Pekerjaanku
sebagai pegawai di Lembaga Amil Zakat memberi banyak semangat utuk aku terus
belajar. Semakin aku tahu semakin aku malu, bahwa peraturan Allah masih banyak
yang belum aku ketahui. Amil Zakat juga salah satu profesi yang disebut dalam
Al Qur’an. Tugasku menjemput zakat, menawarkan kota amal, dan kencleng kepada
muzzakki (donatur). Bak musafir yang sedang berjihad. Setiap perjalanan memberi
pelajaran. Setiap perjalanan adalah semangat. Setiap perjalanan adalah
keikhlasan. Setiap perjalanan adalah guru untukku. Sebab berbagai cerita dan nasehat
aku dapatkan dari para muzakki.
Aku
bahagia mengabdikan diri di tempat aku bekerja. Menjadi bagian dari Amil Zakat
memiliki tantangan tersendiri buatku. Menerima penolakan saat menawarkan kotak
amal, mendapat penolakan saat menawarkan kencleng atau celengan BERSERI (BERinfaq
Sehari seRIbu). Dulu aku pernah menangis saat mendapatkan penolakan. Dalam
hatiku sempat menggerutu. Ternyata tidak semua orang dapat menerima ajakan
tersebut. Namun hanya keyakinan dari hati yang kumiliki saat itu, bahwa tugasku
mengajak siapapun yang ingin melakukan kebaikan.
Suatu
ketika, aku mendapat kabar bahwa ibu sedang sakit. Hingga akhirnya aku putuskan
untuk pulang melihat kondisi ibu. Kabar yang mengejutan. Setelah berdiskusi dengan
ayah dan ibu, akhirnya aku putuskan untuk berhenti bekerja karena keadaan ibu. Birrul
Walidain. Sebenarnya ada perasaan sedih saat menganbil keputusan itu. Tetapi itulah tugas sebagai seorang anak. Mematuhi
orang tua, berbakti dan merawat keduanya. Aku percaya Allah sedang menyiapkan
pekerjaan baik selanjutnya untukku.
Setibanya
di kantor aku di sambut oleh sahabat dan rekan di kantor. Sontak saja aku
menagis. Sesak yang kian aku rasakan semakin menjadi. Rasanya berat sekali
meninggalkan pekerjaan yang sudah dicintai. Mencari ilmu bersama, beribadah,
membantu anak yatim dan mereka yang membutuhkan bersama-sama. Setelahnya aku
menemui manager dan menjelaskan perihal sebab pengunduran diriku.
Sebelum
benar-benar berhenti, kusempatkan diri untuk berpamitan dengan para muzzakki
yang sering ku kunjungi. Seperti biasanya, sebelum berkunjung sehari sebelummya
aku menghubungi muzzaki lewat telephone atau SMS.
“Assalamualaikum,
Ibu.”
“Wa’alaikumsalam,
Mbak.”
Ibu
maaf, infaq bulan ini boleh saya ambil besok Bu? Saya sekalian mau pamit Bu.”
“Boleh,
mau pamit kemana Mbak?”
“Mau
pulang Bu, ke Jakarta. Ibu saya sedang sakit. Jadi saya harus pulang.”
“Ok,
ditunggu ya.”
“Insya
Allah iya Bu.”
Keesokan
harinya aku datang sesuai dengan janji.
“Assalamualikum,”
ucapku dari luar pagar. Dan tak menunggu lama khadimatnya datang dan
mempersilahkanku masuk.
“Wa’alaikumsalam,”
terdengar jawabandari dalam rumah.
Kedatangannku
disambut hangat oleh wanita separu baya dengan menggekan hijab syar’i. Ibu
Kusyati namanya. Beliau mempersilahkan masuk dan menyeru agar aku duduk, belian
sembari mengambil kencleng yang disimpannya. Aku duduk di ruang tamu yang
disampingnya ada sebuah meja dengan sebuah kado dengan warna ungu yang terletak
di atasnya. Dalam hatiku berguman, “Ada kado, mungkin ibu hendak pergi
menghadiri sebuah undangan dari kolegnya, kalau begitu aku harus bergegas
pergi. Takut kalau mengganggu waktunya.”
Tak
menunggu lama kemudian ibu Kusyati keluar dan mendatangaiku.
“Apa
kabarnya Mbak?” sambutnya sambil mengulurkan tangan dan memelukku.
“Alhamdulillah,
kabarnya baik Bu, kusambut uluran tangannnya dan pelukkannya.
“Ibu
sehat?”
“Alhamdulillah
sehat Mbak.”
Setelah
membongkar kencleng, dan beramah tamah. Akhirnya akupun berpamitan, sebab aku
takut ibu Kusyati ingin pergi. Setelah aku memasukkan uang dan alat tulis kedalam
tas, ibu Kusyatipun mengambil kado tersebut.
“Mbak,
ini ada bingkisan untuk Mbak,”sembari memberikan kado itu kepadaku.
“Isinya
Al-Qur’an, dibaca ya.”
Aku
terkejut, ternyata kado itu disiapkan untukku.
“Alhamdulillah,
terima kasih ibu.”
“Insya
Allah akan saya baca bu,” ujarku.
“Do’akan
saya agar bacaan Al Qur’annya bisa bener ya Bu, dan istiqomah terus.”
“Iya,
harus. Kita hidup harus terbiasa berlama-lama dengan Al Qur’an,” serunya.
“Mbak
harus semangat ya, dahulukan yang utama dari yang utama. Rezeki sudah ada Allah
yang mengatur. Jangan pernah takut dengan hal itu. Ibunya mbak lebih utama.
Beliau membutuhkan perawatan Mbak sebagai seorang anak,” ucapnya sambil
bersalaman dan kembali memelukku.
“Iya
bu, terima kasih ya Bu.”
“Iya,
terima kasih kembali. Salam sama ibu dan keluarga di Jakarta,” ucapnya sambil
mengantarku ke luar pintu.
“Iya
Bu, Insya Allah akan saya sampaikan. Saya juga minta maaf ya Bu. Apabila ada
ucapan yang tidak sengaja menyakiti hati ibu.
“Oh
iya, sama-sama Mbak,” beliau masih menungguku sampai aku benar-benar pergi.
Setelah
menyalakan sepeda motor, kembali kuucapkan salam dan kemudian berlalu pergi. Aku
bahagia mendapatkan hadiah Al Qur’an. Aku bahagia menjadi bagian dari Amil Zakat. Aku juga bahagia menjadi putri dari
seorang ibu yang sangat menyayangiku. Aku bahagia berada di sekeliling
orang-orag baik. Karena aku belum baik, tetapi aku ingin terus belajar agar
menjadi manusia yang baik.

0 komentar:
Posting Komentar