topbella

Rabu, 30 September 2015

***AKU MENCINTAIMU***


Aku  mencintamu,
bagai helaan nafas yang tak kan henti,
sebelum akhirnya benar-benar berhanti

Ini adalah kisah tentangku, tentang cinta yang entah dimana akan berlabuh. Aku seorang wanita berusia dua puluh lima tahun, berparas biasa yang tak begitu istimewa. Hanya ada dua lekungan di pipiku. Mungkin dulu pernah ada meteor yang jatuh di sana hingga membentuk kawah kecil. Hahaha, anggap saja begitu. Aku adalah puteri musafir dari negeri antah barantah.
Mengarungi terjalnya aspal hitam tak berhujung. Melewati gelapnya hutan dan menyelami derasnya ombak kemudian terombang-ambing yang kadang kala menghempas keras di karang lautan kehidupan. Terluka, hal yang biasa dalam perjalanan. Namun alam selalu menyediakan penawar agar luka secepat mungkin mengering. Jika tiba saat terlelah, ku coba untuk beristirahat. Bertemu dengan ribuan pasang mata, ketika akhirnya perjalanan memperkenalkanku dengan cinta.
Cinta. Awal yang aku tak mengenalnya. Makhluk seperti apa itu, atau bagaimana wujudnya. Tak dapat terlihat dengan sepasang mata indahku. Gelap. Buta. Namun akhirnya aku faham. Bahwa cinta adalah tak terlihat. Menyapa tanpa disapa. Menyinggahi setiap hati sekehendaknya. Mengolah asa bersama rasa. Mencari tujuan kemana akan berjalan, tak banyak yang ku ketahui perihal cinta. Sebab aku bukanlah penyair handal yang mampu menciptakan devisi baru tentangnya. Sekali lagi, aku adalah  musafir cinta. Namaku Maharani. Musafir yang sedang menyelesaikan studi di Universitas Negeri Medan.
Bangku kuliah mempertemukanku dengan lelaki bernama Zaki. Pria tampan lagi cerdas. Dia adalah lelaki sederhana yang baik. Kegiatan OSPEK adalah awal pertama kali kami bertemu. Sampai akhirnya kami menjadi dekat. Setiap hari bertemu, berdiskusi tentang mata kuliah yang tak kami mengerti saat kuliah. Tak jarang kami menghabiskan waktu di perpustkaan. Mengerjakan tugas dan kerap bercanda bersama. Kami, iya kami. Dia dan aku begitu akrab. Aku bahagia berada di dekatnya. Namun ada getaran dalam hati saat kami beradu tatap. Dunia seakan berhenti. Lidahku kelu. Jantungku berdegup kencang. Perasaan apa ini? Namun aku hanya membisu. Mengacuhkan perasaan ini. Mungkin ini hanya perasaan kagum. Aku tak ingin mengganggu kuliahku dengan perasaan-perasaan itu. Namun keakraban kami perlahan memudar. Saat Zaki memberi kabar bahwa dia akan menikah.
“Ran, datanglah ke hari pernikahanku. Aku akan sangat bahagia jika kamu berkenan hadir.”
“Oh ya, kapan kamu akan menikah?
“Insya Allah bulan depan.”
“Selamat ya, aku bahagia mendengarnya.”
“Insya Allah, aku akan datang.”
“Iyalah, tega amat kamu kalau sampai tak datang.” 
Percakapan seperti apa itu? Siang yang berlalu dengan derasan hujan menghujam jantung. Semua kubiarkan berlalu. Malam ingin kutenggelamkan saja diriku pada gelap yang terpaling gelap. Cinta memang begitu menarik. Tetapi cinta yang salah akan membayar mahal atas segalanya. Hati, bisakah aku berdamai dengan kenyataan? Dia, lelaki yang ku cinta dalam diam memintaku untuk hadir di pernikahannya. Oh malam, sekuat itukah aku? Merelakan orang yang kucinta menikah dengan orang lain. Tak dapat ku hentikan setiap deraian air mata yang bebas menganak sungai. Sepertinya esok aku enggan terbangun.
