topbella

Rabu, 07 Oktober 2015

Jangankan Menghafal, Mengejanya Saja...

Usai pemakaman, kami beranjak meninggalkann tempat yang di sebut rumah masa depan. Aku dan adikku Siti, bergegas meninggalan tempat itu. Di tengah perjalanan, aku dan Siti sempat berbincang-bincang soal kematian.


 "Dik, mbak takut, kalau ingat soal kematian. Oh iya dek, emang bener ya ada jenazah yang tidak membusuk. katanya bahkan sudah puluhan tahun, jasadnya masih utuh dan bersih sama seperti pertama dimakamkan. Emang itu bener dek?" 
"Bener mbak, itu nyata. Dulu Siti pernah masuk pesantren penghafal Al Qur'an. Nah mbak, salah satu jasad yang tidak hancur itu contohnya penghafal Al-Qur'an. Allah swt mengharamkan semua hewan menggerogoti tubuh si penghafal Al Qur'an itu mbak."
"Dek, Jangankan menghafal, membacanya saja mbak tidak bisa. Berarti nanti kalau mbak mati, jasad mbak membusuk dong, dimakan ular adn binatang-binatang lainnya. Mbak takut dek."

Bermula dari percakapan itu aku mulai mendekatkan diri dengan Al-Quran. Entah apa yang membuatku takut dengan kegelapan dan kesempitan itu. Rasanya aku ingin menangis. Ya RAbb...membacanya saja aku tak bisa, bagaimana menghafalnya. Tuhanku begitu ramah dan romatis menegurku dengan berbagai macam bentuk kematian. Bendera kuning yang tertancap di depan gang tempat tinggalku mengingatkanku akan kematian. Tak lama kemudian, kematian Ustad UJE yang tersiar di televisi kembali menegurku. Masih banyak yang membuatku begitu takut dengan kematian. Entah apa yang sudah kupersiapkan untuk hal yang abadi itu. Ketika kelak bertemu dengan-Nya datang tergopoh -gopoh dengan wajah yang hitam melegam. Allahhu rabby......

Ya Rabb, izinkan aku untuk kembali belajar. Hilangkan rasa maluku, agar aku tetap semangat mengeja setiap kalam-Mu. Aku ingin bisa. Aku malu. Aku takut, kegelapan itu... setidaknya aku punya sedikit sinar dari kalam-Mu yang menemaniku kelak.

0 komentar:

Posting Komentar