Aku mencintamu,
bagai helaan nafas yang tak kan henti,
sebelum akhirnya benar-benar berhanti
Ini adalah kisah tentangku, tentang
cinta yang entah dimana akan berlabuh. Aku seorang wanita berusia dua puluh
lima tahun, berparas biasa yang tak begitu istimewa. Hanya ada dua lekungan di
pipiku. Mungkin dulu pernah ada meteor yang jatuh di sana hingga membentuk
kawah kecil. Hahaha, anggap saja begitu. Aku adalah puteri musafir dari negeri
antah barantah.
Mengarungi terjalnya aspal hitam tak
berhujung. Melewati gelapnya hutan dan menyelami derasnya ombak kemudian
terombang-ambing yang kadang kala menghempas keras di karang lautan kehidupan.
Terluka, hal yang biasa dalam perjalanan. Namun alam selalu menyediakan penawar
agar luka secepat mungkin mengering. Jika tiba saat terlelah, ku coba untuk
beristirahat. Bertemu dengan ribuan pasang mata, ketika akhirnya perjalanan
memperkenalkanku dengan cinta.
Cinta. Awal yang aku tak mengenalnya.
Makhluk seperti apa itu, atau bagaimana wujudnya. Tak dapat terlihat dengan
sepasang mata indahku. Gelap. Buta. Namun akhirnya aku faham. Bahwa cinta
adalah tak terlihat. Menyapa tanpa disapa. Menyinggahi setiap hati
sekehendaknya. Mengolah asa bersama rasa. Mencari tujuan kemana akan berjalan,
tak banyak yang ku ketahui perihal cinta. Sebab aku bukanlah penyair handal
yang mampu menciptakan devisi baru tentangnya. Sekali lagi, aku adalah musafir cinta. Namaku Maharani. Musafir yang
sedang menyelesaikan studi di Universitas Negeri Medan.
Bangku kuliah mempertemukanku dengan
lelaki bernama Zaki. Pria tampan lagi cerdas. Dia adalah lelaki sederhana yang
baik. Kegiatan OSPEK adalah awal pertama kali kami bertemu. Sampai akhirnya kami
menjadi dekat. Setiap hari bertemu, berdiskusi tentang mata kuliah yang tak
kami mengerti saat kuliah. Tak jarang kami menghabiskan waktu di perpustkaan.
Mengerjakan tugas dan kerap bercanda bersama. Kami, iya kami. Dia dan aku
begitu akrab. Aku bahagia berada di dekatnya. Namun ada getaran dalam hati saat
kami beradu tatap. Dunia seakan berhenti. Lidahku kelu. Jantungku berdegup
kencang. Perasaan apa ini? Namun aku hanya membisu. Mengacuhkan perasaan ini.
Mungkin ini hanya perasaan kagum. Aku tak ingin mengganggu kuliahku dengan
perasaan-perasaan itu. Namun keakraban kami perlahan memudar. Saat Zaki memberi
kabar bahwa dia akan menikah.
“Ran, datanglah ke hari pernikahanku.
Aku akan sangat bahagia jika kamu berkenan hadir.”
“Oh ya, kapan kamu akan menikah?
“Insya Allah bulan depan.”
“Selamat ya, aku bahagia mendengarnya.”
“Insya Allah, aku akan datang.”
“Iyalah, tega amat kamu kalau sampai
tak datang.”
Percakapan seperti apa itu? Siang yang
berlalu dengan derasan hujan menghujam jantung. Semua kubiarkan berlalu. Malam
ingin kutenggelamkan saja diriku pada gelap yang terpaling gelap. Cinta memang
begitu menarik. Tetapi cinta yang salah akan membayar mahal atas segalanya.
Hati, bisakah aku berdamai dengan kenyataan? Dia, lelaki yang ku cinta dalam
diam memintaku untuk hadir di pernikahannya. Oh malam, sekuat itukah aku?
Merelakan orang yang kucinta menikah dengan orang lain. Tak dapat ku hentikan
setiap deraian air mata yang bebas menganak sungai. Sepertinya esok aku enggan
terbangun.