Jika saja kuberanikan diri untuk berkata jujur, mungkin tak begini jadinya. Kupejamkan mata. Sementara malam bercengkrama mesra bersama sang ratu. Dalam tidur aku bermimpi tentangnya. Dia begitu dekat, membelai rambut dan mengecup keningku sembari berkata cinta. Astagfirullah, dia menangis. Ada apa dengannya. Mengapa ia menangis? Ku tanya sebabnya, ia hanya diam. Tiba–tiba aku terjaga, tersadar bahwa ini hanya mimpi. Kusegerakan kaki melangkah ke kamar mandi untuk berwudhu. Kubaca ayat-ayat dengan syahdu. Hening malam membuat hati begitu mudahnya tersentuh.  Bendungan air mataku kembali pecah.kuceritakan semua pada-Nya.
“ Duhai pemilik hati, aku mencintainya. Tapi aku malu, apa aku pantas memintanya? Padahal dalam waktu dekat ini ia akan menikah. Perasaan apa ini? Biarkan aku menyimpan perasaan ini ya Rabbb.  
Keadaan membuatku tak berdaya. Cinta yang katanya indah namun tak indah menurutku. Aku mengurung diriku dalam kamar. Tetapi sepertinya ibu mengetahui gelagat kesedihanku.
“Nak, apa yang sedang kamu rasakan? Sepertinya akhir-akhir ini ibu perhatikan kamu lebih banyak mengurung diri di kamar. Apa kamu ada masalah sayang?”
Kuceritakan perihal yang mengganggu hatiku kepada ibu. Ibu adalah malaikat yang dikirim Tuhan untuk menjagaku, ia sangat peka jika ada hal yang terjadi padaku. Kupeluk ibu dengan erat, lalu kutumpahkan semuanya melalui air mata. Iya, air mata ini adalah kepedihan. Berkisah tentang cinta yang kusimpam dalam diam. Tentang cinta yang kurajut dalam balutan do`a untuknya.
“Ibu, maafkan Rani,” jawabku sambil terisak.
“ Iya, kenapa nak? Ceritakan pada ibu.”
“Rani jatuh cinta.”
“Bukankah jatuh cinta itu manusiawi nak? Lalu kenapa kamu harus menangis? Ibu, tidak melarang kamu jatuh cinta. Asal kamu bisa menempatkan diri. Pada siapa kamu harus jatuh cinta. Yang terpenting adalah, cintalah kamu kepada Dia Sang Pemilik Cinta. Maka kamu akan berlimpahkan cinta dari orang-orang yang mencintaiNya,” jelas ibu sambil mencium keningku.
“Tapi bu.”
“Tapi kenapa?”
“Rani jatuh cinta pada sahabat sendiri, Zaki. Dan dia akan menikah bulan depan.”
“Bukankah ibu sudah pernah mengingatkanmu, agar kamu dapat mejaga hati. Cinta yang awalnya tiada, akan hadir ditengah seringnya pertemuan kalian nak. Kalau begitu, tepis rasa itu. Lupakan dia. Perbanyak membaca al-qur`an dan lebih mendekatlah padaNya. Sebab hanya dia yang mampu membolak balikan hati manusia. Sudah ah, jangan menangis lagi. Percaya bahwa sakit itu akan menghilang perlahan jika kamu ikhlas. Mencintai sesungguhnya adalah ikhlas dan merelakan yang dicinta bersama cintaya.”
“Ibu…..”
“Sabar ya nak.”
Mendengar penjelasan ibu aku semakin menangis, perasaan ini sangat menyesakkan dada. Aku berhenti di sini. Di akhir perjuangan yang katanya sia-sia. Sebab jika ku teruskan hanya akan menyakiti banyak hati. Besar cintaku tak sebesar nyaliku melawan kehendak orang tuaku. Menyesal. Iya, aku menyesal tak menghiraukan nasehat ibu. Mungkin Tuhan membiarkanku salah sebelum akhirnya aku tahu mana yang baik dan mana yang buruk.
Aku masih mencintanya dalam lembar tersembunyi direlung tak terjamah. Menyimpannya dalam diam berbalut do`a. Merelakannya dalam bait kebahagian yang ia rajut. Dan aku tak lagi berharap untuk sebuah kemungkinan. Meski cinta itu masih membekas. Jika waktu memperbolehkan aku untuk jujur padanya akan ku katakan padanya “Aku mencintaimu, dan akan tetap mencintamu.”


