Untuk
masa lalu yang indah dikenang
ingatlah
aku dalam keheningan
Bicaralah pada bulan
Katakan bahwa kita menatap satu bintang yang sama
agar terasa begitu dekatnya kita meski sebenarnya tidak
Mencari di ribuan kilo jauhnya
di dalamnya dasar lautan tak terjangkau
di luasnya langit tak terjamah
Bagaimana mungkin akan menemukanmu.
Usaha kusudahi, karna tau itu tak kan mungkin terjadi.
Bisa jadi hanya sebagian kecil kemungkinan itu.
Besar bagiNya jika Dia menghenggaki.
Paling tidak aku sudah mencobanya walau tau itu mustahil
Bicaralah pada bulan
Katakan bahwa kita menatap satu bintang yang sama
agar terasa begitu dekatnya kita meski sebenarnya tidak
Mencari di ribuan kilo jauhnya
di dalamnya dasar lautan tak terjangkau
di luasnya langit tak terjamah
Bagaimana mungkin akan menemukanmu.
Usaha kusudahi, karna tau itu tak kan mungkin terjadi.
Bisa jadi hanya sebagian kecil kemungkinan itu.
Besar bagiNya jika Dia menghenggaki.
Paling tidak aku sudah mencobanya walau tau itu mustahil
“
Selamat sore, mas dan mbaknya mau pesen apa ya?” sapaku saat memecah perbincangan
sore itu.
Berawal dari pertemuan
di sebuah restoran tempat aku bekerja. Awalnya aku hanya kagum pada satu sosok
diantara mereka. Entah siapa namanya. Setelah semua makanan dihidangkan tak lama
kemudian adzan maghribpun berkumandang, sebagai tanda berbuka puasa. Tetapi aku
sendiri masih sibuk melayani para tamu yang hadir. Maklumlah, sudah menjadi
kewajiban seorang pelayan restoran untuk melayani pembeli. Walau demikian tak
lupa kutuniakan kewajiban untuk berbuka, dengan seteguk air putih. Di mushollah
itu kami bertemu kembali. Sosok itu sudah terlebih dahulu menunaikan shalat.
Sementara aku menyusul di belakang namun tak menjadi makmumnya, sebab tak ada
niat untuk menajadi imam ataupun makmum. Hanya ada pengaduan sorang diri
pada-Nya tanpa komando seorang imam layaknya di Mesjid. Namun aku tetap tak
perduli. Aku hanya asik dengan kesibukannku mempersiapkan diri untuk bertemu
dengan Sang Maha Esa. Usai shalat aku kembali ke aktifitas semula.
“ Mbak kita minta
billnya dong!” suara dari arah meja itu memanggil dan melambai ke arahku.
Sesegera mungkin ku hitung jumlah bilangan pada bill lalu kuantarkan.
“Semuanya berjumlah Rp.
235.000,- mbak. Mbak ada yang mau kenalan,” ujar salah satu dari merka sambil
menunjuk ke sosok pria yang kutemui di mushollah tadi. Pernyataan yang
mengangetkan. Sesekali aku mencuri pandang dengannya. Aku malu.
“Nama mbak siapa? Udah punya pacar belum?”
sambut temannya yang lain. Aku hanya tersenyum simpul. “Cie…cie……,” sorak teman
– teman yang lain bersamaan. Wajahku memerah menahan malu. “Kalau mbak malu, simpan
saja nomor telponnya mbak. Biar nanti teman saya yang langsung hubungi mbak.
Atau mbak catat saja nomor telpon teman saya!” ujarnya sambil memberikan
potongan tissue yang bernomor telpon. Dihadapan mereka aku seolah acuh dan tidak
begitu memperdulikan gurauannya. Setelah mereka berlalu aku mulai memperhatikan
nomor telpon itu. Mana mungkin seorang terpelajar itu mau berkenalan denganku,
apalagi sekedar berteman. Tetapi dugaaku salah. Dua bulan setelah pertemuan
tersebut dia menghubungi.
Kring..kring….
Dering
handphon berbunyi sebegitu
nyaringnya. Segera kuraih dan kulihat, ternyata ada nomor baru yang masuk.
Panggilan pertama tak begitu kuhiraukan. Tapi ternyata nomor itu berulang kali
menghubungiku. Akhirnya kuangkat panggilan masuk itu.
