Ini perihal tentang perasaan yang begitu tajam menikam. Tak ingin ku pupuk karena takut berbuah dendam. Sebab aku bukan malaikat yang tak dapat merasa. Sepuluh tahun berlalu. Hentakan kaki melangkah mendekat dengan awal yang tercipta begitu menakutkan. Ada petuah dalam setiap langkahnya dimanapun berlalu. Entah bagaimana rasa ini bertarung, melawan rasa. Sedetik yang terasa begitu lama. Sebelum akhirnya sebuah pernyataan begitu menyayat hati. "Aku sudah membuangnya!" Benarkah pernyataan itu? Apa cinta itu benar-benar telah mati? Pilu rasanya mendengar pernyataan tersebut. Padahal dulu sebelum akhirnya satu keputusan diambil, ada beberapa negosiasi yang kulayangkan. Namun semua ditolak hanya karena harga diri. Seolah semua adalah salahku. Benar aku mencintaimu begitu besar. Benar aku merindukanmu. Benar saat ini aku masih menyayangimu. Semua itu benar. Agar kau puas atas kesedihanku mengakuinya.
Harta tak membuatku cemburu. Kekayaan juga. Yang membuatku cemburu adalah cintamu yang terbagi dan berlalu pergi dengannya. Aku sadar, besarnya cintaku kalah dengannya. Darahmu. Sementara dalam tubuh ini tak ada darahmu yang mengalir. Mengakuinya aku malu. Karena aku tak berhak atas dirimu. Namun yang harus kau tahu, meski kau berlalu pergi, hati ini masih mencintaimu sama seperti dulu.
Engkau hidup dalam hatiku. Diamku selalu bedo'a untukmu. Lewat malam kuceritakan rinduku. Bersama angin ku kirimkan rinduku. Ku ajak hatiku berdamai dengan keadaan. Semoga suatu saat nanti kau memanggilku, sama seperti dulu. Seperti waktu kau memanggilku sebagai putrimu.
Saat ini bukan lagi saatnya meratapi masa itu. Tapi soal pembuktian. Bahwa aku akan berjuang untuk hidupku tanpamu. Aku bisa. Kuseka air mata, dan ku kubur semua kesedihan. Tak perlu menunggu lama jika harus bahagia. Cukup dengan tersenyum dan syukur yang terus terpatri dalam hati. Karena dengan bersyukur maka hati kan bahagia.

0 komentar:
Posting Komentar