topbella

Rabu, 30 September 2015

***TENTANG AIR MATA INI***

Sederhana saja, ini tentang air mata. Berderai namun tak nyata. Terjatuh bahkan bertumpah ruah di rongga hati. Benar saja ini masih tentang air mata. Begitu ikhlas mengajakku menangis tersedu sedan, berkisah tentang pergulatan hati. Kujelaskan berkali – kali, ini tentang air mata. Air mata ini tentang do’a di sepanjang sujud yang tak ingin jauh dari-Nya. Pun tentang kerinduan yang tersimpan begitu rapi. Air mata ini tentang getaran hati ketika tahu bahwa setan turun kepada para pembohong dan penyair. Berdesir darah ini, mengaku ingin memuliakan hidup melalui tulisan namun kalam-Nya begitu jelas menegurku agar menjadi sebenar benarnya penyair yang mulia. Tak hanya sekedar merajut aksara namun melakukan hal yang di syiarkan. Air mata ini tentang dosa yang kuperbuat setinggi gunung, namun masih tetap lalai. Air mata ini tentang perjalananku mengenal kalam-Nya. Tuhan, izinkan aku menjaganya dalam qalbu. Agar kelak ia menemaniku dalam gelap. Memberi syafaat saat waktu itu tiba. Air mata ini tentang keikhlasan, melukis perasaan dalam diam. Air mata ini tentang rasa yang begitu putih, hingga mampu menembus gelap arogansi dan egoisme. Air mata ini tentang bahagia, ketika diri mampu bangkit dari keterpurukan, bangun saat terjatuh bahkan saat kembali terjatuh dan dapat berdiri lebih tegak. Air mata ini tentang perjalanan hidup yang begitu berliku namun ku katakan pada liku–liku itu bahwa aku memiliki-Nya yang menuntunku agar tetap mencari jalan yang lurus. Air mata ini tentang selembar ijazah yang kuraih dengan berpeluh keringat. Meninggalkan kebahagiaan demi menemu kemuliaan. Air mata ini tentang debaran hati yang begitu tersentuh melihat papan rumah yatim diseberang jalan. Semoga suatu saat dapat berkumpul di sana, berbagi keceriaan, bernyanyi, melupakan kesedihan dan menggatinya dengan kebahagian. Air mata ini tentang kebersyukuran. Memiliki mata untuk melihat, mulut untuk bicara, tangan untuk menulis, kaki untuk berjalan, telinga untuk mendengar. Air mata ini tentang ketakutan akan kematian yang begitu pasti. Dan ini hanya sedikit tentang air mata yang menghujan begitu deras. Air mata ini hanya sekelumit dari percikan rahmat agar aku tak melupakan-Nya. Air mata ini belum kering. Dan aku bahagia dengan setiap tetesnya.

Enten Miwayani
Medan 6 September 2015

0 komentar:

Posting Komentar