topbella

Selasa, 18 Agustus 2015

Berperang Melawan Tangis

Senja memberi isyarat bahwa malam tiba dengan memenjarakan siang. Begitulah kiranya. Desir angin memberi tenang pada hati yang mendamba. Membawa pesan tentang arti kedamaian. Ratu malam mengintip dari balik awan Menerobos malam, mengintip kisruh yang padam menoreh luka.
Belum puas jika hanya menikam waktu. Digelap yang sebenarnya adalah hitam, berharap ada celah untuk secercah cahaya. Pun malam berlalu pergi. Sedang di ufuk cahaya itu hadir. Memberi kehidupan kepada banyak jiwa. Gelap berganti terang. Terang menggugah ribuan pasang mata terperjam. Hiruk pikuk membuat ramai pada perputaran poros. Canda tawa turut menghiasinya. Dibelahan lain ada jiwa sendu sedang dirundung sedih.
Begitulah kehidupan terus berputar. Manusia boleh menyusun banyak rencana untuk hidupnya. Akan tetapi tak boleh ada kelupaan bahwa sejatinya pengatur rencana terbaik adalah Dia. Sekuat apapun manusia berusaha namun jika Dia tak berkenan maka sia-sialah semua. 
Semua diatur jelas dalam Al Qur'an. “Diwajibkan atas kamu berperang, Padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh Jadi kamu membenci sesuatu, Padahal ia Amat baik bagimu, dan boleh Jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, Padahal ia Amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah : 216)
Berperanglah melawan tangis, sepi, lalu berbaik sangkalah kepada-Nya. Maka cukuplah Dia sebagai sandaran hati kala suka maupun duka

0 komentar:

Posting Komentar