“ Halo, Assalamualaikum.”
“Wa’alaikumsalam”.
“Maaf ini siapa?”
Aku Akbar, yang kemarin buka puasa di
restoran tempat kamu bekerja. Masih ingat enggak?”
“Hmmmmm… iya, aku masih ingat. Oh iya,
ada perlu apa?”
“Enggak, pengen ngobrol aja. Oh iya,
ngomong –ngomong kita belum kenalan. Nama kamu siapa?”
“Aku Naila.”
“Senang bisa berkenalan dengan kamu”
sapanya.
“Iya, sama. Aku juga. Akbar yang kemarin
pakai kaus warnah merah kotak-kotak ya?”
“Iya, kita kan juga ketemu waktu shalat
maghrib di musolah.”
Iya, aku hanya ingin memastikan saja.
Aku takut salah orang. Udah dulu ya. Soalnya aku masih banyak kerjaan.”
“Oh iya, maaf ya mengganggu. Semoga dari
perkenalan ini kita bisa saling berbagi ilmu, amal dan kebahagiaan. Aamiin.”
Sejak perkenalan itu
dia sering menghubungi. Awalnya aku tak begitu menghiraukannya. Tetapi keramahanya
akupun merasa nyaman. Selain itu, dia
juga sosok lelaki yang sholeh. Dua bulan setelah perkenalan itu, kami begitu
akrab. Entah apa namanya. Perhatian demi perhatian dia berikan. Persaan ini mencair,
bak coklat terkena air panas. Luluh. Itu judulnya. Entahlah, tapi itu nyata.
Semakin aku menghindar semakin kucari dia setiap celah diamku. Sudahlah. Itu
cinta. Cinta tak mengenal siapa tuannya, datang tak bersalam dan pergipun
begitu.
Januari 2009 silam kami
berpisah, aku melanjutkan kuliah di Jakarta. Malam itu, kami bertemu.
Maklumlah, selama kenal dengannya kami jarang bertemu. Lebih sering
berkomunikasi lewat telepon. Kabar kepergianku itu mengejutkannya. Hingga aku
harus menjelaskan semuanya. Malam itu di taman sudut kota Medan, kami bertemu.
Taman Gajah Mada namanya. Tempat itu adalah taman kota yang dibangun oleh pemerintah
kota Medan. Selain untuk nongkronya anak muda mudi, taman itu juga sering
dibuat untuk berantai bersama keluarga dan tempat untuk olahraga.
“Kenapa kamu mau pergi? Apa di sini
tidak kamu tidak nyaman? Atau ada alasan lain?”
“Aku yaman di sini, tapi aku mau
menegejar cita – cita. Aku ingin membuktikan pada ayah kalau aku bisa. Aku
enggak mau dipandang sebelah mata. Hidupku pahit. Aku tak mau hidup jika tidak
berguna nantinya. Kamu tidak akan pernah mengerti bagaimana hidupku. Yang jelas
hidupku pahit.”
“Apa aku tidak boleh tahu, apa hal itu
terlalu pribadi sampai aku tak boleh mengetahuinya?”
“ Iya, maafkan aku.” Jawabku sambil
menahan air mata agar tak jatuh.
Kulihat diapun begitu,
menahan tangis. Terlihat dari matanya yang berkaca-kaca. Hatiku bergejolak. Di
sisi lain aku mulai menyayanginya namun harus kurelakan demi masa depan. Hidup
adalah pilihan. Dan aku memilih untuk meninggalkannya. Hidup harus tetap
berjalan meski akhirnya harus rela tak bertemu dengan orang yang disayang.
Hijrah. Iya, aku harus hijrah. Tekadku sudah bulat. Malam itu usai berpamitan
dia mengantarku pulang. Hanya lambaian tangan dan tatapannya yang kuingat. Terakhir
bertemu, begitu menyesakkan dada.