Jika saja kuberanikan diri untuk
berkata jujur, mungkin tak begini jadinya. Kupejamkan mata. Sementara malam
bercengkrama mesra bersama sang ratu. Dalam tidur aku bermimpi tentangnya. Dia
begitu dekat, membelai rambut dan mengecup keningku sembari berkata cinta.
Astagfirullah, dia menangis. Ada apa dengannya. Mengapa ia menangis? Ku tanya sebabnya,
ia hanya diam. Tiba–tiba aku terjaga, tersadar bahwa ini hanya mimpi. Kusegerakan
kaki melangkah ke kamar mandi untuk berwudhu. Kubaca ayat-ayat dengan syahdu.
Hening malam membuat hati begitu mudahnya tersentuh. Bendungan air mataku kembali pecah.kuceritakan
semua pada-Nya.
“ Duhai pemilik hati, aku mencintainya.
Tapi aku malu, apa aku pantas memintanya? Padahal dalam waktu dekat ini ia akan
menikah. Perasaan apa ini? Biarkan aku menyimpan perasaan ini ya Rabbb.
Keadaan membuatku tak berdaya. Cinta
yang katanya indah namun tak indah menurutku. Aku mengurung diriku dalam kamar.
Tetapi sepertinya ibu mengetahui gelagat kesedihanku.
“Nak, apa yang sedang kamu rasakan?
Sepertinya akhir-akhir ini ibu perhatikan kamu lebih banyak mengurung diri di
kamar. Apa kamu ada masalah sayang?”
Kuceritakan perihal yang mengganggu
hatiku kepada ibu. Ibu adalah malaikat yang dikirim Tuhan untuk menjagaku, ia
sangat peka jika ada hal yang terjadi padaku. Kupeluk ibu dengan erat, lalu
kutumpahkan semuanya melalui air mata. Iya, air mata ini adalah kepedihan.
Berkisah tentang cinta yang kusimpam dalam diam. Tentang cinta yang kurajut
dalam balutan do`a untuknya.
“Ibu, maafkan Rani,” jawabku sambil
terisak.
“ Iya, kenapa nak? Ceritakan pada ibu.”
“Rani jatuh cinta.”
“Bukankah jatuh cinta itu manusiawi
nak? Lalu kenapa kamu harus menangis? Ibu, tidak melarang kamu jatuh cinta.
Asal kamu bisa menempatkan diri. Pada siapa kamu harus jatuh cinta. Yang
terpenting adalah, cintalah kamu kepada Dia Sang Pemilik Cinta. Maka kamu akan
berlimpahkan cinta dari orang-orang yang mencintaiNya,” jelas ibu sambil
mencium keningku.
“Tapi bu.”
“Tapi kenapa?”
“Rani jatuh cinta pada sahabat sendiri,
Zaki. Dan dia akan menikah bulan depan.”
“Bukankah ibu sudah pernah
mengingatkanmu, agar kamu dapat mejaga hati. Cinta yang awalnya tiada, akan
hadir ditengah seringnya pertemuan kalian nak. Kalau begitu, tepis rasa itu.
Lupakan dia. Perbanyak membaca al-qur`an dan lebih mendekatlah padaNya. Sebab
hanya dia yang mampu membolak balikan hati manusia. Sudah ah, jangan menangis
lagi. Percaya bahwa sakit itu akan menghilang perlahan jika kamu ikhlas.
Mencintai sesungguhnya adalah ikhlas dan merelakan yang dicinta bersama
cintaya.”
“Ibu…..”
“Sabar ya nak.”
Mendengar penjelasan ibu aku semakin
menangis, perasaan ini sangat menyesakkan dada. Aku berhenti di sini. Di akhir
perjuangan yang katanya sia-sia. Sebab jika ku teruskan hanya akan menyakiti
banyak hati. Besar cintaku tak sebesar nyaliku melawan kehendak orang tuaku.
