Senja baru saja berganti
ketika matahari seharian menari
diri ini adalah musafir
Tak berkesudahan mencari
Sajak-sajak kehidupan
gelombang kesabaran
syukur yang dipertanyakan
semua apakah sudah benar menjadi ukuran?
Kala itu,
diri ini hanya terdiam
bungkam
sedang fikiran runyam
Bagaimana tidak
ketika Din dipertanyakan, aku seakan tertodong
sesaat hanya bisa melompong
bertanya : Masih adakah Engkau akan menolong
Bagaimana dengan yang lain,
Shalat, apakah sudah tumakninah,
Zakat, belum kutunaikan
Shaum, entahlah,
Haji, apalagi.
Kala itu,
Semua dipertanyakan.
Lalu...
Bagaiaman dengan surat yang berisikan syahadah cinta?
Rabb-ku,
memiliki cara sendiri mengirim surat cinta itu
memilih orang-orang terpilih untuk itu
dan aku bersyukur atas semua itu
Saat malam ku balas surat cinta itu
ku tulis dengan hati yang syahdu
Bahwa aku ingin berilmu
dengan kekutan-Nya kupinta keyakinan
Agar hati ini dapat menerima
untuk sebuah ta'at
dan sebuah keikhlasan
dengan cinta dan benar yang membenarkan
bahwa yang kupilih adalah benar.
"Maka Nikmat Rabbku yang mana lagi yang dapat ku dustakan??"
Jakarta, 5 Februari 2016

0 komentar:
Posting Komentar