Senja memberi isyarat bahwa malam tiba dengan memenjarakan siang. Begitulah kiranya. Desir angin memberi tenang pada hati yang mendamba.
Membawa pesan tentang arti kedamaian. Ratu malam mengintip dari balik
awan Menerobos malam, mengintip kisruh yang padam menoreh luka.
Belum puas jika hanya menikam waktu. Digelap yang sebenarnya adalah
hitam, berharap ada celah untuk secercah cahaya. Pun malam berlalu
pergi. Sedang di ufuk cahaya itu hadir. Memberi kehidupan kepada banyak jiwa.
Gelap berganti terang. Terang menggugah ribuan pasang mata terperjam.
Hiruk pikuk membuat ramai pada perputaran poros. Canda tawa turut
menghiasinya. Dibelahan lain ada jiwa sendu sedang dirundung sedih.
Begitulah kehidupan terus berputar. Manusia boleh menyusun banyak
rencana untuk hidupnya. Akan tetapi tak boleh ada kelupaan bahwa
sejatinya pengatur rencana terbaik adalah Dia. Sekuat apapun manusia
berusaha namun jika Dia tak berkenan maka sia-sialah semua.
Semua diatur
jelas dalam Al Qur'an. “Diwajibkan atas kamu berperang, Padahal
berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh Jadi kamu membenci
sesuatu, Padahal ia Amat baik bagimu, dan boleh Jadi (pula) kamu
menyukai sesuatu, Padahal ia Amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang
kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah : 216)
Berperanglah
melawan tangis, sepi, lalu berbaik sangkalah kepada-Nya. Maka cukuplah
Dia sebagai sandaran hati kala suka maupun duka

0 komentar:
Posting Komentar