Menyesal. Iya, aku menyesal tak menghiraukan nasehat ibu. Mungkin Tuhan
membiarkanku salah sebelum akhirnya aku tahu mana yang baik dan mana yang
buruk.
Aku masih mencintanya dalam lembar
tersembunyi direlung tak terjamah. Menyimpannya dalam diam berbalut do`a.
Merelakannya dalam bait kebahagian yang ia rajut. Dan aku tak lagi berharap
untuk sebuah kemungkinan. Meski cinta itu masih membekas. Jika waktu
memperbolehkan aku untuk jujur padanya akan ku katakan padanya “Aku mencintaimu,
dan akan tetap mencintamu.”
Namun takdir berkata lain. Sejak Zaki
mengatakan akan menikah, aku perlahan menghindar darinya. Suasana bersama tak
lagi ada. Aku lebih sering menghabiskan waktu sendiri, membeli dan membaca buku
di toko buku. Sesekali aku pergi ke taman kota, menikmati alam ditengah kota,
air mancur indah penyejuk hati, menenangkan hati di mushollah, lalu duduk di
pinggir sungai kecil. Jika bosan, aku pergi ke alun-alun di kota Medan namanya
Lapangan Merdeka. Sesudahnya aku pulang. Begitu setiap harinya. Suatu ketika
usai perkuliahan Zaki mencariku. Aku berlari agar dia tak menemukannku. Namun
aku gagal menghindar. Dia berhasil menemukankku.
“Ran, kamu kemana saja? Aku mencarimu
kemana-mana. Alhamdulillah akhirnya aku menemukanmu juga. Aku sedang dalam
masalah besar. Entahlah, siapa yang bisa membantuku.”
“Ada apa Zak?”
“Aku sedih Ran, calon istriku.”
“Kenapa? Ada masalah?”
“Iya, calon istriku sedang koma.
Sekarang sedang dirawat di rumah sakit Pringadi. Kemarin pagi dia terjatuh di
kamar mandi. Kata dokter ada penyumbatan pembuluh darah di kepalanya.” Zaki tak
tahan menahan air matanya. Ya Rabb, cobaan apa ini? Kenapa harus aku yang
merasaknnya,” isak Zaki.
“Sabar Zak, semua pasti ada hikmanya.
Allah sedang menyiapkan rencana indah setelah ini. Betapapun sakitnya hidup
tetap Allah memberi penawar untuk segala pesakitan.”
“ Thank`s ya Ran, kamu sahabat paling
setia yang aku miliki.”
“Iya, sama-sama. Jangan lebay ah. Biasa
aja. Bukankah ini hal biasa yang kita lakukan kala bersama,”sambutku sambil
tersenyum.
“Oh iya, setelah ini kamu mau kemana?”
“Mau langsung pulang saja.”
“ Mau ikut gak ke rumah sakit? Soalnya
aku mau kerumah sakit nih.”
“Mau, kalau kamu berkenan.”
“Pastilah, gimana sich, kan yang ajak
aku. Masak ndak berkenan.”
“Iya…iya....bercanda kali.”
Kami menuju parkiran dan langsung
menuju ke rumah sakit. Dalam perjalanan aku tidak banyak bicara. Aku lebih
banyak diam sembari membaca buku. Dan Zaki mendengarkan lagu dari radio. Entah
apa yang yang kurasakan saat ini. Senang, masa iya aku tega. Bahagia di atas
penderitaan orang yang kucinta. Sedih, iya. Aku sedih. Karena tak kuasa melihat
Zaki menagis untuk cintanya yang sedang sakit. Jika saja wanita itu adalah aku,
entah bahagia seperti apa yang kurasakan. Dalam hatiku tersimpan cemburu, namun
aku tak mau menjadi manusia egois. Aku akan tetap bersikap biasa saja. Aku tak
mau menunjukkan perihal rasa yang terpaut dalam hati. Cukup hanya Dia yang tau,
Sang pemilik Hati. Kukatakan sekali lagi dalam hati, aku mencintaimu meski
hanya dalam diam.
***

0 komentar:
Posting Komentar