Benar, jika manusia butuh cermin. Agar dapat melihat apa yang sudah dilakukan, atau apa yang orang lain sudah lakukan. Akan tetapi, terkadang diri kita bisa menjadi cermin dari orang lain. Seperti nasehat ibu. Katanya, " Nak, kamu itu adalah cermin dari mama dan papa. Jika kamu baik, berarti kami sebagai orang tua juga baik di mata orang lain. Tetapi jika tidak, berarti kami sudah gagal mendidikmu. Membiarkanmu tidak baik di tengah-tengah orang banyak." Pesan itu adalah harta yang kumiliki, yang kuyakin tidak dimiliki oleh siapun kecuali aku dan ibuku. Izinkan aku menjadi cermin yang baik untukmu ibu. Perasaan ini masih berbincang - bincang di kepalaku dengan mematung.
Hari ini. Dimalam yang paling sunyi, aku berjibaku dengan buliran air mata yang tak terbendung. Menahan rindu terpaling rindu. Menanti fajar datang bersama terang dengan warna baru. Hidup adalah pilihan, dan aku memilih sesuatu yang teramat sakit untuk sedikit bahagia. Bekerja keras untuk sebuah janji. Apapun hasilnya, aku tak pernah takut. Sebab, Allah tak pernah meninggalkanku. Segalanya kuserahkan kepada-Nya. Sebanyak apapun rencana yang tertulis, Allah adalah pemilik kehendak atas segalanya karenanya aku yakin.
Terselip pinta di malam dengan semilir angin yang tak tersentuh dan terhirup olehku. Jadikan ke dua kaki ini kuat untuk berdiri menompang diriku sendiri. Jika sukses menyinggahiku, akan kukatakan kepadanya. " Mama, aku bahagia memilikimu. Memiliki harta termahal di dunia. Do'akan aku, agar tetap menjadi cermin yang baik untukmu, untuk papa, opa, oma, keluarga kita."
Terima kasih ya Rabb. Sungguh tak ada dusta atas ayatmu yang tak henti membuatku menagis. "Fa bi ayyi ālā'i Rabbikumā tukażżibān" (Maka nikmat Tuhan yang manakah yang kau dustakan?). Terima kasih ya Rabb. Meski aku terkihat miskin, tetapi aku sebenarnya adalah kaya. Karena Engkau telah mengirimkan banyak kelurga untukku. Ampuni dosaku yang masih asik dengan kelalaian. Jadikan aku wanita yang baik itu untuk ibuku, ayah dan keluragaku. Aamiin.....

0 komentar:
Posting Komentar