalam upaya melanggengkan rumah tangga dibandingkan pesona rupa. Untukmu calon imamku, siapapun dirimu adalah yang mampu mengajakku berkarib ajar dalam kesabaran menghadapi kehidupan. Menuntunku menuju jalan yang lurus. Membimbingku dalam berprilaku yang baik. Siapapun dirimu adalah yang terpilih dari setiap do'a yang terpanjat. Aku yakin. Suatu saat akan dipertemukan di waktu yang tepat. Aamiin...

0 komentar:
Posting Komentar