Sampai akhirnya tepat tanggal 28 Januari 2009 aku berangkat
ke tanah Jawa, Jakarta. Di sana tugasku hanya belajar. Beradaptasi dengan
berbagai suku, ras dan agama. Aku senang dengan ini semua. Hal baru yang belum
pernah aku temui. Kesibukan demi kesibukan membuatku lupa akannya. Nomor
handphone yang biasa menghubungiku sudah tidak pernah lagi menghubungi. Bahkan
kucoba menghubungi namun selalu nona veronica yang selalu menjawab. Perlahan–lahan
aku mulai lupa. Hanya cincin pemberiannya yang menemaniku setiap hari. Di
cincin itu namaya diukir. Iya. Cincin
itu. Dulu, yang pernah ia berikan padaku. Ia, cincin itu. Jika merindukannya aku hanya
memandang dan memanggilnya dalam hati. Berharap diapun merasakan hal yang sama.
Tak terasa, enam tahun
berlalu. Malam itu aku begitu merindu. Tapi kemana akan kucari. Kembali kubuka
buku harianku yang kusam. Kuteliti nomor telephone yang tercatat di situ. Kembali
kucoba semua nomor telpon yang berhubungan dengannya. Namun usahaku gagal. Dan
akhirnya aku berhasil menemukan satu nomor telepon temannya yang saat itu
menggangguku saat pertama kali bertemu. Hery namanya. Hatiku berdebar – debar,
berharap ada titik terang dari pencariannku.
“Assalamualaikum.”
“Wa’alaikumsalam, maaf
ini siapa?”
“Ini aku Naila kak.”
“Naila mana?”
“Aku Naila, pelayan
restoran yang waktu itu. Masih ingat enggak? Waktu itu kita pernah bertemu di
restoran, bareng sama Akbar.” Seruku berharap ia masih ingat.
“ Oh iya, kenapa?”
“Kak, aku mau minta
nomor telepon Akbar. Boleh enggak kak? Aku mau menyambung silaturrahmi sama dia. Udah lama juga kan kita nggak
berkomunikasi.”
“Ada, tapi nanti aku
coba tanya dia dulu ya, soalnya dia pesen kalau mau kasih nomor telponnya izin
dulu. Makanya saya nggak berani kasih nomornya ke kamu.” Jelasnya.
“Dia sudah menikah kak?”
tanyaku meyelidik.
“Oh belum, tapi dalam
waktu dekat ini dia akan menikah. Mei rencanaya, insya Allah.”
“ Titip salam buat dia
ya kak.”
“ Iya, nanti saku
sampaikan.”
Kabar yang membuatku
entah senang entah sedih. Kenapa tidak menungguku pulang. Aku sedih, tak
terima. Lalu apa alasanku untuk bersedih. Enam tahun dilalui tanpa dia. Apa aku
pernah berfikir tentangnya. Jika ia, itu hanya sesaat menahan rindu. Tapi
sudahlah. Cinta itu telah pergi. Jauh sebelum eman tahun terlewati begitu saja.
Cinta telah memilih. Tak ada hakku untuk kembali. Jika ada itu hanya
kemungkinan kecil. Cinta, begitu naïf rasanya jika aku memaksa. Egois rasanya.
Waktu, biarkan aku berlalu di terpa helaan angin. Ikhlaskan hatiku untuk
melupakannya. Tak mengapa semua
terjadi dengan
pilihan terbaik. Meski terselip senyum
pedih dalam hati. Ini jawaban atas sesak
itu. Do'a terbaik selalu terpanjat
sebagai penawar
agar tak terasa sakitnya. Tunggu cinta itu. Ketika semua terabadikan. Saat itu engkau akan tahu betapa getir waktu itu terlewati tanpamu. Aku yakin Allah sudah siapkan lelaki terbaik untukku. Terbaik untuk dunia dan akhiratku. Aamiin, gumanku dalam hati. Perlahan kukeluarkan cincin yang melingkar manis di jariku. Kuajak hati untuk ikhlas atas semua yang telah terjadi. Hanya dengan ikhlas semua dapat terlewati.
agar tak terasa sakitnya. Tunggu cinta itu. Ketika semua terabadikan. Saat itu engkau akan tahu betapa getir waktu itu terlewati tanpamu. Aku yakin Allah sudah siapkan lelaki terbaik untukku. Terbaik untuk dunia dan akhiratku. Aamiin, gumanku dalam hati. Perlahan kukeluarkan cincin yang melingkar manis di jariku. Kuajak hati untuk ikhlas atas semua yang telah terjadi. Hanya dengan ikhlas semua dapat terlewati.


0 komentar:
Posting Komentar