Namun takdir berkata lain. Sejak Zaki mengatakan akan menikah, aku perlahan menghindar darinya. Suasana bersama tak lagi ada. Aku lebih sering menghabiskan waktu sendiri, membeli dan membaca buku di toko buku. Sesekali aku pergi ke taman kota, menikmati alam ditengah kota, air mancur indah penyejuk hati, menenangkan hati di mushollah, lalu duduk di pinggir sungai kecil. Jika bosan, aku pergi ke alun-alun di kota Medan namanya Lapangan Merdeka. Sesudahnya aku pulang. Begitu setiap harinya. Suatu ketika usai perkuliahan Zaki mencariku. Aku berlari agar dia tak menemukannku. Namun aku gagal menghindar. Dia berhasil menemukankku.
“Ran, kamu kemana saja? Aku mencarimu kemana-mana. Alhamdulillah akhirnya aku menemukanmu juga. Aku sedang dalam masalah besar. Entahlah, siapa yang bisa membantuku.”
“Ada apa Zak?”
“Aku sedih Ran, calon istriku.”
“Kenapa? Ada masalah?”
“Iya, calon istriku sedang koma. Sekarang sedang dirawat di rumah sakit Pringadi. Kemarin pagi dia terjatuh di kamar mandi. Kata dokter ada penyumbatan pembuluh darah di kepalanya.” Zaki tak tahan menahan air matanya. Ya Rabb, cobaan apa ini? Kenapa harus aku yang merasaknnya,” isak Zaki.
“Sabar Zak, semua pasti ada hikmanya. Allah sedang menyiapkan rencana indah setelah ini. Betapapun sakitnya hidup tetap Allah memberi penawar untuk segala pesakitan.”
“ Thank`s ya Ran, kamu sahabat paling setia yang aku miliki.”
“Iya, sama-sama. Jangan lebay ah. Biasa aja. Bukankah ini hal biasa yang kita lakukan kala bersama,”sambutku sambil tersenyum.
“Oh iya, setelah ini kamu mau kemana?”
“Mau langsung pulang saja.”
“ Mau ikut gak ke rumah sakit? Soalnya aku mau kerumah sakit nih.”
“Mau, kalau kamu berkenan.”
“Pastilah, gimana sich, kan yang ajak aku. Masak ndak berkenan.”
“Iya…iya....bercanda kali.”
Kami menuju parkiran dan langsung menuju ke rumah sakit. Dalam perjalanan aku tidak banyak bicara. Aku lebih banyak diam sembari membaca buku. Dan Zaki mendengarkan lagu dari radio. Entah apa yang yang kurasakan saat ini. Senang, masa iya aku tega. Bahagia di atas penderitaan orang yang kucinta. Sedih, iya. Aku sedih. Karena tak kuasa melihat Zaki menagis untuk cintanya yang sedang sakit. Jika saja wanita itu adalah aku, entah bahagia seperti apa yang kurasakan. Dalam hatiku tersimpan cemburu, namun aku tak mau menjadi manusia egois. Aku akan tetap bersikap biasa saja. Aku tak mau menunjukkan perihal rasa yang terpaut dalam hati. Cukup hanya Dia yang tau, Sang pemilik Hati. Kukatakan sekali lagi dalam hati, aku mencintaimu meski hanya dalam diam.

***

0 komentar:

Posting Komentar